Taqdim
Bukan merupakan hal asing, jika sebuah sistim memiliki aturan tersendiri. Justru yang asing, jika sebuah sistim tidak memiliki aturan. Sudah bisa dipastikan bahwa sistim itu adalah sistim yang kacau dan tidak baik.
Berbicara tentang sebuah sistim, maka tentu yang harus dihadirkan untuk mempersentasekannya adalah pakar dari sistim tersebut, karena merekalah orang yang paling tahu tentang sistim itu. Jika yang dihadirkan adalah seorang yang tidak memiliki kapabilitas dibidangnya, -tetnu- bisa diprediksi bahwa persentase tersebut akan ngawur dan asal-asalan.
Diantara contoh hal tersebut adalah salah satu peristiwa akbar di Negeri inii, yang disaksikan oleh hampir seluruh rakyat, yaitu kasus meninjau sikap pemerintah dalam rangka menyelamatkan bank Century, apakah telah benar atau tidak; nah, yang dihadirkan kala itu adalah para pakar dibidang perbankan, ekonomi, dan seluruh pihak yang berkompeten. Peristiwa ini –sekali lagi- menjadi bukti yang sangat kongkrit bahwa setiap bidang dan sistim memiliki ahlinya. Dan adalah hal yang sangat naif, jika seorang yang tidak memiliki kompetensi dalam sebuah bidang, -justru- berkoar dan mengingkari pernyataan atau bahkan kesepakatan yang telah disampaikan oleh para pakar dibidangnya.
Dari sinilah awal tanda tanya itu ….
Islam adalah sebuah sistim, dan memiliki pakar yang berhak untuk mempersentasekannya. Tetapi mengapa ketika berbicara tentang perwajahan Islam, hukum Islam, justru yang ditampilkan adalah orang-orang yang sangat tidak berkompetensi untuk mempersentasekannya; mulai dari sutradara film, artis, pelawak, politikus, masyarakat awwam, atau ustadz karbitan produk TV ???.
Sudah bisa diprediksi, betapa kacau dan rancunya perwajahan Islam dan hukum Islam jika keluar dari pemikiran dan mulut-mulut mereka yang berbisa …. Allahu al musta\’an. Demikianlah kiranya wujud dari sabda Rasulullah -shallallahu \’alaihi wa sallam-, yang disampaikan oleh Abu Hurairah -radhiyallahu \’anhu-;
إِنَّهَا سَتَأْتِي عَلَى النَّاسِ سِنُونَ خَدَّاعَةٌ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ السَّفِيهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ
\”Sesungguhnya akan datang suatu zaman yang penuh dengan tipu daya dan muslihat. Para pendusta dipercaya dan orang yang jujur didustakan. Para pengkhianat diberi amanah, dan para \”ruwaibidhah\” telah mulai mengangkat suara.\”. Para sahabat bertanya; \”Siapakah ruwaibidhah itu?\”. Rasulullah -shallallahu \’alaihi wa sallam- bersabda; \”Mereka itu adalah orang-orang bodoh yang berbicara tentang perkara (besar) yang menyangkut kepentingan orang banyak.\”. (HR. Ahmad)
Salah satu produk mereka …
Pluralisme adalah satu diantara produk pemikiran mereka. Gagasan pluralisme agama sebenarnya merupakan upaya peletakan landasan teoritis dalam teologi Kristen untuk memecah kejumudan gereja kala itu dengan doktrin mereka bahwa \”di luar gereja tidak ada keselamatan\”. Gagasan ini dilontarkan sebagai upaya mereka agar dapat berinteraksi secara toleran dengan agama lain. Gagasan ini pertama kali dicanangkan oleh Gereja Kristen pada abad ke-19. Gerakan ini kemudian dikenal dengan Liberal Protestantism. Pelopornya adalah Friedrich Schleiermacher.
Selanjutnya pemikiran ini diadopsi oleh beberapa tokoh yang mengaku Islam (ar ruwaibidhah). Diantara mereka yang –mungkin- paling bertanggungjawab dalam mempopulerkan gagasan pluralisme agama di kalangan Islam tradisional adalah Seyyed Hossein Nasr, seorang tokoh Muslim Syi\’ah moderat. Menurut Nasr, memeluk atau meyakini satu agama dan melaksanakan ajarannya secara keseluruhan dan sungguh-sungguh, berarti juga memeluk seluruh agama, karena semuanya berporos kepada satu poros, yaitu kebenaran hakiki yang abadi. Perbedaan antar agama dan keyakinan, menurut Nasr, hanyalah pada sombol-simbol dan kulit luar. Inti dari agama tetap satu. Dari alur pemikiran semacam inilah timbul tanda tanya, apakah alur pemikiran demikian mempunyai justifikasi yang benar dalam tradisi pemikiran Islam yang diklaim sebagai basis dari bangunan pemikiran ini?[1].
Kebenaran itu tunggal dan tidak berbilang …
Kebenaran hakiki hanyalah berasal dari Allah. Allah berfirman;
{الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِين} [البقرة: 147]
\”Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.\”. (al Baqarah; 147). Maka untuk memahami kebenaran itu, Allah menurunkan al Quran, mengutus Rasulullah -shallallahu \’alaihi wa sallam- dan mengangkat para ulama sebagai pewaris Rasulullah -shallallahu \’alaihi wa sallam- dan sebagai sumber rujukan setelah wafatnya Rasulullah -shallallahu \’alaihi wa sallam-. Allah berfirman;
{وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (52) صِرَاطِ اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ أَلَا إِلَى اللَّهِ تَصِيرُ الْأُمُورُ (53)} [الشورى: 52، 53]
\”Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu al Quran sebagai ruh dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan Dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar- benar (sosok yang mampu) memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (yaitu) jalan Allah yang Kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan.\”. (as Syuuraa; 52-53). Ayat ini menjelaskan tentang fungsi al Quran sebagai ruh dan sekaligus cahaya bagi seluruh hamba, serta fungsi Rasulullah -shallallahu \’alaihi wa sallam- sebagai pemberi penerangan dan penjelasan terhadap ayat-ayat Allah.
Adapun sepeninggal Beliau, maka Allah pun telah memberikan tuntunan umum lewat firman-Nya;
{فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (43) بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُر} [النحل: 43، 44]
\”Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan [para ulama] jika kamu tidak mengetahui (persoalan-persoalan agamamu).\” (an Nahl; 43). Rasulullah -shallallahu \’alaihi wa sallam- bersabda;
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا إنما وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
\”Sesungguhnya para ulama adalah pewaris sekalian nabi. Dan sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan dinar dan tidak juga dirham, yang mereka wariskan hanyalah ilmu. Maka barangsiapa yang mendapatkan ilmu, maka sungguh ia telah mendapatkan bagiannya yang banyak.\”. (HR. Abu Daud). Rasulullah -shallallahu \’alaihi wa sallam- bersabda;
إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَة
\”Apabila sebuah perkara tidak diserahkan kepada ahlinya, maka tunggulah datangnya kiamat.\”. (HR. Bukhari)
Tuhan, agama, Rasul, dan kitab suci yang benar adalah satu …
Tentang ke-Maha Esaan Allah, Tuhan yang benar dijadikan sembahan, Allah berfirman;
{وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ (30) اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ (31)} [التوبة: 30، 31]
\”Orang-orang Yahudi berkata: \”Uzair itu putera Allah\” dan orang-orang Nasrani berkata: \”Al masih itu putera Allah\”. Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?. Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.\”. (at Taubah; 30-31)
Tentang satu-satunya agama yang wajib dianut oleh seluruh manusia hingga hari kiamat, Allah berfirman;
{إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ} [آل عمران: 19]
\”Sesungguhnya agama yang benar disisi Allah hanyalah Islam.\”. (Ali Imraan; 19)
{وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ} [آل عمران: 85]
\”Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.\”. (Ali Imraan; 85)
{الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا} [المائدة: 3]
\”Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.\”. (al Maaidah; 3)
Tentang Rasulullah -shallallahu \’alaihi wa sallam- sebagai rasul penutup bagi seluruh manusia hingga hari kiamat, Allah berfirman;
{مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ} [الأحزاب: 40]
\”Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu., tetapi Dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.\”. (al Ahzaab; 40). Rasulullah -shallallahu \’alaihi wa sallam- bersabda;
إِنَّ مَثَلِي وَمَثَلَ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِي كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى بَيْتًا فَأَحْسَنَهُ وَأَجْمَلَهُ إِلَّا مَوْضِعَ لَبِنَةٍ مِنْ زَاوِيَةٍ فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوفُونَ بِهِ وَيَعْجَبُونَ لَهُ وَيَقُولُونَ هَلَّا وُضِعَتْ هَذِهِ اللَّبِنَةُ قَالَ فَأَنَا اللَّبِنَةُ وَأَنَا خَاتِمُ النَّبِيِّينَ
\”Sesungguhnya permisalanku dan permisalan para nabi sebelumku, seperti seorang lelaki yang membangun sebuah bangunan. Bangunan itu sangat bagus dan indah, hanya saja satu bata di bagian sudut bangunan itu belum terpasang. Orang-orang pun berkeliling dan sangat takjub dengan keindahan rumah itu. Tetapi mereka berkata; \”sekiranya batu bata di bagian ini telah terpasang ?!\”. Rasulullah -shallallahu \’alaihi wa sallam- bersabda; sayalah bata yang terakhir itu, sayalah penutup sekalian nabi.\”. (HR. Bukhari)
Tentang al Quran sebagai satu-satunya kitab suci yang terjaga dan wajib menjadi barometer penentu hukum hingga hari kiamat, Allah berfirman;
{وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا} [المائدة: 48]
\”Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian [barometer penentu hukum] terhadap Kitab-Kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.\”. (al Maaidah; 48)
Ku temukan jawaban dari tanda tanya itu …
Sebuah tanda tanya –sepantasnya- hanya ditujukan pada hal-hal yang menyelisihi sesuatu yang telah baku. Ketika seorang berkata; \”Api adalah benda yang panas\”, tentu pernyataan seperti itu tidaklah akan menimbulkan pertanyaan. Tetapi jika ada seorang berkata; \”Api adalah benda yang dingin\”; ketika itulah penempatan \”tanda tanya\” adalah sesuatu yang tepat.
Bertolak darinya, dan dari pemaparan beberapa dalil tentang beberapa hal baku dalam Islam sebagai sistim hidup yang sempurna, maka merupakan hal wajib –dan sangat wajar- untuk meletakkan tanda tanya dihadapan orang-orang yang mencoba meruntuhkan hal baku dalam agama ini; \”Apakah alur pemikiran pluralisme agama yang diusung oleh kaum liberal mempunyai justifikasi yang benar dalam tradisi pemikiran Islam yang diklaim sebagai basis dari bangunan pemikiran itu?.\”. Allah berfirman;
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ} [التوبة: 119]
\”Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu (senantiasa) bersama orang-orang yang benar.\”. (at Taubah; 119)
Wallahu waliyyu at taufiiq wa huwa yahdi ilaa sabiili ar Rasyaad
[1] Pluralisme Agama, oleh Anis Malik Thoha (Dosen Ilmu Perbandingan Agama pada International Islamic University, Malaysia). Diambil dari rubrik \”Tsaqafah\”, Majalah Hidayatullah, edisi Agustus 2004