File downloade, http://www.scribd.com/doc/19158622/albaqarah31?secret_password=1cdvmc23ipsxzsxq4lz0
Diantara karakter yang dimiliki oleh orang-orang bertakwa adalah;
الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ [البقرة/3]
(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib,
Beberapa Faidah
a. Beriman kepada perkara ghaib adalah diantara ciri orang bertakwa
b. Keutamaan orang yang beeriman terhadap perkara ghaib
c. Hakikat iman
d. Iman berfluktuasi
Penjelasan.
a. Beriman kepada perkara ghaib adalah diantara ciri orang bertakwa
Diantara ciri orang bertakwa adalah beriman kepada hal-hal ghaib. Maksud dari perkara ghaib adalah segala perkara yang wujud, namun tidak terdeteksi oleh panca indra manusia.
Maka seorang yang beriman mempercayai akan keberadaan Allah, rasul-rasul terdahulu, surga, neraka, alam kubur, makhluk-makhluk halus yang dikabarkan keberadaannya oleh Allah dan rasul-Nya, berikut perbuatan dan perilaku mereka yang tidak nampak oleh manusia, dan lain-lain yang merupakan perkara ghaib.
Masuk pula dalam kategori iman kepada perkara ghaib yaitu iman akan takdir baik dan buruk yang telah Allah ta\’ala tetapkan bagi seseorang, dan bahwasanya perkara-perkara itu adalah perkara yang murni merupakan kewenangan Allah dan tidak ada seorang pun makhluk yang mengetahuinya. Allah berfirman;
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِين [الأنعام/59]
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).”. (al An’aam; 59)
Demikianlah, maka salah satu karakter utama yang dimiliki oleh seorang bertakwa adalah beriman kepada perkara-perkara ghaib.
b. Keutamaan orang yang beeriman terhadap perkara ghaib
Dan diantara keutamaan orang-orang yang beriman terhadap perkara ghaib adalah yang disebutkan dalam hadits Abu Jumu\’ah –radhiyallahu \’anhu-, Beliau berkata;
تَغَدَّيْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَمَعَنَا أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ. قَالَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ أَحَدٌ خَيْرٌ مِنَّا أَسْلَمْنَا مَعَكَ وَجَاهَدْنَا مَعَكَ قَالَ « نَعَمْ قَوْمٌ يَكُونُونَ مِنْ بَعْدِى يُؤْمِنُونَ بِى وَلَمْ يَرَوْنِى
“Pernah kami makan siang bersama Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan ketika itu bersama kami adalah Abu Ubaidah bin al Jarraah. Abu Ubaidah berkata; wahai Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, adakah seorang yang lebih dari kami (para sahabat), sedangkan kami telah langusng menyatakan keislaman kami kepadamu dan kami pulalah yang berjihad langsung bersamamu ?. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda; ya, mereka itu adalah kaum yang datang setelahku; mereka beriman kepadaku padahal mereka tidaklah melihatku.” [1]. Dari sisi inilah dinyatakan bahwa orang-orang beriman saat ini memiliki sisi lebih dari para sahabat terdahulu, sebagaimana sabda Rasulullah –shallallahu \’alaihi wasallam-;
لَيْسَ الْخَبَرُ كَالْمُعَايَنَة
“Tidaklah sama antara kabar yang didengar dengan menyaksikan secara langsung.”[2].
Namun hal yang perlu ditegaskan bahwa kelebihan tersebut tidaklah bersifat mutlak pada seluruh aspek, karena sesungguhnya tiada kurun terbaik melainkan kurunnya para sahabat, taabi\’ien dan at baut tabi\’en, sebagaimana sabda Rasulullah –shallallahu \’alaihi wasallam-;
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِى ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُم
“Sebaik-baik manusia adalah orang-orang yang hidup di zamanku (sahabat), kemudian orang yang hidup di zaman setelahnya (taabi’ien), kemudian orang yang hidup di zaman setelahnya (atbaaut taabi’ien).”.[3]
c. Hakikat iman
Hal lain dari ayat ini bahwa hakikat iman adalah kolaborasi (perpaduan) antara apa yang diyakini oleh hati, diungkapan oleh lisan, serta diwujudkan dalam bentuk amal. Olehnya,
v seorang yang meyakini Islam tetapi tidak dinyatakan secara lisan dengan bersyahadat, sedang tidak ada hal yang menghalanginya untuk itu, tidaklah dinyatakan orang tersebut sebagai muslim.
v Demikian –juga- seorang yang bersyahadat dan beramal, namun ia tidak meyakini Islam sebagai agamanya, tidaklah ia melainkan seorang munafik.
v Hal yang sama –pun dikatakan terhadap seorang yang bersyahadat, namun ia tidak sama sekali melaksanakan kewajiban-kewajibannya sebagai seorang muslim sepanjang hayatnya, maka dinyatakan bahwa persaksiannya tersebut tiadalah berguna. Bahkan keengganannya melaksanakan seluruh kewajiban tersebut sepanjang hayatnya adalah indikasi besar akan penolakannya terhadap hukum dan syari\’at Allah.
d. Iman berfluktuasi
Selain itu, hal yang juga wajib diyakini oleh setiap muslim berkenaan dengan iman, bahwasanya iman seorang muslim adalah sesuatu yang bisa mengalami fluktuasi; bertambah karena ketaatan dan berkurang karena perbuatan dosa dan maksiat. Allah ta\’ala berfirman;
ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِير [فاطر/32]
“Kemudian Kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.”. (Faathir; 32)
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ [الفتح/4]
“Dia-lah yang Telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang Telah ada).”. (al Fath; 4)
وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [البقرة/282]
“Dan bertakwalah kepada Allah; niscaya Allah mengajarmu; dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”. (al Baqarah; 282)
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ [الفاتحة/6]
“Tunjukilah kami jalan yang lurus.”. (al Faatihah; 6). Dalam ayat ini, Allah memerintahkan kaum muslimin untuk meminta –tetap- meminta petunjuk meskipun mereka telah beriman (berislam), hal mana mengisyaratkan bahwa keimanan yang dimiliki oleh seorang mukmin mungkin saja mengalami kemerosotan. Olehnya, maka Allah memerintahkan kaum muslimin untuk meminta peneguhan keimanan dan meminta agar kualitas keimanan mereka bertambah dari waktu ke waktu.
[1] HR. Ahmad, (36/( 393
[2] HR. Ahmad, (4/396)
[3] HR. Bukhari, (9/442)