Downloade, klik http://www.scribd.com/doc/19092440/albaqarah2?secret_password=2liglo4rcveniiwuixfa
ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ [البقرة/2]
Kitab (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya;
petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,
Beberapa Faidah
a. Hikmah penamaan al Quran dengan sebutan al Kitaab
b. Keutamaan yang dimiliki oleh orang-orang yang beriman dan bertakwa
c. Satu kaidah dalam memahami nama dan sifat-sifat Allah
d. Fungsi al Quran sebagi kitab petunjuk
e. Defenisi “takwa”
Penjelasan
a. Hikmah penamaan al Quran dengan sebutan al Kitaab
Dalam ayat ini, Allah ta\’ala menamakan Al Quran dengan \’Al Kitab\’ yang berarti yang ditulis, sebagai isyarat –wallahu a\’lam- bahwa al Quran diperintahkan untuk ditulis.
b. Keutamaan yang dimiliki oleh orang-orang yang beriman dan bertakwa
Dalam ayat ini –pula- Allah ta\’ala menginformasikan kepada manusia akan keutamaan yang dimiliki oleh orang-orang beriman dan bertakwa, dimana Allah mengkhususkan mereka sebagai orang-orang pilihan yang mendapatkan petunjuk dengan al Quran. Adapun orang-orang selain mereka, maka al Quran tidak lain adalah hujjah yang akan melempar mereka kepada kesengsaraan abadi nan kekal. Allah –ta\’ala- berfirman tentang fungsi al Quran;
قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ وَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِي آذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى أُولَئِكَ يُنَادَوْنَ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ [فصلت : 44]
“Katakanlah: \”Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin, dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh.\”. (Fushshilat; 44)
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآَنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا [الإسراء/82]
“Dan kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.”. (al Israa’; 82)
وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ [الشورى/52]
“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur\’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur\’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur\’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”. (asy Syuura; 52)
c. Satu kaidah dalam memahami nama dan sifat-sifat Allah
Dari ayat ini dipetik sebuah kaidah dalam memahami nama dan sifat-sifat Allah, yaitu;
النفي المقصود به المدح يستلزم إثبات ضده
\”Penafian terhadap suatu nama atau sifat dari sesuatu yang ditujukan sebagai bentuk pujian terhadap sesuatu itu berkonsukwensi pada penetapan lawan (kebalikan) dari sifat yang dinafikan tersebut.\”. Dalam ayat ini, Allah menafikan adanya keraguan terhadap keotentikan al Quran sebagai kitab suci yang benar berasal dari Allah. Maka konsukwensi dari penafian tersebut adalah penetapan bahwa al Quran adalah kitab yang benar berasal dari Allah, sebagaimana firman-Nya;
وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌ (41) لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ [فصلت/41، 42]
“Dan Sesungguhnya Al Quran itu adalah Kitab yang mulia. Yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.”. (Fushshilat; 41-42)
d. Fungsi al Quran sebagi kitab petunjuk
Dalam ayat ini dinyatakan pula bahwa Al Quran adalah kitab pembawa hidayah bagi orang-orang bertakwa. Hidayah adalah petunjuk ke jalan Allah. Oleh ulama, hidayah dibagi menjadi dua bagian, yaitu; hidayah yang berupa penjelasan dan hidayah yang berupa keimanan. Hidayah yang berupa penjelasan adalah jenis hidayah yang mungkin diberikan oleh siapa saja, kepada siapa saja yang memerlukannya, sebagaimana firman-Nya;
وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيم [الشورى/52]
“Dan Sesungguhnya kamu (wahai Muhammad –shallallahu ’alaihi wa sallam-) benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”. (as Syuura; 52)
Adapun jenis hidayah yang kedua, maka ia merupakan hak paten Allah, yang tidak dimiliki oleh siapapun makhluk di alam ini, sebagaimana firman-Nya kepada Rasulullah –shallallahu \’alaihi wa sallam- yang sangat menginginkan keislaman bagi pamannya –yaitu Abu Thalib- yang tengah berada dalam sakratul maut;
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِين [القصص/56]
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”. (al Qashash; 56)
لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ [البقرة/272]
“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya.”. (al Baqarah; 272)
وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِين [يوسف/103]
“Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman -walaupun kamu sangat menginginkannya-.”. (Yusuf; 103)
Kedua jenis hidayah ini mutlak dimiliki oleh seorang beriman agar ia bisa sampai kepada Allah dengan selamat. Allah berfirman;
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا [الكهف/110]
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.”. (al Kahfi; 110). Dalam ayat ini, Allah ta\’ala menyatakan bahwa syarat seorang dapat berjumpa dengan Allah –kelak dalam keadaan selamat- yaitu ikhlas -yang baru akan dimiliki dengan hidayah jenis pertama-, dan dengan melakukan amal shaleh –yang baru dapat diperoleh dengan hidayah jenis kedua yang berupa penjelasan dan ilmu-.
Adapun orang-orang yang hanya berjalan dengan salah satu dari dua hidayah yang telah disebutkan, maka keadaannya tidak lepas dari dua hal; mungkin mereka akan masuk ke dalam golongan orang-orang yang sesat, yaitu orang-orang yang beragama tanpa landasan ilmu; atau mungkin mereka masuk ke dalam golongan kedua, yaitu orang-orang yang berilmu tetapi tidak mendapatkan hidayah untuk beramal dengan ilmu yang ia miliki. Semoga Allah ta\’ala melindungi diri kami yang lemah ini dan kaum muslimin seluruhnya dari golongan-golongan itu.
e. Defenisi “takwa”
Dalam ayat ini –sebagaimana telah disebutkan- terdapat informasi akan keutamaan yang dimiliki oleh orang-orang beriman dan bertakwa. Kata \’takwa\’ itu diartikan dengan berbagai macam defenisi, diantaranya adalah pernyataan Talq bin Habib –rahimahullah-;
أن تعمل بطاعة الله على نور من نور الله رجاء ثواب الله ، والتقوى ترك معاصي الله على نور من الله خوف عقاب الله
\”Engkau melakukan ketaatan kepada Allah berdasarkan cahaya Allah (ilmu) dengan berharap pahala dari Allah, dan engkau meninggalkan maksiat kepada Allah berdasarkan cahaya Allah dengan dasar rasa takut kepada-Nya.\”[1].
Demikianlah diantara pengertian takwa, namun dalam ayat ini dijelaskan pengertian kata ini dengan menyebutkan beberapa karakter yang dimiliki oleh mereka. Dari sini pula diketahui bahwa penafsiran al Quran dapat melalui beberapa jalan secara berurut, yaitu;
v Penafsiran al Quran dengan al Quran, seperti pada ayat ini.
v Penafsiran al Quran dengan sunnah.
v Penafsiran al Quran dengan penafsiran para sahabat, tabi\’ien dan at baut taabi\’en.
Penafsiran al Quran dengan bahasa Arab.
[1] Al Ibaanah al Kubra, oleh Ibnu Baththah, (2/285)