Telaah Fikih Puasa Melalui Rangkaian Ayat Puasa (10)

Ayat 186

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”.

 

Sebab Turunnya Ayat

Tentang sebab turunnya ayat ini, Ibnu ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma- berkata;

قالت اليهود كيف يسمع ربنا دعاءنا، وأنت تزعم أن بيننا وبين السماء خمسمائة عام، وغلظ كل سماء مثل ذلك

Artinya: “Orang-orang Yahudi berkata; bagaimana mungkin Allah -ta’ala- akan mendengar doa kami, sedang engkau berkeyakinan bahwa jarak antara kami dengan langit yaitu 500 tahun perjalanan, dan demikian juga jarak antara satu langit dengan yang lainnya? Setelah itu turunlah ayat ini.”.

Al-Hasan berkata;

سببها أن قوما قالوا للنبي صلى اللّه عليه وسلم: أقريب ربنا فنناجيه، أم بعيد فنناديه؟ فنزلت

Artinya: “Sebab turunnya ayat ini yaitu ketika beberapa orang bertanya kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-; apakah Tuhan kami dekat hingga kami dapat bermunajat (meminta dengan suara kecil) kepadanya, ataukah Ia jauh hingga kami harus memanggilnya (berdoa dengan suara keras)?.”, maka turunlah ayat ini.

 

Doa adalah ibadah

Doa adalah semulia-mulianya ibadah. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda;

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Doa itu adalah ibadah (Abu-Daud, 1323 H).” Allah -ta’ala- berfirman;

إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku (tidak mau berdoa) akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (Ghaafir; 60)

Kekhususan ummat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam –salah satunya- terletak pada doa. Ubadah bin Shamit –radhiyallahu ‘anhu- berkata, dari Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-;

أعطيت أمتي ثلاثا لم تعط إلي الأنبياء كان اللّه إذا بعث نبيا قال ادعني أستجب لك وقال لهذه الأمة ادعوني أستجب لكم وكان اللّه إذا بعث النبي قال له ما جعل عليك في الدين من حرج وقال لهذه الأمة ما جعل عليكم في الدين من حرج وكان اللّه إذا بعث النبي جعله شهيدا على قومه وجعل هذه الأمة شهداء على الناس

Artinya: “Ummatku ini diberi tiga keistimewaan, yang tidak diberikan kepada nabi-nabi sebelumnya. Dahulu, ketika Allah -ta’ala- mengutus seorang nabi kepada sebuah kaum, Ia berkata kepadanya –secara khusus-; berdoalah kepada-Ku, niscaya Saya akan mengabulkannya. Namun, Ia berkata kepada ummat ini; berdoalah kalian semua kepada-Ku, niscaya Saya akan menjawab permintaan kalian. Dahulu, ketika Allah -ta’ala- mengutus seorang nabi kepada sebuah kaum, Ia berkata kepadanya –secara khusus-; Allah -ta’ala- tidak menjadikan sebuah kesusahan bagimu di dalam agama. Namun, Ia berkata kepada ummat ini; Allah -ta’ala- tidak menjadikan sebuah kesusahan bagi kalian semua di dalam agama ini. Dahulu, ketika Allah -ta’ala- mengutus seorang nabi, Ia menjadikannya –secara khusus- sebagai saksi bagi kaumnya. Namun Allah -ta’ala- menjadikan ummat ini sebagai saksi bagi seluruh ummat yang lain.”

Allah -ta’ala- menjawab doa hamba-hamba-Nya

Doa adalah sebuah nikmat, barangsiapa yang diberi taufik oleh Allah -ta’ala- untuk berdoa, maka sungguh pintu pengabulan doa telah terbuka baginya. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda;

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنْ السُّوءِ مِثْلَهَا

Artinya: “Tidak seorang pun muslim yang berdoa kepada Allah -ta’ala, tanpa disertai dengan perbuatan maksiat atau pemutusan silaturrahim, melainkan –pasti- Allah -ta’ala- akan mengabulkan permintaannya itu dengan tiga macam bentuk pengabulan; mungkin Allah -ta’ala- akan segera mengabulkan permintaannya secara langsung, mungkin pula Allah -ta’ala- akan menundanya dan menjadikannya sebagai saham yang berguna baginya kelak di hari akhirat, atau mungkin –pula- Allah -ta’ala- akan menghindarkannya dari sebuah bencana yang seimbang dengan permintaannya itu (Ahmad, 2001).”

Penghalang-Penghalang Doa

Beberapa hal yang dapat menghalangi pengabulan doa seseorang kepada Allah -ta’ala, diantaranya sebagaimana hadis Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-;

لَا يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الِاسْتِعْجَالُ قَالَ يَقُولُ قَدْ دَعَوْتُ وَقَدْ دَعَوْتُ فَلَمْ أَرَ يَسْتَجِيبُ لِي فَيَسْتَحْسِرُ عِنْدَ ذَلِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ

“Doa seorang hamba akanlah senatiasa terkabulkan selama ia tidak meminta sebuah perlakuan maksiat atau pemutusan silaturrahim, yaitu selama ia tidak tergesa-gesa. Ditanyakan kepada Beliau; apa yang dimaksud dengan tergesa-gesa? Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda; yaitu ketika seorang berkata, saya telah berdoa berulang-ulang kali. Namun saya belum juga menyaksikan hasil dari doaku tersebut. Lantas pada akhirnya, ia –pun merasa letih berdoa dan meninggalkannya (Muslim, 1334 H).” Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda;

إِذَا دَعَا أَحَدُكُمْ فَلْيَعْزِمْ الْمَسْأَلَةَ وَلَا يَقُولَنَّ اللَّهُمَّ إِنْ شِئْتَ فَأَعْطِنِي

Artinya: “Bila seorang dari kalian beroa, maka hendaklah ia bersungguh-sungguh dalam doanya itu. Janganlah pernah ia mengatakan; Ya Allah -ta’ala-, jika Engkau ingin mengabulkan doaku, maka kabulkanlah doaku tersebut (Al-Bukhari, 1311 H).”

Ibrahim bin Adham –rahimahullah- berkata ketika ditanya tentang sebab tidak dikabulkannya doa;

لأنكم عرفتم اللّه فلم تطيعوه، وعرفتم الرسول فلم تتبعوا سنته، وعرفتم القرآن فلم تعملوا به، وأكلتم نعم اللّه فلم تؤدوا شكرها، وعرفتم الجنة فلم تطلبوها، وعرفتم النار فلم تهربوا منها، وعرفتم الشيطان فلم تحاربوه ووافقتموه، وعرفتم الموت فلم تستعدوا له، ودفنتم الأموات فلم تعتبروا، وتركتم عيوبكم واستغلتم بعيوب الناس

Artinya: “Hal demikian tersebab karena engkau mengetahui Allah -ta’ala-, namun engkau tidak taat kepada-Nya; engkau mengetahui rasul, tetapi engkau tidak mengikuti sunnahnya; engkau mengetahui al-Quran, namun engkau enggan mengamalkannya; engkau makan nikmat Allah -ta’ala-, tetapi engkau tidak mensyukurinya; engkau mengetahui Surga, namun engkau malas menggapainya; engkau mengetahui neraka, namun engaku tidak berusaha lari darinya; engkau mengetahui syaithan, tapi engkau tidak memusuhinya bahkan engkau loyal kepadanya; engkau mengetahui akan kematian, tetapi engkau tidak mempersiapkan diri menghadapinya; engkau menguburkan orang meninggal, tetapi engkau tidak –juga- mengambil pelajaran; dan engkau sibuk mengurusi aib orang lain, tetapi engkau lupa akan aibmu sendiri (Al-Qurthubi, 1964).”

Kabar Gembira Bagi Mereka Yang Berdoa

Sufyan bin ‘Uyainah –rahimahullah- berkata;

لا يمنعن أحدا من الدعاء ما يعلمه من نفسه فإن اللّه قد أجاب دعاء شر الخلق إبليس، قَالَ أَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ. قَالَ إِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ

Artinya: “Jangan sekalipun seorang dari kalian terhalang untuk berdoa tersebab karena lumpur dosa yang ia tahu dari dirinya. Sesungguhnya Allah -ta’ala- telah menjawab permintaan sejahat-jahat makhluk, yaitu iblis, ketika ia minta ditangguhkan dari api neraka hingga tiba hari kiamat (Al-Qurthubi, 1964).”

Bulan Ramadhan Bulan Doa

Setelah Allah menyebutkan ayat ke 183 sampai 185 dari surah al Baqarah yang berisi informasi tentang beberapa hukum berkenaan dengan bulan Ramadhan, -selanjutnya- Allah menyebutkan ayat 186 yang berisi anjuran untuk berdoa, dan kemudian di ayat setelahnya Allah -ta’ala- kembali menyebutkan beberapa hukum berkenaan dengan puasa Ramadhan. Beberapa ulama berkata bahwa diselipkannya ayat doa ini di antara ayat-ayat yang secara khusus berkaitan dengan puasa Ramadhan memberi isyarat bahwa bulan Ramadhan ini adalah bulan yang di dalamnya Allah akan mengabulkan doa hamba-hamba-Nya yang ikhlas dan secara benar meminta kepada-Nya.

Scroll to Top

Kegiatan Perkuliahan
3 Maret 2026

Silakan menyimak lanjutan penjelasan mengenai “Dunia Islam di Masa Keemasan” melalui tautan YouTube ini.

Setelah menyimak materi tersebut, lakukan analisis dengan menjawab pertanyaan berikut:

  1. Apa saja faktor-faktor yang menjadi penyebab kebangkitan dunia Islam pada tiga masa keemasan tersebut?
  2. Apa saja faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran dunia Islam pada masing-masing masa tersebut?

Untuk mempertajam analisis, silakan membaca kembali materi perkuliahan sebelumnya sebagai bahan pendukung.

Tuliskan hasil analisis Anda pada kolom komentar YouTube dari video yang telah disimak!
Jangan lupa mencantumkan inisial nama di bagian akhir komentar.