Yassiru wa laa tu\’assiruu (Permudah dan jangan persulit)

Kewajiban dalam agama ada dua, yaitu; kewajiban yang bersifat aini (wajib dikerjakan oleh setiap orang) dan kewajiban yang bersifat kifaa\’i (wajib dikerjakan oleh beberapa orang yang cukup). Salah satu karakter yang dimiliki oleh kewajiban aini adalah bahwa tanda wajibnya pun adalah hal yang dapat diketahui oleh setiap orang. Contohnya shalat. Tanda wajibnya adalah matahari yang tentu dapat didilihat oleh setiap orang, hingga dapat diketahui oleh setiap mereka. Coba kita bayangkan jika tanda awal wajibnya shalat itu, pengetahuannya hanya didominasi oleh golongan tertentu saja, ahli falak, -misalnya-. Tentu agama ini akan menjadi hal yang sangat memberatkan. Dan tentu menjadi ahli falak, pun akan menjadi wajib aini, karena ;

ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب

\”Hukum sebuah pekerjaan yang tidak akan sempurna sebuah kewajiban kecuali dengannya adalah wajib.\”. Namun ketika agama menetapkan bahwa awal wajibnya melaksanakan shalat Dzhuhur –misalnya- adalah ketika matahari telah tergelincir ke arah terbenamnya, maka tentu hal ini adalah sebuah pertanda yang dapat disaksikan dan diketahui oleh setiap orang, apapun jenjang pendidikannya. Hal ini –sekaligus- merupakan satu diantara bukti kemudahan Islam dan bahwa seluruh ajarannya adalah sesuai dengan seluruh lapisan orang dengan berbagai jenjang intelekktualnya.

Contoh lainnya adalah puasa Ramadhan. Kapan seorang wajib mulai berpuasa dan kapan berbuka puasa ?. Agama memberikan jawaban yang sangat mudah, dan –sekali lagi- bisa diketahui oleh setiap manusia dengan keragaman tingkat intelektual yang dimilikinya. Allah berfirman;

{وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ} [البقرة: 187]

\”Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.\”. (al Baqarah; 187).

Diantara contoh lainnya –masih berkenaan dengan puasa Ramadhan- adalah penentuan awal Ramadhan dan akhirnya. Lagi-lagi –untuk mengetahuinya- Rasulullah -shallallahu \’alaihi wa sallam- telah memberikan kunci yang sangat mudah dan dapat diketahui oleh setiap orang, apapun jenjang intelektual yang dimilikinya. Kunci yang dimaksud adalah sabda Beliau shallallahu \’alaihi wa sallam-;

الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا – ثُمَّ عَقَدَ إِبْهَامَهُ فِى الثَّالِثَةِ – فَصُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ أُغْمِىَ عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوا لَهُ ثَلاَثِينَ

\”Jumlah hari dalam setiap bulan itu terkadang 29 dan terkadang pula 30 hari. Olehnya berpuasalah ketika melihat hilal dan berlebaranlah ketika melihat hilal. Apabila hilal terhalang oleh awan, maka sempurnakanlah hitungan hari menjadi 30. (HR. Muslim). Nah, bukankah kunci jawaban ini adalah sangat jelas dan mudah ?. Kemudahan tersebut akan menjadi lebih jelas dengan sabda Beliau yang lainnya;

إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ لَا نَكْتُبُ وَلَا نَحْسُبُ الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا

\”Sesungguhnya kami ini adalah ummat yang tidak menulis dan tidak menghitung. Jumlah hari setiap bulan itu terkadang 29 dan terkadang pula 30 hari.\”. (HR. Bukhari). Hadits ini tidak sama sekali menafikan keberadaan orang-orang yang mampu membaca dan menghitung (perputaran jam, hari dan bulan) dari ummat ini. Tetapi hadits ini hendak mengabarkan kepada ummat bahwa untuk mengetahui awal masuk dan keluarnya Ramadhan bukanlah perkara yang hanya merupakan dominasi kalangan tertentu. Tetapi perkara tersebut adalah perkara yang tidaklah sulit dan setiap orang dari ummat ini bisa melakukannya.

Nah, bukankah agama ini mudah. Maka maha suci Allah yang tidak menghendaki kesukaran bagi ummat. Justru Ia menginginkan kemudahan bagi mereka. Olehnya, alhamdulillah Rabbi al \’alamin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top

Kegiatan Perkuliahan
3 Maret 2026

Silakan menyimak lanjutan penjelasan mengenai “Dunia Islam di Masa Keemasan” melalui tautan YouTube ini.

Setelah menyimak materi tersebut, lakukan analisis dengan menjawab pertanyaan berikut:

  1. Apa saja faktor-faktor yang menjadi penyebab kebangkitan dunia Islam pada tiga masa keemasan tersebut?
  2. Apa saja faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran dunia Islam pada masing-masing masa tersebut?

Untuk mempertajam analisis, silakan membaca kembali materi perkuliahan sebelumnya sebagai bahan pendukung.

Tuliskan hasil analisis Anda pada kolom komentar YouTube dari video yang telah disimak!
Jangan lupa mencantumkan inisial nama di bagian akhir komentar.