Untuk file downloade, klik http://www.scribd.com/share/upload/15004216/9ufvz5atys7yqkd04ug
Allah berfirman:
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ [الأنعام/153]
\”Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.\”. (al An\’aam; 153)
Ayat ini adalah satu diantara ayat yang berisi seruan kepada seluruh manusia untuk senantiasa komitmen dalam meniti jalan yang lurus, tidak menempuh jalan kesesatan dan agar mereka senantiasa bersatu di atas jalan tersebut serta tidak bercerai berai.
Apa yang dimaksud jalan yang lurus ?. Jalan yang lurus tiada lain adalah jalan yang telah disebutkan oleh Allah di dalam al Quran, dijabarkan oleh Rasulullah ––shallallahu \’alaihi wasallam- lewat sunnahnya dan disampaikan serta dijelaskan kepada kita oleh para ulama sebagai pewaris para nabi; demikian inilah jalan yang lurus, jalannya orang-orang beriman. Allah berfirman:
قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ (15) يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ [المائدة/15، 16]
\”Sesungguhnya Telah datang kepadamu cahaya dari Allah (Rasulullah ––shallallahu \’alaihi wasallam-) , dan Kitab yang menerangkan [al Quran]. Dengan Kitab Itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.\”. (al Maaidah; 15-16)
Demikianlah ayat ini menjelaskan bahwa jalan-jalan keselamatan itu hanya dapat ditempuh dengan berpedoman kepada al Quran. Allah berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (31) قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ (32) [آل عمران/31، 32]
\”Katakanlah: \”Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.\”, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: \”Ta\’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.\”. (Ali Imraan; 31-32). Rasulullah ––shallallahu \’alaihi wasallam- bersaba:
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى
\”Seluruh ummatku akan masuk ke dalam surga kecuali orang-orang yang enggan. Para sahabat bertanya; siapa mereka yang enggan itu wahai Rasulullah ––shallallahu \’alaihi wasallam-?. Rasulullah ––shallallahu \’alaihi wasallam- : barangsiapa yang taat kepadaku, maka ia akan masuk surga. Dan barangsiapa yang mengingkariku, maka sungguh dialah yang enggan.\”[1].
Maka sepeninggal Rasulullah ––shallallahu \’alaihi wasallam-, agama ini –selanjutnya- dijelaskan oleh para pewaris nabi, mereka itulah para ulama. Rasulullah ––shallallahu \’alaihi wasallam- bersabda:
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ
\”Sesungguhnya para ulama itu adalah pewaris sekalian nabi.\”[2]. Dalam riwayat lain, Beliau ––shallallahu \’alaihi wasallam- bersabda:
يحمل هذا العلم من كل خلف عدوله ينفون عنه تحريف الغالين وانتحال المبطلين وتأويل الجاهلين
\”Ilmu agama ini dibawa pada setiap generasi oleh orang-orang terpercaya. Merekalah yang senantiasa menjaga kemurnian agama ini dari penyimpangan orang-orang ekstrim (guluw), sesat dan bodoh.\”[3].
Olehnya, maka orang-orang yang menyelisi jalan mereka … jalannya orang-orang muslim … jalan yang lurus … mereka itulah orang-orang yang sesat. Allah berfirman:
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا [النساء/115]
\”Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti selain jalan yang yang telah ditempuh oleh orang-orang mukmin, Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.\”. (an Nisaa\’; 115)
Faidah lain dari ayat ini –selain perintah untuk senantiasa meniti jalan yang lurus- adalah perintah untuk senantiasa bersatu di atas jalan tersebut dan tidak bercerai-berai atau melakukan tindakan-tindakan yang dapat menghancurkan nilai-nilai persaudaraan dikalangan ummat. Maka diantara sebesar-besarnya perkara yang dapat mencabik-cabik nilai persaudaan kaum muslimin adalah melakukan bid\’ah … mengada-adakan tatacara beragama yang tidak dicontohkan … tidak taat kepada Allah dan rasul-Nya. Orang yang melakukan bid\’ah, sungguh ia akan semakin jauh dari agama Allah, dan dikhawatirkan bahwa hal tersebut akan mengeluarkannya dari wilayah Islam. Rasulullah ––shallallahu \’alaihi wasallam- bersabda;
يكون في أمتي قوم يكفرون بالله وبالقرآن وهم لا يشعرون كما كفرت اليهود والنصارى
\”Akan muncul dari ummat ini suatu kaum; mereka kafir terhadap Allah -ta’ala- dan Al-qur\’an sebagaimana orang-orang yahudi dan nashrani kafir kepada keduanya, sedang mereka tidaklah menyadari akan hal tersebut.\”[4], … mereka menyangka bahwa rutinitas yang mereka lakukan adalah baik, sementara rutinitas tersebut tidaklah bernilai di hadapan Allah. Allah berfirman:
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا (103) الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا (104) [الكهف/103، 104]
\”Katakanlah: \”Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?\”. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.\”. (al Kahfi; 103-104). Sufyan At-tsauri –rahimahullah- berkata;
البدعة أحب إلى إبليس من المعصية; المعصية يتاب منها, والبدعة لا يتاب منها
\”Perbuatan bid\’ah itu lebih disenangi oleh iblis dari pada perbuatan maksiat. Seorang (akan lebih mudah) bertaubat dari perbuatan maksiat yang ia lakukan, sedangkan pelaku bid\’ah tidak akan (sukar) bertaubat dari perlakuannya itu.\”[5].
Olehnya maka hendaklah setiap muslim bertakwa kepada Allah dengan senantiasa berpegang teguh dengan jalan Allah yang lurus … mengikuti Allah dan rasul-Nya … kembali kepada para ulama … bersatu di atas jalan yang lurus dan tidak berpecah belah serta masuk ke dalam kelompok-kelompok yang menyimpang. Allah berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا [آل عمران/103]
\”Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.\”. (Ali Imraan; 103)
وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ [الأنفال/46]
\”Dan taatlah kepada Allah dan rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.\”. (al Anfaal; 46)
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (43) بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ [النحل/43، 44]
\”Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui akan keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab.\”. (an Nahl; 43-44). Sahl bin \’Abdullah –rahimahullah- berkata;
عليكم بالاقتداء بالأثر والسنة, فإني أخاف أنه سيأتي عن قليل زمان إذا ذكر إنسان النبي صلى الله عليه وسلم والاقتداء به في جميع أحوال ذموه ونفروا عنه وتبرءوا منه وأذلوه وأهانوه.
\”Berpegang teguhlah kalian terhadap sunnah. Sesungguhnya saya khawatir, akan datang sebuah zaman; bila seseorang menyebut Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan kewajiban mengikutinya dalam segenap aspek kehidupan; ia lantas mencela, menghina dan melarang orang-orang mengikuti ajakan tersebut.\”[6].
[1] HR. Bukhari, no. 6737
[2] Shahih al Bukhari, (1/119)
[3] Misykaatu al Mashaabiih, no. 248
[4] Al Jaami\’e li Ahkaami al Quran, (7/141)
[5] Al Jaami\’e Li Ahkaami al Quran, (7/141), dan Syu\’ab al Imaan, no. 9135
[6] Al Jaami\’e Li Ahkaami al Quran, (7/139)