al \’Isyq

 

Cinta (al mahabbah) …

 

Topik pembicaraan tentang cinta adalah hal yang selalu hangat. Tidak seorangpun yang mendengarnya, melainkan hatinya akan terpanggil menengok ada apa gerangan dengan cinta.

 

Ternyata, cinta adalah sesuatu yang variatif, tidak satu jenis saja. Salah satu jenis cinta adalah apa yang diistilahkan dengan sebutan (al ‘isyqu), yang -mungkin- dalam bahasa kita sepadan dengan istilah ‘cinta buta’. Olehnya maka imam Ibnu al Qayyim –rahimahullah- setelah menyebutkan beberapa peristilahan lain dari kata ‘al mahabbah’ (cinta) –diantaranya adalah ‘al isyqu’-, Beliau lantas menjelaskan detail pengertian dari kata tersebut dengan mengatakan;

وأما العشق فهو أمر هذه الأسماء وأخبثها وقل ما ولعت به العرب وكأنهم ستروا اسمه وكنوا عنه بهذه الأسماء … وإنما أولع به المتأخرون ولم يقع هذا اللفظ في القرآن ولا في السنة

“Adapun istilah ‘al isyqu’, maka istilah ini adalah seburuk-buruk jenis ‘al mahabbah’ (cinta). Orang Arab (terdahulu) jarang menggunakannya dan seakan mereka ingin menyembunyikannya dengan menggantinya dengan kata lain sebagai kinayah dari istilah tersebut … Kata ini baru populer digunakan oleh generasi yang datang belakangan. Namun istilah ini tidaklah dipergunakan dalam bahasa al Quran dan tidak pula digunakan dalam bahasa sunnah (yang shahih).” .


Jenis-Jenis al ‘Isyqu

 

Al Isyqu tentu terjadi jika ada jalinan kasih yang berpadu antara subjek yang mencintai dan objek yang dicintai. Olehnya itu, maka ‘al isyqu’ ini dibagi ke dalam tiga kategori;

  1. Cinta buta, yang bersumber dari seorang laki-laki kepada seorang wanita. Inilah makna asal, yang akan pertama kali dipahami dari pengungkapan kata ‘al isyqu’; dan dalam realita, cinta buta jenis inilah yang banyak terjadi.
  2. Cinta buta, yang bersumber dari seorang wanita kepada seorang laki-laki. Cinta buta jenis ini, meskipun terjadi di masyarakat, namun tidaklah sebanyak jenis cinta buta yang pertama. Hal ini disebabkan karena sifat dasar yang dimiliki oleh seorang wanita itu adalah malu.
  3. Cinta buta, yang bersumber dari seorang laki-laki kepada sesama jenisnya, dan demikian pula sebaliknya. Jenis cinta semacam ini tidaklah dimiliki, melainkan oleh seorang yang memiliki penyimpangan dalam akhlak dan kepribadian.

 

Malapetaka Dari Cinta Buta

 

Cinta … -kata orang- dapat membuat seorang lupa daratan. Pernyataan ini, sungguh amat senada dengan pernyataan para ulama kita tentang hakikat cinta buta (al ‘isyqu). Imam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- berkata;

العشق هو فساد الإدراك، والتخيل والمعرفة; فإن العاشق يخيل له المعشوق على خلاف ما هو به، حتى يصيبه ما يصيبه من داء العشق. ولو أدركه على الوجه الصحيح لم يبلغ إلى حد العشق وإن حصل له محبة وعلاقة

“Al ‘isyqu adalah gambaran dari kerancuan dan rusaknya pola pikir seseorang. Seorang yang tengah dimabuk asmara akan memandang seorang yang dicintainya itu tidak sebagaimana kenyataan yang benar tentang orang tersebut. Cinta buta telah menggerogoti pola pikirnya. Seandainya saja ia mampu mengarahkan cintanya itu secara benar, maka tentu ia tidak akan sampai dimabuk asmara (cinta buta), meskipun ada hubungan yang terjalin dan perasaan cinta yang lekat.” .

 

Beberapa ahli hikmah berkata;

الجنون فنون، والعشق من فنونه

“Gila itu variatif, dan salah satu percabangannya adalah cinta buta (al ‘isyqu).”. Sebagian lagi berkata;

وكم من عاشق أتلف في معشوقه ماله، وعرضه، ونفسه، وضَيَّع أهله، ومصالحَ دينِه ودنياه

“Begitu banyak orang yang lagi dimabuk cinta rela menghabiskan harta, mengorbankan reputasi, jiwa, keluarga, dan seluruh kebaikan agama serta dunianya, -hanya- untuk mendapatkan cinta dari sang kekasih.” . Pernyataan ini, bila dihubungkan dengan sabda Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam

مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ

\”Tidaklah saya melihat seorang yang kurang akal dan agamanya, yang lebih mampu untuk memperdaya seorang laki-laki yang kuat dan tegar sekalipun melainkan salah seorang dari kalian (wanita).” ; sungguh pernyataan tersebut sangat sesuai dengan sabda Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- ini, di mana dapat disaksikan dalam realita keseharian, begitu banyak kaum laki-laki yang terjajah oleh kaum wanita. Mereka bersedia untuk mengorbankan apa saja yang mereka miliki untuk mendapatkan cinta sang wanita pujaan hatinya. Olehnya itu, maka dinyatakan bahwa

العشق يترك الملك مملوكاً، والسلطان عبداً

“Cinta buta itu akan menjadikan seorang raja sebagai budak.”.

 

Menegaskan malapetaka yang akan timbul akibat ‘cinta buta’ dan keutamaan orang-orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya serta mengarahkannya kepada hal yang diridhai Allah, imam Ibnu al Qayyim -rahimahullah- berkata;

ومحبة الصور المحرمة وعشقها من موجبات الشرك، وكلما كان العبد أقرب إلى الشرك، وأبعد من الإخلاص كانت محبته بعشق الصور أشد. وكلما كان أكثر إخلاصاً، وأشدّ توحيداً كان أبعد من عشق الصور. ولهذا أصاب امرأة العزيز ما أصابها من العشق; لشركها، ونجا منه يوسف الصديق _عليه السلام_ بإخلاصه. قال_تعالى _: [ كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ ] (يوسف: 24). فالسوء: العشق، والفحشاء: الزنا; فالمخلص قد خَلُص حُبُّه لله، فخلَّصه الله من فتنة عشق الصور. والمشرك قلبه متعلق بغير الله، فلم يخلص توحيده وحبه لله_عز وجل

“Kecintaan dan ketergantungan hati terhadap hal yang diharamkan adalah hal yang dapat menggiring seseorang kepada kesyirikan. Semakin dekat seorang dengan kesyirikan dan semakin jauh ia dengan keikhlasan, maka semakin lekat pula kecintaan dan ketergantungannya terhadap perkara yang diharamkan. Sebaliknya, semakin baik keikhlasan dan tauhidnya, maka ia pun akan semakin jauh dari kecintaan dan keterpautan hati terhadap hal-hal yang diharamkan Allah. Oleh karena itu, maka istri sang pembesar pun terfitnah dengan Yusuf –‘alihissallaam- disebabkan karena penyakit ini, karena adanya kesyirikan di dalam hatinya. Adapun nabiullah Yusuf –alaihissalaam-, maka Beliau selamat dari fitnah tersebut karena keikhlasannya kepada Allah. Allah -ta’ala- berfirman; [Demikianlah, agar Kami memalingkan dari Yusuf ‘as suu’ (kemungkaran) dan ‘al fahsyaa’ (kekejian). Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih (diselamatkan).]. Maksud dari kata (‘as suu’) adalah al ‘isyqu (cinta buta), sedangkan maksud dari kata (al fahsyaa’) adalah zina. Maka seorang yang ikhlas, niscaya Allah akan menyelamatkannya dari fitnah berupa kecintaan dan ketergantungan hati terhadap hal yang diharamkan Allah. Adapun orang musyrik, maka hatinya senantiasa terpaut dengan selain Allah, maka kecintaan dan tauhidnya pun tidaklah tulus kepada Allah.” .

 

Demikianlah gambaran umum dari malapetaka yang diakibatkan oleh penyakit al ‘isyqu (cinta buta yang berlebihan).

 

Beberapa Faktor Pemicu Munculnya Penyakit ‘Isyqu

 

  1. Berpaling dari Allah -ta’ala-

Hidayah Allah adalah cahaya yang tidak akan diberikan melainkan kepada orang-orang yang senantiasa taat kepada-Nya.

  1. Tidak tahu akan dampak negative yang ditimbulkan oleh penyakit ini.

Mengetahui dampak negative yang akan timbul dari sebuah kejahatan adalah diantara hal terbesar yang dapat menghalangi orang tersebut dari perilaku menyimpangnya itu.

  1. Hati yang hampa dari kecintaan kepada Allah.

Imam Ibnu al Qayyim -rahimahullah- berkata;

وَعِشْقُ الصّوَرِ إنّمَا تُبْتَلَى بِهِ الْقُلُوبُ الْفَارِغَةُ مِنْ مَحَبّةِ اللّهِ تَعَالَى الْمُعْرِضَةُ عَنْهُ الْمُتَعَوّضَةُ بِغَيْرِهِ عَنْهُ فَإِذَا امْتَلَأَ الْقَلْبُ مِنْ مَحَبّةِ اللّهِ وَالشّوْقِ إلَى لِقَائِهِ دَفَعَ ذَلِكَ عَنْهُ مَرَضَ عِشْقِ الصّوَرِ

“Kecintaan dan keterpautan hati akan perkara yang diharamkan hanyalah akan menimpa orang-orang yang hampa hatinya dari kecintaan kepada Allah lagi berpaling dari-Nya. Namun bilamana hati seorang dipenuhi dengan perasaan cinta kepada Allah dan kerinduan ingin berjumpa dengan-Nya, niscaya hal tersebutlah yang akan melenyapkan benih penyakit berupa kecintaan dan keterpautan hati akan yang selain-Nya.”.

  1. Media Komunikasi

Media komunikasi dengan segala versinya adalah diantara hal terbesar yang dapat merubah tatanan nilai-nilai social yang berlaku dalam sebuah komunitas; dari sebuah nilai tatanan social tertentu kepada nilai yang lainnya.

  1. Taklid Buta

Ikut-ikutan dan latah terhadap gaya hidup glamour seorang tokoh adalah penyakit yang banyak menggerogoti para pemuda islam, dan hasilnya –wallahu al musta’an- adalah seperti apa yang dapat disaksikan saat ini.

  1. Pergeseran Makna ‘cinta’

Cinta adalah amalan hati yang memiliki makna yang sangat luas, meliputi cinta kepada Allah, cinta kepada para wali Allah, cinta kepada amalan-amalan yang disenangi Allah, dan mencakup pula cinta terhadap perkara yang dimurkai Allah.

Namun –khususnya- pada era ini, nampak adanya upaya-upaya untuk merubah pola pikir masyarakat tentang defenisi dari istilah ‘cinta’ ini. Hingga output nya adalah timbulnya image bahwa yang dimaksud dengan kata ‘cinta’ hanyalah sebatas pada hubungan asmara yang terjalin antara dua orang yang berlawanan jenis –lebih khusus lagi bagi pasangan yang belum menikah-.

Tidak sebatas itu, bahkan tatanan nilai yang berkenaan dengan kata tersebut –pun turut dirubah. Sebelumnya, batasan antara cinta yang terpuji dan yang tercela adalah jelas. Namun pada perkembangan selanjutnya batasan itupun menjadi buram –seiring dengan penyempitan makna ‘cinta’-. Dan hal yang sangat menyedihkan ketika orang-orang yang sudah tercekoki dengan pola pikir ini berkeyakinan bahwa orang yang tidak memiliki perasaan cinta –sebagaimana makna terbatas yang telah disebutkan- adalah seorang yang tidak memiliki nurani.

  1. Percakapan Via Telepon atau yang sejenisnya

Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda;

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنْ الْإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ

“Syaithan itu mengalir dalam tubuh seorang manusia seiring dengan aliran darahnya.”.

Olehnya berhati-hatilah seorang yang sering berkomunikasi dengan lawan jenisnya via telepon atau media sejenisnya, kalau-kalau ia masuk dalam jaring yang telah disiapkan oleh syaithan; awalnya sekedar suara atau tulisan (chat), lantas timbul perasaan yang tidak biasa, hingga terjadilah pertemuan, dan terjadilah apa yang terjadi. –wallahu al musta’aan-.

 

Beberapa Trik Melepaskan Diri Dari Cinta dan Ketergantungan Terhadap Hal Yang Diharamkan

 

  1. Ikhlas

Sebagaimana yang telah disebutkan contohnya oleh Allah tentang ujian yang menimpa nabiullah Yusuf –‘alaihisssalaam-, berupa fitnah wanita.

  1. Doa

Allah -ta’ala- berfirman;

[وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ [البقرة/186

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”. (Al Baqarah; 186)

  1. Memalingkan pandangan dari hal yang diharamkan

Pandangan adalah salah satu alat yang sangat vital menangkap segala informasi yang terjadi. Bahkan bisa jadi, seorang dapat memahami sebuah kejadian yang dilihatnya meski ia tidak mendengarkan percakapan orang-orang yang melakoni kejadian tersebut. Olehnya itu, maka pandangan adalah sarana yang sangat menentukan kualitas hati seseorang. Bila kejadian dan informasi-informasi yang tertampung dalam akal dan hati lewat pandangan adalah hal-hal yang positif, maka tentu akan baik pula hasilnya. Namun jika inputnya, melulu hal-hal yang negative, maka –tentu- output nya pun akan demikian.

  1. Menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat

Diantaranya dan yang terbesar adalah menekuni kegiatan menuntut ilmu agama. Hal ini disebabkan karena –sebagaimana telah diurai sebelumnya- bahwa salah satu factor pemicu munculnya penyakit al ‘isyqu adalah kosongnya jiwa dari hal yang bermanfaat. Maka bila kekosongan jiwa ini bisa diisi dengan dzikir dan ilmu yang bermanfaat, dengan izin Allah, fikiran akanlah terjaga.

  1. Menikah

Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda;

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنْ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai sekalian pemuda, barangsiapa diantara kalian mampu untuk menikah, maka hendaklah ia menikah. Sesungguhnya menikah itu lebih mampu menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Namun bagi yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa. Sesungguhnya puasa itu adalah perisai.” .

  1. Banyak melaksanakan ibadah

Diantaranya adalah berdoa dan puasa –sebagaimana yang telah disebutkan-. Demikian juga dengan shalat, sebagaimana firman-Nya;

[إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ [العنكبوت/45

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”. (al Ankabuut; 45)

 

Penutup

 

Cinta adalah sebuah energi. Energi tersebut dihasilkan dari sebuah reactor yang bernama hati. Jika energi ini mampu dikendalikan secara baik dan terarah, maka akan muncullah energi positif, yang akan bermanfaat bagi seluruh alam raya. Namun jika energi tersebut tidak terkendali dan terarah dengan baik, maka ketika itu akan muncullah reaksi negative, yang tidak saja berbahaya bagi orang itu, tetapi pun akan berbahaya bagi alam semesta.

Cinta yang positif adalah cinta yang lahir karena Allah; cinta kepada-Nya, kepada orang-orang yang dicintai-Nya, dan kepada amalan yang dicintai-Nya. Adapun cinta yang negative adalah cinta yang terlahir dari dua virus penyakit, yaitu; syubhat dan syahwat.

Jika dalam hati seseorang telah tertanam jenis cinta yang positif, maka ketika itulah ia akan merasakan manisnya keimanan. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda;

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

“Tiga perkara, jika ketiganya ada pada diri seorang muslim, niscaya ia akan merasakan manisnya iman, yaitu; ia cinta kepada Allah dan rasul-Nya, lebih dari kecintaannya kepada yang selain keduanya; ia tidaklah cinta kepada seseorang melainkan karena Allah; dan ia benci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci dicampakkan ke dalam api neraka.”.

Namun jika yang tertanam dalam hati seseorang adalah cinta yang negative, dan virus ini telah menjangkiti serta menggerogoti hatinya, maka ketika itu akan matilah fungsi dari pengendali hati. Dan pada saat yang bersamaan, pupuslah kebaikan yang diharapkan dari orang tersebut. Allah -ta’ala- berfirman;

[فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ [البقرة/10

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.”. (al Baqarah; 10).

 

Akhirnya, tiada kata yang teruntai dari lisan yang lemah ini melainkan sebuah harapan kepada Zat Yang Maha Rahman lagi Maha Rahim, “Semoga Ia memasukkan kami ke dalam kelompok orang-orang yang cinta kepada-Nya dan Ia pun cinta kepada kami.”.

إنه ولي التوفيق وإلى الله المستعان. وصلى الله على محمد وآله بإحسان. والحمد لله رب العالمين

_________________________

Disadur dari kitab yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim al Hamd az Zulafi berjudul “al ‘Isyqu”, www. Toislam.net, dengan beberapa perubahan.

 

3 thoughts on “al \’Isyq”

  1. MasyaALLOH,yg seperti ini harus banyak”/sering” di share spya banyak yg faham sehingga tersadarkan/bisa jdi pengingat yg terlalaikan, allohulmusta’an, jazakumullohu khoiron, wabarokallohufiikum

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top

Kegiatan Perkuliahan
3 Maret 2026

Silakan menyimak lanjutan penjelasan mengenai “Dunia Islam di Masa Keemasan” melalui tautan YouTube ini.

Setelah menyimak materi tersebut, lakukan analisis dengan menjawab pertanyaan berikut:

  1. Apa saja faktor-faktor yang menjadi penyebab kebangkitan dunia Islam pada tiga masa keemasan tersebut?
  2. Apa saja faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran dunia Islam pada masing-masing masa tersebut?

Untuk mempertajam analisis, silakan membaca kembali materi perkuliahan sebelumnya sebagai bahan pendukung.

Tuliskan hasil analisis Anda pada kolom komentar YouTube dari video yang telah disimak!
Jangan lupa mencantumkan inisial nama di bagian akhir komentar.