يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,
Secara bahasa ‘ash-shaum’ berarti menahan. Allah -ta’ala- berfirman tentang perkataan Maryam –‘alaihassalam-;
إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا
Artinya: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini.” (Maryam; 26).
Adapun secara istilah, maka ‘as-shaum’ berarti;
الإمساك عن المفطرات مع اقتران النية به من طلوع الفجر إلى غروب الشمس، وتمامه وكماله باجتناب المحظورات وعدم الوقوع في المحرمات، لقوله عليه السلام: من لم يدع قول الزور والعمل به فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه
Artinya: “Mengendalikan diri dari segala hal yang dapat membatalkan puasa, yang dilakukan dengan niat ikhlas, dimulai sejak fajar menyingsing hingga matahari terbenam. Kesempurnaan puasa akan dicapai dengan menjauhkan diri dari segala larangan, sesuai dengan sabda Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam-; “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan yang tidak terpuji, maka Allah Yang Maha Tinggi tidak membutuhkan puasa yang dilakukannya.” (Al-Qurthubi, 1964)
Puasa Ramadhan merupakan ibadah yang statusnya wajib, hukum yang telah disepakati secara universal oleh para ulama. Hal ini didasarkan pada bukti yang jelas dari al-Quran dan hadits Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam-. Allah Yang Maha Tinggi berfirman dalam al-Quran:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Al Baqarah; 183).
Ibnu Umar -radhiyallahu ‘anhuma- meriwayatkan dari Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam-, Beliau bersabda:
بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسَةٍ عَلَى أَنْ يُوَحَّدَ اللَّهُ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَصِيَامِ رَمَضَانَ وَالْحَجِّ
Yang artinya: “Islam itu dibangun atas lima perkara, yaitu tauhid kepada Allah -ta’ala-, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan melaksanakan haji.” Seorang laki-laki bertanya kepada Ibnu Umar; ‘melaksanakan ibadah haji dan berpuasa Ramadhan wahai Ibnu Umar?!’. Beliau berkata; tidak, ‘berpuasa Ramadhan dan melaksanakan ibadah haji’, demikianlah saya mendengarnya dari Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.” (Muslim, 1334 H)
Silakan menyimak lanjutan penjelasan mengenai “Dunia Islam di Masa Keemasan” melalui tautan YouTube ini.
Setelah menyimak materi tersebut, lakukan analisis dengan menjawab pertanyaan berikut:
Untuk mempertajam analisis, silakan membaca kembali materi perkuliahan sebelumnya sebagai bahan pendukung.
Tuliskan hasil analisis Anda pada kolom komentar YouTube dari video yang telah disimak!
Jangan lupa mencantumkan inisial nama di bagian akhir komentar.