Bagaimana kronologis penciptaan manusia?, sebuah pertanyaan yang wajib untuk diketahui oleh setiap manusia; agar mereka menjadi jelas akan proses tersebut dan akan lebih menerangi jalan mereka ke depan.
Bagaimana kronologis pernciptaan manusia ?. Jawaban dari pertanyaan ini telah dikabarkan Allah dalam kitab-Nya yang agung.
Ketika Allah akan menciptakan manusia, malaikat yang mengetahui hal itu lantas bertanya kepada Allah akan kebijakan ini; pertanyaan yang bukan ditujukan sebagai bentuk pengingkaran mereka, namun pertanyaan yang ditujukan sebagai bentuk keingintahuan mereka akan hikmah penciptaan itu[1]. Hal ini sekaligus menjadi petunjuk yang jelas akan kemahakuasaan Allah dan bahwa makhluk, siapaun ia, tetaplah adalah makhluk, diliputi dengan banyak kekurangan dan keterbatasan. Allah berfirman menjelaskan kronologis tersebut;
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: \”Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.\” Mereka berkata: \”Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu, orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?\”.”.
Demikianlah Allah gambarkan ketidaktahuan para malaikat akan maksud dari kebijakan Allah hendak menciptakan manusia, sedangkan dalam pengetahuan mereka bahwa manusia itu adalah makhluk yang bertabiat gemar membuat konflik. Olehnya, yang sepantasnya mendapat kepercayaan untuk memakmurkan bumi adalah mereka, dan bukan –justru- manusia yang memiliki tabi’at dasar demikian.
Hal ini –sekali lagi- memberi petunjuk yang jelas bahwa Allah adalah Zat yang maha tahu, sedangkan makhluk adalah Zat yang dilingkupi oleh berbagai kelemahan dan keterbatasan. Olehnya, menanggapi keingintahuan dan persangkaan para malaikat, Allah berfirman;
قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لا تَعْلَمُونَ
\”Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.\”.
Untuk membuktikan hikmah dari penciptaan manusia, Allah pun mengajari nabiullah Adam –‘alaissalam- nama dari segala apa yang ada di muka bumi ini.
وَعَلَّمَ آدَمَ الأَسْمَاءَ كُلَّهَا
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya.”.
Setelahnya, Allah menghadirkan seluruh malaikat untuk memperlihatkan kepada mereka bahwa Ia adalah Zat yang maha bijak dalam segala keputusan-Nya; Ia adalah Zat yang maha mengetahui hikmah dibalik setiap kebijakan itu. Allah –lantas- menyuruh para malaikat untuk menyebutkan nama satu persatu dari benda yang telah diajarkannya kepada nabiullah Adam. Allah berfirman;
أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
“Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar (dengan persangkaanmu bahwa kalian lebih layak untuk mendapatkan kepercayaan memakmurkan bumi dan bahwasanya manusia itu hanya akan membuat keonaran dan kerusakan –saja- di muka bumi ini!\”).
Dari penggalan ayat yang mulia ini –diantaranya- diketahui beberapa faidah;
- Allah adalah Zat yang maha berkuasa dan maha mengetahui
- Makhluk adalah zat yang diliputi oleh berbagai kekurangan dan keterbatasan
- Sebuah pengakuan barulah akan dinyatakan benar bila mampu dibuktikan. Namun bila sebuah pengakuan tidak mampu dibuktikan, tinggallah ia sebagai sebuah teori yang tidak terbukti kebenarannya[2].
Selain dari faidah yang telah disebutkan, diketahui pula dari ayat setelahnya betapa sikap tawadhu malaikat kepada Allah, yang tergambar lewat pengakuan tulus mereka akan ketidaktahuannya terhadap nama-nama benda yang diminta oleh Allah kepada mereka untuk disebutkan satu persatu. Allah berfirman, menjelaskan tentang pernyataan mereka itu;
قَالُوا سُبْحَانَكَ لا عِلْمَ لَنَا إِلا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
“Mereka menjawab: \”Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.\”[3].
Demikianlah sikap yang wajib dimiliki oleh setiap makhluk terhadap Allah yang telah menciptakan mereka; tidak sombong yang hanya akan menyebabkan mereka semakin jauh dari rahmat dan kasih sayang-Nya, sebagaimana sabda Rasulullah –shallahu ‘alaihi wa sallam-;
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
“Tidak akan masuk surga seorang yang di dalam hatinya ada kesombongan walaupun seberat biji dzarrah.”. (HR. Muslim, 1/247).
Setelah nampak kelemahan mereka, yang selanjutnya dibuktikan sendiri dengan pengakuan mereka, Allah pun memerintahkan nabiullah Adam –‘alaihissalam- untuk menyebutkan nama segala yang dipampangkan dihadapanya. Setelah Beliau menyebutkannya, Allah pun berfirman;
قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ
“Allah berfirman: \”Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?\”.”.
Demikianlah Allah membuktikan kebenaran dan hikmah dari setiap kebijakan-Nya, sebagaimana dengan ayat ini pula, Allah mengisyaratkan akan urgrnsi ilmu dan tingginya derajat orang-orang yang memilikinya, lebih tinggi dari orang-orang yang sekedar rajin dalam beribadah. Allah berfirman;
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ [المجادلة/11]
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat di atas orang-orang yang hanya sekedar rajin beribadah.”; Malaikat adalah sosok makhluk Allah yang tidak memiliki tugas dan keinginan selain beribadah kepada-Nya, yang digambarkan oleh Allah lewat firman-Nya;
وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ [البقرة/30]
“Kami ini senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?\”.
Sedangkan manusia memiliki tabi’at dasar suka dan gemar membuat konflik. Namun ternyata meskipun demikian karakter asal yang dimiliki oleh manusia, Allah meninggikan dan memuliakan mereka diatas para malaikat dengan ilmu dan –tentunya- keshalehan serta ketaatan mereka. Olehnya, Allah –setelah memperlihatkan hikmah dari penciptaan-Nya- memerintahkan kepada segenap malaikat-Nya untuk sujud –sebagai bentuk penghormatan dan bukan ibadah- kepada nabiullah Adam –‘alaihissalam-. Allah berfirman;
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآَدَمَ [البقرة/34]
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: \”Sujudlah kamu kepada Adam.”.
Mendengar perintah itu, semuanya lantas sujud kepada Beliau –‘alaihissalaam- kecuali iblis[4] –la’natullah ‘alaihi-. Ia malah berkata;
أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ [الأعراف/12]
\”Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.\”.
Iblis –la’natullah ‘alaihi- dengan sifat sombongnya menampik perintah tersebut. Maka sebagai akibat dari pengingkarannya itu, Allah pun mengekalkannya dalam neraka-Nya. Allah berfirman;
قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَنْ تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِينَ [الأعراف/13]
“Allah berfirman: \”Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.\”.”.
Demikianlah sekelumit perjalanan awal kehidupan manusia; selanjutnya Allah memasukkan nabiullah Adam –‘alaihissalam- ke dalam Surga, mengusir Iblis dari surga-Nya, memberi Iblis tangguh -atas permintaannya- untuk menggelincirkan manusia, kemudian Iblis berhasil menggelincirkan nabiullah Adam dan istrinya –‘alaihimassalaam- ke dalam dosa, namun keduanya bertaubat kepada Allah, dan Ia menerima taubat keduanya. Tetapi sebagai hukuman, Allah menurunkan mereka berdua ke bumi, dan berjanji akan merahmati siapa saja yang taat kepada-Nya dan berjanji akan mencampakkan Iblis dan orang-orang yang mengikutinya ke dalam api neraka.
Beberapa pelajaran yang mungkin dipetik dari penggalan beberapa ayat yang telah disebutkan;
- Awal penciptaan manusia; bahwa Allah menciptakan manusia untuk pertama kalinya dengan tangan-Nya yang mulia dari segumpal tanah hitam, Allah berfirman kepada Iblis ketika ia enggan untuk sujud kepada Adam –‘alaihissalam- ketika Allah memerintahkannya;
{قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ} [ص: 75]
“Allah berfirman: \”Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku.”[5].
- Malaikat adalah makhluk Allah yang mulia, yang bertugas untuk tunduk dan taat kepada-Nya.
- Manusia adalah makhluk Allah yang memiliki tabi’at dasar sebagaimana yang telah disebutkan, tetapi dengan ilmu dan ketakwaan maka Allah akan menaikkan derajatnya hingga melebihi para malaikat.
- Kewajiban makhluk untuk mengakui kelemahan dan keterbatasannya sebagai makhluk, dan haram bersikap sombong karena sikap seperti itu adalah sikap yang akan membawa kebinasaan bagi seseorang.
- Nilai seorang manusia dihadapan Allah adalah sebagaimana tingkat ketakwaannya kepada Allah. Betapapun rendahnya sebuah amalan dihadapan manusia, tetapi ketika ia adalah sebuah ketaatan, maka pekerjaan itu adalah sebuah amalan yang agung. Sujud kepada manusia adalah sebuah pekerjaan yang mungkin dalam pandangan kita adalah pekerjaan yang akan menghinakan seseorang. Tetapi ketika itu adalah sebuah perintah dari Allah, maka wajib untuk dilaksanakan, dan seorang akan naik derajatnya dihadapan Allah dengan melaksanakan perintah tersebut.
- Peringatan kepada manusia akan permusuhan abadi yang diumumkan oleh Iblis kepada manusia.
[1] Bentuk pertanyaan demikian sama dengan permintaan yang diajukan oleh nabiullah Musa ‘alaihissalaam- kepada Allah, agar Ia menampakkan wujud-Nya. Permintaan demikian bukan merupakan permintaan yang memberi isyarat akan ketidakpercayaan nabiullah Musa akan keberadaan Allah (al Quran; al Baqarah; 260). Namun permintaan demikian, ditujukan untuk lebih menambah kepercayaan dan keimanan Beliau, sebagaimana dinyatakan;
ليس الخبر كالمعاينة
“Tidaklah keyakinan yang akan didapatkan oleh sseorang yang mendengar sama dengan keyakinan yang didapatkan oleh seorang yang melihat secara langsung.”.
[2] Sebagaimana syahadat yang diucapkan oleh seorang muslim, tidaklah syahadat itu bermanfaat, bila tidak dibuktikan dengan perbuatan.
[3] Dari ayat ini diketahui juga bahwa hendaknya seorang yang ditanyai akan sebuah masalah, lantas ia tidak mengatahuinya, agar ia tidak segan dan sungkan untuk mengatakan “saya tidak tahu”. Demikian contoh yang diajarkan oleh para salaf. Suatu ketika, Muadz –radhiyallahu ‘anhu- pernah ditanya oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-;
هَلْ تَدْرِي حَقَّ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا , صحيح البخاري [9 /459]
“Apakah engkau tahu hak Allah kepada hamba dan hak hamba kepada Allah ?. Muadz berkata; Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda; hak Allah atas hamba-Nya yaitu agar mereka menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan Dia dengan satupun mekhluk. Dan hak hamba atas Allah, yaitu agar Ia tidak mengadzab seorang yang tidak mempersekutukan Dia dengan satupun makhluk-Nya.
[4] Iblis adalah makhluk Allah yang diciptakan dari api sebagaimana Jin. Allah berfirman;
{وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ} [الكهف: 50]
Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda;
خُلِقَتِ الْمَلاَئِكَةُ مِنْ نُورٍ وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ , صحيح مسلم – م [8 /226]
[5] Dari ayat ini dan hadits Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-;
ومن أظلم ممن ذهب يخلق كخلقي
\”Siapakah manusia yang lebih dzhalim daripada seorang yang meniru pencipataan Ku (terhadap makhluk bernyawa) ?.”. Diketahui bahwa diantara hikmah pelarangan menggambar, melukis dan memahat makhluk hidup berupa manusia dan hewan adalah karena hal itu adalah perilaku yang melanggar hak privasi Allah, sedangkan Ia tidak mau disyarikatkan dengan hak-Nya tersebut. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda;
إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ آدَمَ مِنْ قَبْضَةٍ قَبَضَهَا مِنْ جَمِيعِ الأَرْضِ فَجَاءَ بَنُو آدَمَ عَلَى قَدْرِ الأَرْضِ جَاءَ مِنْهُمُ الأَحْمَرُ وَالأَبْيَضُ وَالأَسْوَدُ وَبَيْنَ ذَلِكَ وَالسَّهْلُ وَالْحَزْنُ وَالْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ
\”Sesungguhnya Allah telah menciptakan Adam –\’alaihissalam- dari segenggam (tangan-Nya yang maha mulia) yang diambilnya dari seluruh jenis tanah di bumi ini. Olehnya terlahirlah anak cucu Adam berdasarkan perbedaan corak tekstur tanah; diantaranya ada yang (kulitnya) berwarna merah, putih, hitam, dan ada juga yang merupakan perpaduan antara tiga warna tersebut. Diantara mereka ada yang berwatak lembut, ada yang keras, dan ada yang jelek perangainya dan adapula yang baik perangainya.\”
subahanallah,,,maha suci allah,,