Surah al Ashr

Firman Allah:

بسم الله الرحمن الرحيم

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3) [العصر : 1 – 3]

”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”.

Penjelasan

Surat yang mulia ini berisi penjelasan global tentang kiat untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat, kiat untuk lepas dari kesengsaraan dunia dan akhirat, kiat untuk memperbaiki diri dan masyarakat, serta kiat untuk meraih ridha Allah yang menjadi tujuan dan dambaan setiap insan mukmin.

Demikianlah cakupan isi dari firman Allah dalam surah yang mulia ini. Maka bila dilihat dari cakupan isi yang telah disebutkan tadi, didapati bahwa surah ini telah memuat intisari dari risalah keberadaan manusia di muka bumi ini, yaitu untuk menghambakan dirinya secara benar kepada Allah yang berpenghujung pada sampainya mereka kepada kebahagiaan abadi yang menjadi impian dan dambaan setiap yang menginginkan perjumpaan dengan Allah dan kenikmatan di hari akhirat. Olehnya sangat wajar jika kemudian surah ini menjadi bahan wasiat para sahabat ketika mereka bertemu dan hendak berpisah. Abu al Madinah ad Daarimiy –radhiyallahu ‘anhu- berkata;

كَانَ الرَّجُلَانِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا الْتَقَيَا، وَأَرَادَا أَنْ يَتَفَرَّقَا، قَرَأَ أَحَدُهُمْ سُورَةَ: وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ، ثُمَّ سَلَّمَ أَحَدُهُمَا عَلَى الْآخِرِ أَوْ عَلَى صَاحِبِهِ ثُمَّ تَفَرَّقَا

“Dahulu bila ada dua orang sahabat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- berjumpa dan keduanya hendak berpisah, maka salah seorang dari mereka membaca surah al Ashr, lantas ia mengucapkan salam, kemudian keduanya pun berpisah.”[1]. Imam as Syaafi’e –rahimahullah- berkata;

لو لم ينزل غير هذه السورة لكفت الناس

“Andai saja tidak turun satupun surah melainkan surah ini, niscaya cukuplah surah ini bagi manusia.”[2].

Allah -mengawali ayat ini- bersumpah dengan menyebutkan waktu “Ashar” yang merupakan bagian dari masa. Hal demikian mengisyaratkan urgensi waktu dalam kehidupan manusia, dimana kualitas mereka di sisi Allah adalah tergantung sejauh mana efisiensi pemanfaatan waktu mereka di dunia ini. Bila mereka dapat memanfaatkan usia mereka di dunia ini dengan hal yang diridhai oleh-Nya, maka baiklah yang akan mereka tuai di akhirat kelak. Tetapi jika mereka gagal dalam memanfaatkan waktu yang disiapkan Allah buatnya, niscaya penyesalanlah yang kelak akan mereka dapatkan.

Olehnya itu –wallahu a’lam-, Allah menyatakan setelah itu bahwa seluruh manusia berada dalam kerugian. Maksudnya adalah orang-orang yang menyia-nyiakan kesempatan usia yang Allah telah berikan kepada mereka. Adapun orang-orang yang berhasil memanfaatkan kesempatan usia mereka, maka mereka itu tidaklah masuk dalam golongan orang-orang yang dikategorikan sebagai orang-orang yang merugi. Karenanya, -setelah- menyebutkan bahwa seluruh manusia berada dalam kerugian, Allah menyebutkan pengecualian dari golongan manusia tadi. Siapa golongan yang dikecualikan itu ?. Mereka itu adalah golongan yang mampu menggabungkan antara 4 hal, yaitu; iman, amal, dakwah, dan sabar.

Iman

Yang dimaksud dengan iman adalah keyakinan yang benar akan seluruh ajaran Allah. Namun iman yang dimaksud tidaklah akan tumbuh bersemi dalam jiwa seorang tanpa landasan ilmu. Olehnya, ilmu dalam agama adalah merupakan hal utama yang mesti dimiliki oleh siapa saja yang ingin menjadi muslim paripurna. Tanpa ilmu, maka keinginan untuk menjadi muslim kaffah hanyalah sekedar bualan dan angan-angan. Sebaliknya, dengan ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan seorang menuju surga-Nya. Allah berfirman;

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ [المجادلة : 11]

”Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (di atas mereka yang tidak berilmu).”. (al Mujaadilah; 11). Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda;

مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

”Barangsiapa yang Allah hendaki kebaikan baginya, niscaya Ia akan menjadikannya faham terhadap agama ini.”[3]. Allah berfirman;

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ [الزمر : 9]

“Katakanlah: \”Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?\” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.”. (az Zumar; 9). Allah berfirman;

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ [فاطر : 28]

”Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (orang-orang yang berilmu).”. (Faathir; 28)

Demikianlah kedudukan ilmu dalam agama yang mulia ini. Ia adalah sesuatu yang menempati urutan pertama, karena hanya dengannyalah iman akan tumbuh dalam jiwa seseorang. Namun, hal yang harus diingat bahwa ilmu tidaklah akan datang secara sekonyong-konyong tanpa ada sebab. Tidak demikian, namun untuk mendapatkannya diperlukan usaha, pengorbanan dan kesabaran. Olehnya itu, Rasulullah bersabda;

إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ

“Ilmu itu hanyalah bisa diperoleh dengan belajar.”[4]. Maka ketika seorang telah melakukan upaya yang sungguh-sungguh dan ikhlas untuk mempelajari ilmu agama ini, ketika itulah Allah akan memberikan berbagai macam hikmah-Nya kepada orang tersebut, sebagaimana firman-Nya;

وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [البقرة : 282]

“Bertakwalah kepada Allah; niscaya Allah akan mengajarmu; dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”.  (al Baqarah; 282). Allah berfirman;

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ [العنكبوت : 69]

“Dan orang-orang yang berupaya secara bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”. (al Ankabuut; 69). Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda;

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang menempuh sebuah jalan untuk menuntut ilmu agama, niscaya Allah akan mudahkan baginya satu jalan menuju surga-Nya.”[5].

Amal

Hal kedua yang mesti ada bagi seorang yang menginginkan kebahagiaan adalah amal. Amal adalah buah dari ilmu. Ilmu tanpa amal ibarat sebuah pohon yang tidak bermanfaat. Bahkan tidak sebatas itu, Allah akanlah sangat murka kepada orang-orang yang tidak mengamalkan ilmu (hal-hal wajib) yang telah diketahuinya. Allah berfirman;

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ(2)كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ(3)

”Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. (Ash-shaf; 2-3).

Seorang muslim adalah orang yang menggabungkan antara ilmu dan amal. Adapun yang selainnya, maka mereka itu tidaklah berjalan secara berimbang; orang Nashrani berjalan tanpa ilmu, hingga mereka pun menjadi orang-orang yang sesat; sedangkan orang-orang Yahudi, tidak mengindahkan perintah dan larangan Allah sedang mereka mengetahui aturan-aturan Allah, yang dengannya Allah pun menggolongkan mereka sebagai orang-orang yang dimurkai oleh-Nya.

Dakwah

Setelah iman dan amal, perkara ketiga yang mesti dijalani oleh perindu-perindu akhirat adalah dakwah, menyebarkan agama yang mulia ini untuk kemanfaatan seluruh alam.

Dakwah, menyebarkan dan menyampaikan risalah ini ke seantero dunia adalah tugas utama dan tanggungjawab terbesar yang harus dipikul oleh siapa saja yang mengatas-namakan diri mereka ummat Muhammad shallallaahu \’alaihi wasallam. Allah ta\’ala berfirman;

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

\”Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.\” (Ali Imraan; 110)

Dakwah adalah merupakan kewajiaban yang Allah ta\’ala bebankan kepada nabi-Nya dan kepada seluruh pengikutnya. Allah ta\’ala berfirman;

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

\”Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al Qur\’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam,\” (Al-furqaan; 1)

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي

\”Katakanlah: \”Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata.\” (Yusuf; 108)

Setiap ummat Muhammad shallallaahu \’alaihi wasallam wajib untuk mengemban tugas mulia ini sesuai dengan kadar kemampuan mereka masing-masing. Bilamana sebahagian (yang cukup) dari kaum muslimin telah focus untuk melaksanakan kewajiban ini, gugurlah kewajiban sebahagian yang lain. Namun, bila tidak seorangpun atau hanya sedikit dari kaum muslimin yang secara focus mau mengemban amanah ini, niscaya akan berdosalah seluruh manusia yang mampu melakukannya, tetapi ia enggan atau malas. Allah ta\’ala berfirman;

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

\”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.\” (Ali Imraan; 104). Berkata Al-imam Ibnu Katsir rahimahullah[6];

والمقصود من هذه الآية أن تكون فرْقَة من الأمَّة متصدية لهذا الشأن، وإن كان ذلك واجبا على كل فرد من الأمة بحسبه، كما ثبت في صحيح مسلم عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: \”مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَده، فَإنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أضْعَفُ الإيمَانِ\”.

\”Maksud dari ayat ini adalah; wajib bagi sebahagian dari ummat ini memfokuskan dirinya secara sungguh-sungguh dalam melaksanakan dakwah di jalan Allah, meski tugas ini -pada hakiaktnya- merupakan tanggung jawab seluruh kaum muslimin sesuai dengan kadar kesanggupan mereka masing-masing. Rasulullah shallallahu \’alaihi wasallam bersabda;

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

\”Barangsiapa diantara kalian yang menyaksikan sebuah kemungkaran, hendaklah ia merubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampum maka hendaklah ia mengubahnya dengan lisannya. Dan jika ia belum -juga- sanggup, maka hendaklah ia membencinya didalam hati; yang demikian itulah serendah-rendahnya iman.\”.”[7].

Dakwah ke jalan Allah ta\’ala, dan senantiasa beramal adalah sebaik-baik ibadah yang dilakukan oleh seorang hamba kepada Rabb-nya. Allah ta\’ala berfirman;

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

\” Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: \”Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?\” (Fushshilat; 33). Rasulullah shallallahu \’alaihi wasallam bersabda;

إِنَّ الدَّالَّ عَلَى الْخَيْرِ كَفَاعِلِهِ

\”Seorang yang menunjuki saudaranya sebuah kebaikan, akan mendapat pahala yang sama dengan kebaikan yang dilakukan oleh orang tersebut.\”[8].

Kebutuhan ummat akan dakwah yang benar, sungguh amat mendesak. Fitnah yang tengah menggergoti kaum muslimin, baik dari dalam maupun dari luar; tidak akan mungkin ditepis melainkan dengan dakwah yang benar dan sungguh-sungguh. Karena itu, dakwah -sekali lagi- merupakan sebuah hal yang wajib untuk dilakukan oleh segenap komponen masyarakat muslim sesuai dengan kadar kemampuan mereka masing-masing. Rasulullah shallallahu \’alaihi wasallam bersabda;

الدين النصيحة

\”Agama itu adalah nasehat\”[9], maksudnya bahwa nasehat adalah satu diantara unsur terpenting yang membangun agama ini. Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda;

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنْ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ

“Demi Zat Yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sungguh engkau akan benar-benar menyeru kepada yang baik dan mencegah dari yang mungkar, atau Allah benar-benar akan menurunkan hukuman-Nya atas kalian; hingga jika kalian berdo\’a, niscaya Allah ta\’ala tidak akan mengabulkannya.”[10].

Hal lain yang perlu diperhatikan berkenaan dengan persoalan dakwah adalah adab dalam menyampaikan dakwah atau nasehat kepada orang lain. Beberapa adab yang dimaksud adalah;

a. Ikhlas dalam menyampaikannya; ikhlas untuk melaksanakan ibadah kepada Allah dan sungguh-sungguh menginginkan kebaikan bagi seluruh yang menjadi objek dari dakwah yang disampaikan.

b. Hendaklah penyampaian sebuah nasehat dikondisikan secara proporsional. Nasehat yang ditujukan kepada orang tertentu, hendaklah disampaikan langusng kepada orang tersebut dan tidak disebarkan ke khalayak ramai yang pada akhirnya akan mencoreng nama baik saudara kita dan akan berdampak negative bagi ummat secara umum. Adapun nasehat yang disampaikan secara umum kepada khalayak ramai akan sebuah fenomena umum yang melanda sebuah komunitas, maka tidak mengapa menyampaikannya di forum terbuka dengan tetap menjaga maslahat yang hendak dituju dari penyampaian nasehat itu.

c. Hendaklah nasehat yang disampaikan berdasar kepada ilmu, baik ilmu yang berkenaan dengan materi nasehat tersebut, ilmu yang berekenaan dengan kondisi dari objek yang diberi nasehat, dan ilmu akan tata cara yang syar’I dalam memberikan nasehat. Nasehat yang disampaikan berdasarkan ilmu –tentulah- akan membuahkan hasil yang baik.

d. Hendaklah nasehat tersebut disampaikan secara hikmah. Allah berfirman;

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ (125) [النحل : 125]

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”[11]. (an Nahl; 125)

Allah berfirman kepada Musa dan Harun –‘alaihimassalaam- berkenaan dengan nasehatnya kepada seburuk-buruk orang sepanjang sejarah kemanusiaan;

اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى (43) فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى (44) [طه : 43 ، 44]

“Pergilah kamu berdua kepada Fir`aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.”. (Thaaha; 43-44). Dalam ayat ini, Allah memerintahkah Musa dan Harun –’alahimassalaam- agar menyampaikan kata-kata yang halus kepada Fira’un dengan firman-Nya; ”Semoga dengan penyampaian tersebut ia (Firaun) akan ingat dan takut akan Allah.”. Maka bila saja nabiullah Musa dan Harun diperintahkan untuk bertutur kata yang lembut kepada seorang yang telah Allah ketahui kekalnya ia dalam kekafiran, dan bahwa ia tidaklah akan beriman untuk selamanya; maka mengapakah perkataan-perkataan yang lembut itu –justru- diharamkan oleh sabagian muslim kepada sebagian dari saudaranya ?!!. Olehnya, berlaku santun terhadap objek dakwah adalah hal yang wajib untuk dilakukan oleh setiap muslim. Allah berfirman kepada Rasulullah –shallallahu ’alaihi wa sallam-;

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ (159) [آل عمران : 159]

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma`afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”. (Ali Imraan; 159)

Hal lain yang juga perlu diketahui untuk menyemangati para pendakwah dan agar mereka tidak surut dari langkahnya bahwa manusia itu adalah makhluk sosial. Ia tinggal bersama dengan makhluk-makhluk lainnya. Sebagimana ia memiliki hak yang mesti dihormati, orang lain pun memiliki hak seperti yang ia miliki. Sebagai konsukwensi logis dari hal tersebut timbullah \”kewajiban\” yang harus dilaksanakan demi terwujudnya kemaslahatan bersama.

Seorang yang sedang sakit, tentulah akan merasa terusik, terganggu dan marah, bila tetangganya memutar radio dengan suara yang keras. Kemarahan tersebut akan lebih memuncak bila ia menegur tetangganya itu, lantas ia berkata; \”Rumah, rumah saya. Radio, radio saya. Apa urusan kamu ?!.\”.

Karena itu, di dalam islam tidak dikenal adanya hak individu, bilamana hal tersebut bersinggungan dengan kepentingan orang lain. Bahkan, bila seseorang melihat saudaranya hendak mencelakakan dirinya sendiri, wajiblah bagi orang tersebut untuk mencegahnya, meski ia berkata; \”Urusilah dirimu sendiri, toh saya tidak menyakitimu !\”.

Nasehat dan dakwah adalah satu diantara kewajiban terbesar dalam agama. Tujuan dari ibadah ini berputar pada tiga hal, yaitu;

a. Untuk menyuarakan kebenaran, sebagaimana firman-Nya;

رُسُلاً مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلاَّ يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ ( النساء : 165 )

“(Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu.”. (an Nisaa; 165)

b. Untuk melepaskan diri dari kewajiban menyuarakan kebenaran, sebagaimana firman-Nya;

وَإِذْ قَالَتْ أُمَّةٌ مِنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا اللَّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا قَالُوا مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ [الأعراف : 164]

“Dan (Ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: \”Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?.\”. Mereka menjawab: \”Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa.”. (al A’raaf; 164)

c. Untuk memberi kemanfaatan kepada pihak yang diberi nasehat, sebagaimana firman-Nya;

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنفَعُ المُؤْمِنِينَ (الذاريات : 55 )

”Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.”. (ad Dzaariyaat; 55)

Sabar

Sabar adalah satu diantara semulia-mulia akhlak yang dimiliki oleh seorang muslim. Hanya dengan sifat inilah, seorang akan meraih seluruh hasil yang didambakannya dari segenap amalan yang telah dilakoninya di muka bumi ini. Olehnya itu, maka Allah memerintahkan kaum muslimin untuk menghiasi kepribadiannya dengan akhlak ini. Allah berfirman;

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ [الأحقاف : 35]

“Maka Bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul.”. (al Ahqaaf; 35)

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ [النحل : 127]

“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah.”. (an Nahl; 127)

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ [الزمر : 10]

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”. (az Zumar’ 10)


[1] HR. at Thabraani, lihat “Silsilah al Ahaadiits as Shahiihah”, no. 2648

[2] Ruuh al Ma’aani, oleh al Aluusi, (30/227)

[3] HR. Bukhari, no. 69

[4] HR. Baihaqi, di dalam “Syu’ab al Imaan”, no. 10254

[5] HR. Tirmidzi, no. 2570

[6] Tafsir al Quran al ‘Adzhiim, (2/91)

[7] HR. Muslim, no. 70

[8] HR. Tirmidzi, no. 2594

[9] HR. Muslim, no. 82

[10] HR. Tirmidzi, nomor 2095

[11] Diantara faidah yang bisa diperoleh dari ayat ini bahwa manusia terbagi dalam 3 kategori -berkaitan dengan upaya amar ma\’ruf nahi munkar yang dilakukan kepadanya-;

ÿ                  Golongan pertama adalah golongan orang-orang jahil (tidak tahu), namun mereka memiliki kesiapan untuk segera melaksanakan sebuah kebaikan tatkala seorang memberitahunya. Golongan semacam ini, hendaklah diberi pengarahan dengan \”hikmah\”, seperti yang tertera dalam ayat tersebut.

ÿ                  Golongan kedua adalah golongan orang-orang jahil lagi malas, tatkala diberitakan sebuah kebenaran kepadanya, ia terima tetapi tidak segera mengaplikasikannya, disebabkan kurangnya perhatian atau kemalasan yang menjadi sifatnya. Golongan orang semacam ini, hendaklah diarahkan dengan memberinya \”mau\’idzah\” (pelajaran yang baik), misalnya dengan pemberian motivasi, baik berupa ancaman, anjuran, serta pemaparan akan ganjaran yang akan mereka terima dari segala kebaikan yang telah mereka kerjakan.

ÿ                  Golongan ketiga adalah golongan orang-orang yang membangkang terhadap kebenaran yang disampaikan kepadanya. Golongan semacam ini, hendakalah diarahkan dengan cara berdialog atau diskusi, namun dengan cara yang baik dan terarah.

Adapun golongan pembangkang, yang tidak lagi mau mendengarkan nasehat, maka Allah berfirman;

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنْفُسِهِمْ قَوْلًا بَلِيغًا [النساء : 63]

“Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan Katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.”. (an Nisaa; 63)

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ [الأعراف : 199]

“Jadilah Engkau Pema\’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma\’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.”. (al A’raaf; 199)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top

Kegiatan Perkuliahan
3 Maret 2026

Silakan menyimak lanjutan penjelasan mengenai “Dunia Islam di Masa Keemasan” melalui tautan YouTube ini.

Setelah menyimak materi tersebut, lakukan analisis dengan menjawab pertanyaan berikut:

  1. Apa saja faktor-faktor yang menjadi penyebab kebangkitan dunia Islam pada tiga masa keemasan tersebut?
  2. Apa saja faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran dunia Islam pada masing-masing masa tersebut?

Untuk mempertajam analisis, silakan membaca kembali materi perkuliahan sebelumnya sebagai bahan pendukung.

Tuliskan hasil analisis Anda pada kolom komentar YouTube dari video yang telah disimak!
Jangan lupa mencantumkan inisial nama di bagian akhir komentar.