يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,
Mengenai keutamaan puasa, banyak sekali penjelasan yang telah disampaikan oleh para ulama dalam buku-buku mereka. Namun, salah satu hal yang menunjukkan kemuliaan ibadah puasa dibandingkan dengan ibadah lainnya adalah ketika Allah Yang Maha Tinggi mengkhususkan puasa sebagai ibadah yang dipersembahkan hanya untuk-Nya. Meskipun pada hakikatnya, semua ibadah harus dipersembahkan hanya untuk Allah. Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah berfirman:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
Yang artinya: “Segala amalan anak Adam adalah untuknya sendiri, kecuali puasa. Puasa itu adalah untuk-Ku dan Akulah yang akan memberikan balasannya.” (Al-Bukhari, 1311 H).
Penyebutan dan penisbatan khusus ibadah ini kepada Allah, setidaknya memiliki dua alasan:
“الصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي”
Yang artinya: “Sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Akulah yang akan memberikan balasannya. Dia meninggalkan makanan, minuman, dan syahwatnya semata-mata untuk-Ku.” (Ahmad, 2001).
Kewajiban berpuasa juga telah ada sebelum ummat Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam-. Allah -ta’ala- berfirman;
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ
Artinya: “Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu.” (al Baqarah; 183). Hanya saja, aturan berpuasa bagi umat ini tidaklah sama dengan aturan berpuasa bagi ummat sebelumnya. Allah berfirman;
لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا
“Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturannya (masing-masing) dan jalan yang terang.” (al Maaidah; 48)
Dalam beberapa ayat al-Quran, Allah Yang Maha Tinggi memulai dengan seruan khusus kepada orang-orang beriman dan juga kepada seluruh umat manusia secara umum. Misalnya, Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al Baqarah; 153)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَوَلَّوْا عَنْهُ وَأَنْتُمْ تَسْمَعُونَ . وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ قَالُوا سَمِعْنَا وَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ
Yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling daripada-Nya, sedangkan kamu mendengar (perintah-perintah-Nya), dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang (munafik) yang berkata ‘Kami mendengarkan’, padahal mereka tidak mendengarkan.” (Al Anfaal; 20-21)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (Al Baqarah; 208)
Jika dihitung, seruan semacam ini disebutkan sebanyak 89 kali dalam al-Quran. Dan jika diperhatikan, setiap seruan tersebut pasti diikuti dengan perintah atau larangan dari Allah. Oleh karena itu, berkenaan dengan seruan ini (Wahai orang-orang yang beriman), para ulama kita – di antaranya Abdullah ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu – berkata:
إِذَا سَمِعْتَ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا} فَأَرْعِهَا سَمْعَكَ؛ فَإِنَّهُ خَيْرٌ يَأْمُرُ بِهِ، أَوْ شَرٌّ يَنْهَى عَنْهُ
Yang artinya: “Apabila engkau mendengar seruan Allah [wahai orang-orang beriman], maka fokuslah untuk mendengarnya. Sesungguhnya kabar yang akan disampaikan setelahnya tidak lepas dari dua hal yang sangat penting; mungkin kabar itu adalah kebaikan yang Allah perintahkan agar dilaksanakan, dan mungkin pula berisi kabar akan sebuah kejahatan yang Allah perintahkan untuk ditinggalkan.” (Mubaarak)
Maka di antara ayat yang dimulai dengan seruan [wahai orang-orang beriman] adalah firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Al Baqarah; 183)
Dengan seruan seperti ini, tersirat makna bahwa Allah ingin agar seorang hamba mengetahui bahwa ia memiliki Tuhan yang berhak dan berkuasa atas dirinya. Ia berhak menyatakan kepada hamba-Nya; kerjakan ini dan tinggalkan itu, dan wajib atas seorang hamba untuk mengatakan:
“سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا”
“Kami dengarkan dan kami taati.” (Al Baqarah; 285)
Lantas, bagaimana menciptakan generasi semacam ini? Salah satunya adalah dengan syariat berpuasa. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Al Baqarah; 183)
Selanjutnya, di akhir rangkaian ayat puasa, Allah berfirman:
تِلْكَ حُدُودُ اللّهِ فَلاَ تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ
“Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.” (Al Baqarah; 187)
“مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَه”
Yang artinya: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan yang tercela, maka Allah tidak membutuhkan puasa yang dilakukannya.” (Al-Bukhari, 1311 H)
“الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَإِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ صَائِمًا فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ فَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ إِنِّي صَائِم”
Yang artinya: “Puasa itu adalah perisai. Jadi, jika salah seorang dari kalian berpuasa, janganlah ia berkata-kata kotor dan janganlah berbuat yang tidak baik. Jika ia diganggu atau dicela oleh orang lain, maka hendaklah ia berkata; ‘saya ini puasa, saya ini puasa’.” (Ahmad, 2001)
Oleh karena itu, beberapa hikmah dari puasa antara lain:
Demikianlah sebagian dari hikmah disyari’atkannya ibadah puasa.
Silakan menyimak lanjutan penjelasan mengenai “Dunia Islam di Masa Keemasan” melalui tautan YouTube ini.
Setelah menyimak materi tersebut, lakukan analisis dengan menjawab pertanyaan berikut:
Untuk mempertajam analisis, silakan membaca kembali materi perkuliahan sebelumnya sebagai bahan pendukung.
Tuliskan hasil analisis Anda pada kolom komentar YouTube dari video yang telah disimak!
Jangan lupa mencantumkan inisial nama di bagian akhir komentar.