Telaah Fikih Puasa Melalui Rangkaian Ayat Puasa (9)

Ayat 185 

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

Al-Quran diturunkan di bulan Ramadhan

Allah -ta’ala- berfirman;

شهر رمضان الذي أنزل فيه القرآن

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an.”. Ibnu ’Abbas –radhiyallahu ’anhuma- berkata;

أنزل القرآن جملة واحدة إلى السماء الدنيا في ليلة القدر، ثم نزل بعد ذلك في عشرين سنة

“Al-Quran itu diturunkan sekaligus (dari lauhilmahfudzh kepada para malaikat pencatat atau al-katabah) ke langit dunia pada lailatul Qadar. Setelah itu, Jibril –’alaihissalam- menyampaikannya kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- dalam waktu yang terpisah selama 20 tahun.” (Ibnu-Katsiir, 1419 H). Waatsilah bin al-asqa’ berkata, dari Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-;

أُنْزِلَتْ صُحُفُ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَام فِي أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ وَأُنْزِلَتْ التَّوْرَاةُ لِسِتٍّ مَضَيْنَ مِنْ رَمَضَانَ وَالْإِنْجِيلُ لِثَلَاثَ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ وَأُنْزِلَ الْفُرْقَانُ لِأَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ

“Suhuf Ibrahim diturunkan pada malam pertama di bulan Ramadhan, Taurat pada malam ke-6 dari bulan itu, Injil pada malam ke-13, sedangkan al-Quran pada malam ke-24.” (Ahmad, 2001)

Safar di tengah Ramadhan

Allah -ta’ala- berfirman;

فمن شهد منكم الشهر فليصمه

Diantara penafsiran dari ayat ini adalah “Barangsiapa diantara kalian yang berada atau mukim di negaranya (tidak sedang safar) ketika bulan Ramadhan tiba, maka hendaklah ia berpuasa”. Kata “syahida” dalam ayat ini bermakna “hadhara” yang berarti berada atau hadir. Berkenaan dengan penafsiran ayat ini, beberapa orang sahabat diantaranya Ali bin Abi Thalib, Ibnu ’Abbas, Aisyah, dan yang lainnya –radhiyallahu ’anhum- berkata;

من شهد أي من حضر دخول الشهر وكان مقيما في أوله في بلده وأهله فليكمل صيامه، سافر بعد ذلك أو أقام، وإنما يفطر في السفر من دخل عليه رمضان وهو في سفر

“Barangsiapa mendapati awal Ramadhan sedang ia tengah bermukim di negaranya bersama keluarganya, maka wajiblah ia melaksanakan dan melanjutkan puasanya hingga selesai, bahkan meski ia safar setelah berlalu beberapa hari dari Ramadhan. Hanyalah yang diperbolehkan berbuka ketika safar adalah golongan yang mendapati masuknya Ramadhan ketika ia tengah dalam perjalanan.”.

Demikianlah pendapat dari sebagian ulama, namun pendapat ini tidak disetujui oleh mayoritas ulama berdasarkan hadits Abdullah bin ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma-;

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ إِلَى مَكَّةَ فِي رَمَضَانَ فَصَامَ حَتَّى بَلَغَ الْكَدِيدَ أَفْطَرَ فَأَفْطَرَ النَّاسُ

“Pernah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- keluar ke Mekkah di bulan Ramadhan dalam keadaan berpuasa. Ketika Beliau tiba di al-Kadiid Beliau berbuka puasa dan para sahabatnya pun turut berbuka puasa.” (Al-Bukhari, 1311 H)

Bila seorang kafir masuk Islam di pertengahan Ramadhan, wajibkah ia mengganti puasa yang telah luput ?

Sebagian ulama menyatakan bahwa ia berkewajiban mengganti puasa yang tidak dilakukannya di bulan tersebut, yaitu ketika ia belum memeluk Islam. Alasannya yaitu bahwa orang-orang kafir –pun pada asalnya merupakan objek seruan dari seluruh perintah agama (al-mukhathab bi al-ahkaam), hanya saja amalan mereka tidak diterima selama masa kafirnya.

Namun pendapat yang lebih tepat menyatakan bahwa ia tidak berkewajiban mengganti puasa yang telah ditinggalkannya pada masa sebelum Islam; karena pada asalnya mereka bukanlah orang yang diseru untuk melaksanakan puasa. Allah -ta’ala- berfirman;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian.”. Dari ayat ini diketahui bahwa seruan untuk berpuasa pada asalnya ditujukan untuk orang-orang beriman.

Bagaimana bila hilal dilihat pada siang hari, apakah hilal tersebut untuk hari itu ataukah untuk keesokan harinya?

Bila hilal dilihat pada siang hari, maka tidaklah hal itu menjadi dasar bolehnya berbuka puasa di hari itu. Namun hilal itu adalah untuk keesokan harinya. Aisyah –radhiyallahu ‘anha- berkata;

أَصْبَحَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- صَائِمًا صُبْحَ ثَلاَثِينَ يَوْمًا فَرَأَى هِلاَلَ شَوَّالٍ نَهَارًا فَلَمْ يُفْطِرْ حَتَّى أَمْسَى

Artinya: “Suatu ketika Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- berpuasa di subuh yang ke-30 di bulan Ramadhan. Siang harinya Beliau menyaksikan hilal syawwal, maka Beliau tidak berbuka puasa melainkan ketika waktu berbuka telah tiba. (Daraquthni, 2004). Mu’adz bin Muhammad al-Anshari –rahimahullah- berkata;

سَأَلْتُ الزُّهْرِىَّ عَنْ هِلاَلِ شَوَّالٍ إِذَا رُئِىَ بَاكِرًا قَالَ سَمِعْتُ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيَّبِ يَقُولُ إِنْ رُئِىَ هِلاَلُ شَوَّالٍ بَعْدَ أَنْ طَلَعَ الْفَجْرُ إِلَى الْعَصْرِ أَوْ إِلَى أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ فَهُوَ مِنَ اللَّيْلَةِ الَّتِى تَجِىءُ

Artinya: “Saya pernah bertanya kepada az-Zuhri –rahimahullah- tentang hilal di bulan Syawwal bila terlihat di pagi hari. Beliau berkata; saya pernah mendengar Sa’id bin Musayyab -rahimahullah- berkata; apabila hilal Syawwal terlihat di selang waktu antara terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari, maka hilal itu untuk malam setelahnya. (Daraquthni, 2004)

Informasi dilihatnya hilal terlambat

Bila informasi dilihatnya hilal tiba setelah matahari condong ke tempat terbenamnya, maka manusia diperintahkan untuk berbuka puasa dan melaksanakan shalat I’ed keesokan harinya. Diantara dalilnya adalah hadits riwayat Rib’I bin Hirasy –radhiyallahu ‘anhu-, dari salah seorang sahabat Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-, Beliau berkata;

اخْتَلَفَ النَّاسُ فِى آخِرِ يَوْمٍ مِنْ رَمَضَانَ فَقَدِمَ أَعْرَابِيَّانِ فَشَهِدَا عِنْدَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- بِاللَّهِ لأَهَلاَّ الْهِلاَلَ أَمْسِ عَشِيَّةً فَأَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- النَّاسَ أَنْ يُفْطِرُوا . زَادَ خَلَفٌ وَأَنْ يَغْدُوا إِلَى مُصَلاَّهُمْ

Artinya: “Pernah orang-orang berselisih tentang akhir Ramadhan. Maka datanglah dua orang arab badui bersaksi dihadapan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bahwa senja kemarin mereka telah melihat hilal. Mendengar itu, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- memerintahkan manusia untuk berbuka dan melaksanakan shalat I’ed keesokan paginya (Abu-Daud, 1323 H). Imam An-Nasa’i meriwayatkan dengan sanadnya;

أَنَّ قَوْمًا رَأَوْا الْهِلَالَ فَأَتَوْا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَرَهُمْ أَنْ يُفْطِرُوا بَعْدَ مَا ارْتَفَعَ النَّهَارُ وَأَنْ يَخْرُجُوا إِلَى الْعِيدِ مِنْ الْغَدِ

Artinya: “Beberapa orang pernah mendatangi Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- ketika waktu siang telah naik mengabarkan bahwa mereka telah melihat hilal. Setelah itu, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- menyuruh mereka berbuka dan melaksanakan shalat I’ed pagi keesokan harinya (An-Nasaai, 1930).

Kapan bertakbir pada waktu I’edul Fitri ?

Ada beberapa riwayat berkenaan dengan masalah ini, diantaranya adalah;

Riwayat Ibnu ’Abbas –radhiyallahu ’anhuma-;

حق على المسلمين إذا رأوا هلال شوال أن يكبروا

“Sungguh sudah sepantasnya bagi seorang muslim untuk bertakbir ketika melihat hilal Syawwal.” Dalam riwayat lain dari Beliau disebutkan;

يكبر المرء من رؤية الهلال إلى انقضاء الخطبة، ويمسك وقت خروج الإمام ويكبر بتكبيره

“Seorang mulai bertakbir ketika hilal telah terlihat sampai selesainya khutbah. Ketika imam telah keluar untuk memimpin shalat, seorang tidak bertakbir, dan ia bertakbir bersama dengan takbirnya imam.”. Diriwayatkan dari Ibnu Umar;

أن رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم كان يكبر يوم الفطر من حين يخرج من بيته حتى يأتي المصلى

“Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- mulai bertakbir pada hari I’edul fitri ketika keluar rumah hingga sampai ke lapangan tempat melaksanakan shalat. (Albaani, Irwaaul Ghaliil Fi Takhriiji Ahaadiitsi Manaari As Sabiil, 1985)

Dari keterangan-keterangan ini –wallahu a’lam- diketahui bahwa syari’at untuk bertakbir di hari I’edul fithri dimulai sejak dilihatnya hilal bulan Syawwal dan berakhir ketika khutbah I’edul fithri telah usai. Allah berfirman;

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (Al Baqarah; 185), maksudnya –wallahu a’lam-; demikianlah Allah telah mensyari’atkan puasa bagi orang-orang mukim dan memberikan keringanan bagi orang-orang musafir untuk dapat mengqadhanya di hari-hari yang lain agar mereka semua dapat menyempurnakan bilangan hari-hari puasanya, lantas setelah Ramadhan (ketika hilal syawwal telah terlihat) mereka bertakbir memuji dan membesarkan Allah atas petunjuk-Nya.

Bagaimana lafadz takbir ?

Imam Malik –rahimahullah- berkata bahwa lafadz takbir adalah Allahu Akbar sebanyak 3 kali. Demikianlah riwayat dari Jabir bin Abdillah –radhiyallahu ‘anhu-. Diantara ulama ada juga yang bertakbir dengan mengucapkan;

اللّه أكبر كبيرا، والحمد لله كثيرا، وسبحان اللّه بكرة وأصيلا

Lafadz dari Ibnu al-Mubarak adalah;

اللّه أكبر اللّه أكبر، لا إله إلا اللّه، واللّه أكبر ولله الحمد، اللّه أكبر على ما هدانا

Imam Ahmad –rahimahullah- berkata;

هو واسع

“Perkara ini berlaku secara fleksibel.” (Al-Qurthubi, 1964)

Scroll to Top

Kegiatan Perkuliahan
3 Maret 2026

Silakan menyimak lanjutan penjelasan mengenai “Dunia Islam di Masa Keemasan” melalui tautan YouTube ini.

Setelah menyimak materi tersebut, lakukan analisis dengan menjawab pertanyaan berikut:

  1. Apa saja faktor-faktor yang menjadi penyebab kebangkitan dunia Islam pada tiga masa keemasan tersebut?
  2. Apa saja faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran dunia Islam pada masing-masing masa tersebut?

Untuk mempertajam analisis, silakan membaca kembali materi perkuliahan sebelumnya sebagai bahan pendukung.

Tuliskan hasil analisis Anda pada kolom komentar YouTube dari video yang telah disimak!
Jangan lupa mencantumkan inisial nama di bagian akhir komentar.