Salah satu ciri orang beriman adalah percaya kepada seluruh hal ghaib yang diberitakan Allah ta\’ala di dalam Al-qur’an atau disampaikan oleh rasul-Nya melalui hadits-hadits Beliau. Allah ta\’ala berfirman;
الذين يؤمنون بالغيب
\”Orang-orang bertakwa adalah orang-orang yang percaya kepada segala hal ghaib.\”. Pernah Rasulullah shallallahu \’alaihi wasallam bertanya kepada para sahabatnya;
أي الخلق أعجب إليكم إيمانا ؟.
\”Menurut kalian, makhluk apakah yang paling bagus keimanannya ?.\”.
قالوا؛ الملائكة.
\”Mereka berkata; para malaikat.\”.
قال: وما لهم لا يؤمنون وهم عند ربهم.
Rasulullah shallallahu \’alaihi wasallam bersabda; apakah yang menghalangi mereka untuk beriman, sedangkan mereka berada di sisi Rabb-Nya ?!.
قالوا؛ فالنبيون.
Mereka berkata; -kalau begitu- para nabi.
قال؛ وما لهم لا يؤمنون والوحي ينزل عليهم.
Rasulullah shallallahu \’alaihi wasallam bersabda; apakah yang menghalangi mereka untuk beriman, sedangkan wahyu turun kepada mereka ?!.
قالوا؛ فنحن.
Mereka berkata; -kalau demikian- maka kami.
قال؛ وما لكم لاتؤمنون وأنا بين أظهركم. فقال؛ ألا إن أعجب الخلق إلي إيمانا لقوم يكونون من بعدكم يجدون صحفا فيها كتاب يؤمنون بما فيها.
Rasulullah shallallahu \’alaihi wasallam bersabda; apakah yang menghalangi kalian untuk beriman, sedangkan saya berada di tengah-tengah kalian ?. Sesungguhnya orang yang paling mengagumkan keimanannya bagiku adalah sebuah kaum yang datang setelah kalian. Meski mereka -hanya- dapat membaca lembaran-lembaran kitab ini, namun mereka beriman terhadap seluruh yang ada padanya.
Salah satu kabar ghaib yang wajib untuk diimani oleh setiap muslim adalah adanya kehidupan setelah kematian. Kematian adalah sebuah keniscayaan. Allah ta\’ala berfirman;
كل نفس ذائقة الموت ثم إلينا ترجعون
\”Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.\”. (Al-ankabuut; 57). Karena kematian itu adalah sebuah keniscayaan, maka sebenarnya tidak ada yang mesti dikhawatirkan darinya. Hanya saja yang menjadi masalah serius adalah; “Apa yang terjadi setelah kematian ?”.
Setiap muslim pasti yakin bahwa manusia akan mempertanggung jawabkan seluruh perilakunya di dunia di hadapan Allah ta\’ala -kelak-. Namun demikian, masih ada saja orang-orang yang mengingkarinya dan tidak percaya akan adanya hari pembalasan. Terhadap mereka, Allah berfirman;
أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَمْ يَعْيَ بِخَلْقِهِنَّ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتَى بَلَى إِنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (الأحقاف ؛ 33)
\”Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi dan Dia tidak merasa payah karena menciptakannya, -juga- kuasa menghidupkan orang-orang mati? Ya (bahkan) sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Al-ahqaaf; 33)
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ ( المؤمنون ؛ 115)
\”Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?.\”. (al Mukminuun; 115). Karenanya, -sekali lagi- orang beriman adalah orang-orang yang percaya akan adanya hari pembalasan.
Awal dari hari itu tiada lain adalah kematian. Itulah awal dari hari yang menentukan. Bila kematian telah datang, tak ada satupun kekuatan yang sanggup untuk menghalanginya. Tua, muda … pria, wanita … pejabat atau bawahan … kaya atau miskin; seluruhnya pasti akan berpisah dari kemegahan dunia, menjemput kematian yang hadir di depan matanya. Allah berfirman;
وما كان لنفس أن تموت إلا بإذن الله كتابا مؤجلا
\”Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melaimkan dengan izin Allah ta\’ala, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya.\”. (Ali Imraan; 145). Disebutkan dalam sebuah riwayat, tentang kisah Jalil Al-qadri, seorang mentri di masa pemerintahan nabi Sulaiman -alaihissalam-; suatu ketika, nabiullah Sulaiman duduk bersama para mentrinya. Lantas masuklah seorang lelaki memberi salam dan membisikkan sesuatu kepada Beliau. Lelaki itu memandang tajam ke arah Jalil sehingga ia ketakutan. Ketika lelaki itu keluar, sang mentri bertanya; siapakah lelaki itu ?. Kemudian nabi Sulaiman menjawab; ia adalah malaikat maut yang menjelma menjadi manusia. Seketika itu gemetarlah sang mentri lalu menangis dan meminta kepada nabi Sulaiman agar diterbangkan ke tempat yang sangat jauh, yaitu; India. Keesokan harinya, malaikat maut -kembali- datang menemui nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman berkata; kemarin engkau telah membuat mentriku sangat takut kepadamu. Malikat itu berkata; wahai nabiullah, sesungguhnya saya sangat terkejut melihat laki-laki itu masih berada di sisimu, padahal Allah telah memerintahku untuk mencabut nyawanya di negri India. Nabi Sulaiman bertanya; lantas apa yang engkau lakukan ?. Malaikat menjawab; saya pergi ke tempat yang Allah perintahkan untuk mencabut nyawa orang itu, dan saya dapati orang tersebut telah berada di tempat itu. Allah berfirman;
قل إن الموت الذي تفرون منه فإنه ملاقيكم ثم تردون إلى عالم الغيب والشهادة فينبئكم بما كنتم تعملون
\”Katakanlah: \”Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada Zat yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan\”. (Al-jum’ah; 8)
Kalau demikian, apakah yang akan terjadi terhadap ruh dan badan seseorang setelah kematian datang menjemputnya ?. Dijelaskan dalam hadits Al-barra’ bin ‘Azib -radhiyallahu ‘anhu-, bahwa pada saat ajal manusia datang menjemput, maka manusia terbagi dalam dua golongan; golongan orang-orang yang berbahagia dan golongan orang-orang yang sengsara.
Adapun kelompok yang berbahagia, inilah perjalanannya;
1. Tatkala kematiannya telah menjelang, para malaikat turun membawa kafan dan wewangian dari syurga. Para malaikat yang jumlahnya sejauh mata memandang duduk disekitarnya.
2. Malaikat maut datang dan duduk di sisi kepalanya, lantas ia berkata; keluarlah wahai jiwa yang baik. Keluarlah menuju ampuanan dan rahmat Allah ta\’ala.
3. Keluarlah jiwanya, sebagaimana mengalirnya air dari mulut teko.
4. Jiwa orang tersebut diletakkan di atas kafan dan dipakaikan wewangian dari syurga, hingga wanginya amatlah semerbak.
5. Ruh orang shaleh tersebut diantar menuju langit tempat Allah ta\’ala bersemayam. Setiap kali ruh tersebut melewati para malaikat, mereka bertanya; siapakah ruh yang baik ini ?. Lantas disebutkanlah ia dengan sebaik-baik namanya di dunia. Setiap kali akan melewati lapisan langit, dibukalah pintu langit itu, kemudian rombongan malaikat yang mengantarnya melanjutkan perjalanannya hingga ke langit tempat Allah ta\’ala bersemayam.
6. Tatkala telah sampai ke langit tempat Allah ta\’ala bersemayam, Ia berfirman; “catatlah ketetapan hamba-Ku ini di dalam kitab ‘Illiyyin. Kembalikanlah ruhnya ke bumi; sesungguhnya Saya telah menciptakannya dari tanah, padanya Saya mengembalikannya dan darinya Saya -kembali- akan mengeluarkannya”.
7. Ketika ruhnya telah dikembalikan ke bumi, datanglah dua orang malaikat yang mendudukkannya, lantas bertanya;
Siapa Tuhan-mu ? ….. ia jawab; Allah ta\’ala
Apa agamamu ? ……… ia jawab; islam
Siapakah laki-laki yang telah diutus bagi kalian ? ….. ia jawab; Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Bagaiman engkau mengetahuinya ? ….. ia jawab; dahulu saya membaca Al-qur’an, lantas saya beriman terhadap segala isinya.
8. Setelah ia berhasil menjawab pertanyaan ke-2 malaikat tersebut, terdengarlah suara penyeru dari langit; “Sungguh benar jawaban hamba-Ku, berilah ia kasur dari syurga, bukalah baginya pintu menuju syurga”. Kemudian, kuburnya pun diluaskan sejauh mata memandang.
9. Ketika itu, datanglah seorang laki-laki yang sangat tampan menemuinya. Laki-laki itu berkata; bergembiralah !, inilah hari yang telah di janjikan bagimu.
10. Orang shaleh itu berkata; sipakah engkau ?. Raut wajahmu seakan memberi pertanda kebaikan. Laki-laki itu menjawab; akulah amalan-amalan shaleh yang telah engkau lakukan di dunia. Mendengar pernyataan laki-laki itu, orang shaleh tersebut berkata; ya Allah ta\’ala, percepatlah kiamat agar saya dapat bertemu dengan keluarga dan segala kenikmatan yang telah Engkau sediakan untukku.
Adapun kelompok yang sengsara, inilah perjalanannya;
1. Tatkala kematiannya telah menjelang, para malaikat berwajah hitam turun membawa cairan yang sangat busuk. Para malaikat yang jumlahnya sejauh mata memandang duduk disekitarnya.
2. Malaikat maut datang dan duduk di sisi kepalanya, lantas ia berkata; keluarlah wahai jiwa yang kotor. Keluarlah menuju murka dan amarah Allah ta\’ala.
3. Keluarlah jiwanya, sebagaimana alat yang bergerigi ditarik dari kain wol yang basah.
4. Jiwa orang tersebut diletakkan pada cairan busuk tersebut hingga terciumlah bau busuk yang amat menyengat.
5. Ruh orang durhaka tersebut diantar menuju langit. Setiap kali ruh tersebut melewati para malaikat, mereka bertanya; siapakah ruh yang buruk ini ?. Lantas disebutkanlah ia dengan seburuk-buruk namanya di dunia.
6. Tatkala telah sampai ke langit dunia, malaikat meminta agar pintu langit dibuka, namun pintu langit tidaklah dibuka. Demikian itu makna dari firman Allah ta\’ala;
إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ (الأعراف ؛ 40)
\”Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lobang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.\”. (Al-a’raaf; 40)
7. Ketika itu, Allah ta\’ala berfirman; “catatlah ketetapannya di dalam sijjiin”. Selanjutnya, dilemparlah ruhnya kembali ke bumi. Demikianlah firman Allah ta\’ala;
وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ (الحج ؛ 31)
\”Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.\”. (Al-hajj; 31)
8. Ketika ruhnya telah dikembalikan ke bumi, datanglah dua orang malaikat yang mendudukkannya, lantas bertanya;
Siapa Tuhan-mu ? ….. ia jawab; tidak tahu
Apa agamamu ? ……… ia jawab; tidak tahu
Siapakah laki-laki yang telah diutus bagi kalian ? ….. ia jawab; tidak tahu.
9. Setelah gagal menjawab pertanyaan ke-2 malaikat tersebut, terdengarlah suara penyeru dari langit; “Sungguh hamba-Ku itu telah dusta, berilah ia kasur dari neraka, bukalah baginya pintu menuju neraka”. Kemudian, kuburnya pun disempitkan hingga menjepit dan meremukkan tulang belulangnya.
10. Ketika itu, datanglah seorang laki-laki yang sangat buruk wajahnya. Laki-laki itu berkata; bergembiralah akan hari kesengsaraanmu!, inilah hari yang telah di janjikan bagimu. Orang durhaka itu berkata; sipakah engkau ?. Raut wajahmu seakan memberi pertanda buruk. Laki-laki itu menjawab; akulah amalan-amalan jahat yang telah engkau lakukan di dunia. Mendengar pernyataan laki-laki itu, orang durhaka tersebut berkata; ya Allah, janganlah engkau datangkan hari kiamat …
Demikianlah perjalanan yang akan ditempuh oleh ruh seorang manusia di alam kubur. Hari itu … betul-betul merupakan hari penetuan; kalau baik, maka beruntunglah ia; tetapi jika tidak baik, maka sungguh merugilah orang tersebut. Rasulullah shallallahu \’alaihi wasallam bersabda;
القبر روضة من رياض الجنة أو حفرة من حفر النار
\”Alam kubur -mungkin- merupakan salah satu taman diantara taman-taman syurga dan mungkin -pula- merupakan lubang diantara lubang-lubang neraka.\”.
القبر أول منازل الآخرة فإذا نجا العبد فيه أفلح وسعد وإذا خسر خسر آخرته كلها
\”Kubur adalah awal kehidupan baru manusia di negeri akhirat. Bila ia berbahagia di tempat itu, maka sungguh akan berbahagialah ia. Namun bila ia sengsara di negeri tersebut, sungguh akan sengsaralah ia untuk selama-lamanya.\”.
Setelah mendengar kabar dari Rasulullah shallallahu \’alaihi wasallam tentang perjalanan diri setelah wafat, tinggallah sebuah pertanyaan; “Adakah hati-hati kita terketuk untuk memperbaiki segala kesalahan sebagai persiapan menuju kampung yang abadi ?!”. Allah ta\’ala berfirman;
ألم يأن للذين آمنوا أن تخشع قلوبهم لذكر الله وما نزل من الحق
\”Belumkah datang waktunya bagi orang-orang mukmin untuk tunduk hati-hati mereka mengingat Allah ta\’ala dan kepada kebenaran yang telah turun kepada mereka ?.\”. (Al-hadiid; 16)
Inilah peringatan Allah ta\’ala kepada orang-orang beriman. Orang-orang yang lunak hati-hati mereka terhadap segala peringtan Allah ta\’ala. Sebaliknya, kepada orang-orang yang telah membantu hatinya, Allah ta\’ala berfirman;
فويل للقاسية قلوبهم من ذكر الله أولئك في ضلال مبين
Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (Az-zumar; 22)
Lantas bagaimanakah terapi untuk melunakkan hati-hati kita ?. Diantaranya adalah;
1. Membaca Al-qur’an dan memahaminya.
Allah ta\’ala berfirman;
يا أيها الناس قد جاءتكم موعظة من ربكم وشفاء لما في الصدور وهدى ورحمة للمؤمنين
\”Wahai sekalian manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit yang berada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.\”. (Yunus; 57)
2. Memperbanyak dzikir (mengingat) Allah ta\’ala.
Allah ta\’ala berfirman;
ألا بذكر الله تطمئن القلوب
\”Ketahuilah, hanya dengan dzikir kepada Allah ta\’ala -semata- hati seseorang akan menjadi tentram.\”. (Ar-ra’du; 28)
3. Menghadiri majelis-majelis ilmu.
Rasulullah shallallahu \’alaihi wasallam dalam sebuah haditsnya menggambarkan bahwa orang-orang yang duduk dalam sebuah majelis ilmu;
نزلت عليهم السكينة وغشيتهم الرحمة وحفتهم الملائكة وذكرهم الله فيمن عنده
\”Ketenangan akan turun kepada mereka, rahmat akan meliputi mereka, malaikat akan menaungi mereka dan Allah akan senantiasa membangga-banggakan mereka di hadapan para malaikat-Nya.\”.
4. Banyak-banyak mengingat kematian, menghadiri orang yang tengah menghadapi sakratul maut dan melakukan ziarah kubur. Rasulullah shallallahu \’alaihi wasallam bersabda;
أكثروا من ذكر هادم اللذات
\”Perbanyaklah mengingat sesuatu yang akan menghancurkan segala kelezatan hidup duniawi.
زوروا القبور فإنها تذكركم الآخرة
\”Ziarahilah kubur, karena itu akan mengingatkanmu kepada kematian.\”.
Demikian sekelumit kejadian yang akan menghiasi bagian dari hari setiap manusia –kelak- di akhirat. Semoga menjadi nasehat yang bermanfaat bagi kami dan bagi seluruh kaum muslimin. Semoga Allah menyelamatkan seluruh kaum muslimin dari kesengsaraan dan mengumpulkan kita semua di surga tertinggi, al Firdaus al A\’laa.