Tafsir Surat Al-Fatihah

Tafsir Surat Al-Fatihah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (1) الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2) الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3) مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5) اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)
[الفاتحة : 1 – 7]

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai hari pembalasan. Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”

A. Status Surat

Surat ini adalah surat Makkiyyah berdasarkan pendapat mayoritas ulama. Diantara dalilnya adalah firman Allah;

وَلَقَدْ آَتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآَنَ الْعَظِيمَ

Ayat ini terdapat dalam surat al Hijr yang merupakan surat Makkiyyah, dan mayoritas ulama menyatakan bahwa yang dimaksud dengan firman Allah “Sab’an min al matsaani” adalah surat al Faatihah. Demikian ini pendapat dari Umar, Ali dan Ibnu Mas’ud dari kalangan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

B. Nama Surat

Surat ini memiliki beberapa nama. Diantara nama-namanya yang masyhur adalah: Faatihah al-Kitaab, Ummul Kitaab, Al-Qur’an al-’Adzhiim, Ummul Qur’an, dan As-Sab’ul Matsaaniy. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwasanya Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda;

الحمد لله رب العالمين سبع آيات بسم الله الرحمن الرحيم إحداهن ﻭﻫﻲالسبع المثاني ﻭ القرآن العظيم ﻭﻫﻲ أم الكتاب وفاتحة الكتاب

“Alhamdulillah rabbil ‘aalamiin terdiri dari 7 ayat. Basmalah adalah salah satu ayat-ayatnya. Al-fatihah adalah as sab’u al matsaani (7 ayat yang selalu berulang); al-qur’an al-adzhim; ummu al-kitaab; dan faatihatu al-kitaab”.

Al-imam Ibnu katsir –rahimahullah- berkata; hadits ini diriwayatkan oleh Al-hafidz Abu bakar Ahmad bin Musa bin Mardawaih di dalam tafsirnya. Kemudian beliau berkata; hadits serupa diriwayatkan pula oleh imam ad-Daraquthni, dari Abu hurairah secara marfu’ (bersambung jalan periwayatannya hingga kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau (al-imam Ad-daaraquthni) berkata; sanad (jalan periwayatan ) hadits ini terdiri dari orang-orang terpercaya (tsiqaat).

C. Jumlah Ayat

Para ulama sepakat menyatakan bahwa surat al Faatihah terdiri dari tujuh ayat. Dalil kesepakatan ini adalah al Quran pada surah al Hijr yang telah disebutkan, dan hadits Abu Hurairah yang telah lalu.

D. Apakah Basmalah Merupakan Satu Diantara Ayat al Faatihah?

Masalah ini adalah masalah khilafiyyah dikalangan para ulama;

Mempelajari seluruh dalil yang telah dikemukakan oleh ke-2 golongan ulama yang berbeda pendapat tadi, nampak bahwa ke-2 nya memiliki dalih yang kuat terhadap pendapat mereka masing-masing, hanya saja –kalau sekiranya- dalil yang dikemukakan oleh kelompok ke-2 adalah benar sebagaimana yang diutarakan oleh al-imam Ibnu katsir, maka dalil tersebut tentulah lebih tepat untuk dijadikan pegangan dalam masalah ini. –wallahu a’lam-

E. Keutamaannya

Surat ini memiliki keutamaan yang agung dan telah dijelaskan oleh banyak hadits, diantaranya adalah pernyataan Rasulullah shallallahu ‘alaihissalaam kepada Abu Sa’id al Mu’alla –radhiyallahu ‘anhu- ;

« Sungguh saya akan mengajarimu semulia-mulia surat di dalam al Quran. » Maka Rasulullah –kemudian- bersabda ;

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُه

« Al Hamdulillahi Rabbil ‘Aalamiin, ia itu adalah as Sab’u al Matsaani dan ia itu adalah al Qur’an al Adzhiim yang telah diberikan kepadaku. »

F. Keutamaan Ucapan “Amiin”

Di dalam kitab Shahiih al-Bukhari terdapat hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah bahwasanya Nabi Shallallaahu ‘alaihi Wa Sallam bersabda,

إِذَا قَالَ الْإِمَامُ [ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ ] فَقُولُوا آمِينَ فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ قَوْلُهُ قَوْلَ الْمَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Bila Imam mengucapkan ‘Waladl Dlaalliin’, maka katakanlah ‘Amiin’, sebab siapa saja yang aminnya bertepatan dengan amin-nya Malaikat, maka akan diampuni baginya dosa-dosa terdahulu.”

Dalam Shahiih Muslim, disebutkan,

إِذا قَالَ [ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ ] فَقُولُوا آمِينَ يُجِبْكُمْ اللَّهُ

“Bila Imam mengucapkan ‘Waladl Dlaallin’, maka katakanlah ‘Amiin, niscaya Allah akan menjawab (mengabulkan bagi) kamu.”

Perkataan ‘amiin’ berarti ‘Ya Allah, kabulkanlah!’. Pernyataan ini adalah doa yang dipanjatkan oleh seseorang agar Allah menerima doa yang ia panjatkan. Olehnya maka dianjurkan bagi seseorang yang telah membaca surah al Faatihah untuk membaca lafadz ini, baik ketika membacanya di dalam shalat ataupun di luar shalat. Hal ini –juga- mempertegas hadits riwayat Abu Hurairah yang telah disebutkan sebelumnya; “Bila Imam mengucapkan ‘Waladl Dlaallin’, maka katakanlah ‘Amiin’, niscaya Allah akan menjawab (mengabulkan bagi) kamu”.

Bagaimana tidak dikabulkan sementara –ketika itu- telah berkumpul tiga peng’amin’an, yaitu; ‘amin’ yang diucapkan oleh imam, ‘amin’nya makmum dan ‘amin’nya malaikat. Maka ketika ketiga amin ini bertemu dalam satu waktu, -saat itulah- Allah akan mengampuni dosa seorang yang mengucapkannya sebagaimana pekataan Rasulullah; “siapa saja yang pengaminannya bertepatan dengan pengaminan Malaikat, maka akan diampuni baginya dosa-dosanya terdahulu.”

G. Membaca al Faatihah Di Dalam Shalat

Membaca surah al Faatihah wajib hukumnya bagi setiap Muslim pada setiap raka’at shalat dan tidak dapat diganti dengan membaca terjemahan atau lainnya. Allah berfirman;

فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآَنِ [المزمل/20]

“Maka bacalah (ketika shalat) apa yang mudah (bagimu) dari al Qur’an.” (al Muzzammil; 20)

وَهَذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِينٌ [النحل/103]

“Al Qur’an adalah dalam bahasa Arab yang terang.” (an Nahl; 103)

وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (192) نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (193) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (194) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (195) [الشعراء/192-195]

“Dan sesungguhnya al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.” (as Syu’araa; 192-195)

Membacanya adalah termasuk rukun shalat, baik yang fardlu maupun sunnah, baik shalat sendiri atau shalat berjama’ah. Namun wajib bagi makmum pada shalat Jahriyyah (yang dinyaringkan bacaannya), membacanya dengan Sirr (pelan, tidak nyaring) hingga tidak mengganggu konsentrasi imam dalam membaca surah. Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu- berkata;

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْصَرَفَ مِنْ صَلَاةٍ جَهَرَ فِيهَا بِالْقِرَاءَةِ فَقَالَ هَلْ قَرَأَ مَعِي مِنْكُمْ أَحَدٌ آنِفًا. فَقَالَ رَجُلٌ نَعَمْ أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي أَقُولُ مَا لِي أُنَازَعُ الْقُرْآنَ. فَانْتَهَى النَّاسُ عَنْ الْقِرَاءَةِ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا جَهَرَ فِيهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْقِرَاءَةِ حِينَ سَمِعُوا ذَلِكَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Pernah Rasulullah selesai dari sebuah shalat jahar. Ketika itu beliau bertanya kepada para sahabat yang menjadi makmumnya; “Adakah seorang yang turut membaca surah dibelakangku ?”. Seorang sahabat menjawab, “Ya, saya wahai Rasulullah !”. Beliau berkata; “Mengapa engkau menandingiku (mengganggu konsentrasiku) dalam bacaan?”. Maka semenjak itu, para sahabat pun berhenti turut membaca di belakang Rasulullah.”

Hadits ini –secara tekstual- menunjukkan larangan mengganggu konsentrasi imam dalam membaca surah, yaitu dengan membacanya –juga- dengan suara keras atau dengan suara yang mengganggu konsentrasi imam. Adapun jika seorang membacanya secara sirr (tidak diperdengarkan), bersamaan dengan bacaan imam atau ketika imam selesai membacanya, maka yang demikian itu tidaklah terlarang. Olehnya, dalam kesempatan lain Abu Hurairah berkata, meriwayatkan hadits Rasulullah;

مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ ثَلَاثًا غَيْرُ تَمَامٍ

“Barangsiapa shalat dengan tidak membaca al-Fatihah, maka shalatnya adalah cacat, cacat dan cacat.”

Mendengar hadits ini, para sahabat bertanya kepada Abu Hurairah; “Bagaimana sekiranya kami berada dibelakang imam?” Beliau berkata; “Bacalah di dalam hatimu (tidak dijaharkan).”

H. Penjelasan Surah

الحمد لله (Segala puji bagi Allah)

Al-hamdulillah adalah kalimat syukur yang diucapkan seorang hamba secara tulus hanya kepada Allah dan tidak kepada yang selain-Nya. Rasa syukur ini timbul karena limpahan nikmat-Nya yang tiada terhitung; makanan, minuman, segala kenikmatan duniawi, serta petunjuk hidayah dan kemampuan untuk menempuhnya; semua itu hanyalah milik Allah ta’ala semata. Karenanya, segala puji hanya pantas teruntuk bagi Allah ta’ala sesuai dengan kemahabesaran dan kemahaagungan-Nya. Al-hamdulillah, sebuah kata singkat dan mungkin di benak kita merupakan suatu hal yang sepele. Namun disisi Allah ta’ala –sesungguhnya- kalimat ini merupakan sesuatu yang sangatlah agung bila yang mengucapkannya ikhlas dan mengharapkan pahala dari ucapannya tersebut.

Al-imam Ibnu Katsir di dalam tafsirnya membawakan beberapa dalil yang menunjukkan betapa besar dan agungnya kalimat ini;

Demikian besar kecintaan Allah terhadap kalimat ini, dimana bias dari kecintaan tersebut dapat disaksikan dari beberapa hal berikut;

Bila saja dunia beserta segala isinya berada dalam genggaman… niscaya kalimat yang ia ucapkan itu (hamdalah) lebih baik…

الرب (Rabb)

Kata Ar-rabb, berarti penguasa yang memiliki kebebasan dalam bertindak. Kata ini tidak boleh digunakan oleh yang selain-Nya, kecuali dengan menggandengkan kata lain setelahnya, contohnya; rabbu al-bait (pemilik rumah). Selain itu, kata ‘ar Rabb’ bisa bermakna sesuatu yang disembah. Seorang penyair berkata; Pantaskah Rabb (yang disembah), seekor serigala kencing diatas kepalanya, Sungguh telah hina, siapa yang seekor serigala kencing diatasnya.

العالمين (Alam)

‘Aalamiin’ merupakan bentuk jamak dari kata ‘aalam, yang berarti segala sesuatu selain Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman; “Fir’aun bertanya: “Siapa Tuhan semesta alam itu? Musa menjawab: “Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antara keduanya, jika kamu sekalian mempercayai-Nya”. (As-Syu’araa; 23-24). Diantara derivasi kata ‘aalam’ adalah kata ‘alamat’ yang berarti tanda. Seluruh makhluk yang ada di alam raya ini dinamakan alam, karena seluruhnya merupakan tanda akan kebesaran Allah Yang Maha Agung, sebagaimana tersebut dalam sebuah sya’ir; “Sungguh mengherankan, bagaimana engkau durhaka kepada Allah, atau bagaimana engkau ingkar kepada-Nya; sementara, pada tiap sesuatu ada tanda, sebagai bukti akan ke-Esaan-Nya”.

الرحمن الرحيم (Zat Yang Maha Rahman lagi Maha Rahim)

Kedua kata ini adalah dua diantara nama Allah. Keduanya menunjukkan bahwa Dia Ta’ala adalah Pemilik rahmat (Sang Mahapengasih) yang amat luas dan agung, dan Dia pula yang Maha menyampaikan rahmat tersebut kepada seluruh hamba-Nya –terkhusus- bagi hamba-hamba-Nya yang beriman.

مالك يوم الدين (Raja dan Pemilik hari pembalasan)

Ada beberapa macam qira’at dari firman Allah ini; ada yang membacanya dengan memanjangkan huruf mim-nya <مالك>, yang berarti Sang Maha Pemilik; dan adapula yang mebacanya dengan mim yang dibaca pendek <ملك>, yang berarti Sang Maha Raja. Penggabungan antara ke-2 macam qira’at ini sangatlah baik, mengingat bahwa tidak semua yang memiliki adalah raja, dan tidak semua raja adalah pemilik. Penggabungan ke-2 nya merupakan isyarat yang menunjukkan bahwa Allah adalah Zat Yang Merajai, Memiliki serta Berkuasa terhadap seluruh makhluk-Nya. Digandengkannya kata <مالك>, dalam ayat ini -hanya dengan- hari pembalasan, bukanlah merupakan penafian (peniadaan) sifat ke-Maha Berkuasa-an Allah atas segala makhluk-Nya pada hari-hari yang lain. Namun penggadengan tersebut merupakan bentuk penegasan, bahwa pada saat itu tiada seorang-pun yang dapat mengaku-ngaku sebagai Tuhan selain Dia, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh orang-orang kafir lagi pembangkang di muka bumi ini. Allah berfirman; “Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar”. (An-naba; 38)

يوم الدين (Hari pembalasan dan hisab)

“Ad-dien” dalam ayat ini berarti pembalasan atau hisab. Allah berfirman; “Di hari itu, Allah akan memberi mereka ‘diin’ mereka secara benar’ (balasan yag setimpal buat mereka menurut semestinya), dan tahulah mereka bahwa Allah-lah yang Benar, lagi Yang menjelaskan”. (An-nuur; 25)

إياك نعبد وإياك نستعين (Hanya kepada-Mu kami beribadah (menyembah) dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan)

Ibadah secara istilah berarti segala macam aktifitas lahiriyah maupun bathiniyah yang disenangi dan dicintai oleh Allah. Seorang ahli ibadah dikenal dengan nama ‘aabid’, yang berarti hamba. Manusia adalah merupakan bahagian dari hamba Allah. Kedudukan manusia sebagai seorang hamba (Abdun) di sisi Allah merupakan sebuah kedudukan yang sangat mulia. Karenanya, Allah-pun menggelari Rasulullah dengan laqab (panggilan) ini pada semulia-mulianya kesempatan, diantaranya adalah;

Ayat ini (Al-fatihah; 5) merupakan pernyataan ketundukan seorang hamba –semata- hanya kepada Allah, sebagaimana ayat ini-pun berisi permintaan tolong yang tulus dari seorang hamba –semata- hanya kepada Allah sembahannya. Karena itulah, maka objek dari ayat tersebut didahulukan dari subjek dan predikatnya, bahkan hal demikian-pun terulang pada penggalan kalimat ke-2. Ayat ini –juga- memberikan isyarat akan dua pilar pokok yang membangun agama ini, yaitu; a. Berlepas diri dari syirik, yang digambarkan oleh firman Allah; “Hanya kepada-Mu sajalah kami beribadah (menyembah)”. b. Pengakuan sifat lemah dan kebergantungan (tawakkal) hamba hanya kepada Allah, yang termaktub dalam firman-Nya; “Dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan”. Ke-2 pilar inilah yang sebenarnya merupakan inti dari ketaatan seorang hamba kepada Allah, sebagaimana pernyataan beberapa ulama; “Al-fatihah itu merupakan inti dari Al-qur’an, sedangkan inti dari surat ini terletak pada firman-Nya; Hanya kepada-Mu sajalah kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan.” Ayat ini –juga- seakan memberi isyarat akan kedekatan seorang hamba kepada Rabb-nya; dimana hal tersebut terlihat dari pengalihan kata ganti orang ke-3, kepada ganti orang ke-2. Kejelasan hal ini adalah; tatkala seorang hamba telah memuji-muji Allah dengan berbagai macam pujian yang tertuang dalam ayat ke-2 sampai ayat ke-4 dari surat ini; seakan ayat yang tersebut –setelahnya- ingin melukiskan bahwa dengan puji-pujian tersebut, naiklah kedudukan hamba tersebut hingga ia dapat berbicara (meminta) langsung kepada Rabb-nya tanpa ada perantara antara ia dengan-Nya.

اهدنا الصراط المستقيم (Tunjukilah (berilah hidayah) kepada kami berupa jalan yang lurus)

Hidayah terbagi atas dua macam, yaitu; a. Hidayah taufik, yang merupakan hak mutlak Allah, sebagaimana firman-Nya; “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya”. (Al-qashash; 56). b. Hidayah petunjuk berupa penjelasan, yang mana setiap manusia –juga- berpeluang untuk berandil padanya, sebagaimana firman Allah; “Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Asy syuura; 52). Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda ; “Jika saja Allah memberi hidayah kepada seseorang dengan perantaraanmu, niscaya yang demikian itu lebih baik bagimu dari seekor unta yang paling mahal.” Ayat ini berisi perintah kepada setiap muslim agar senantiasa meminta petunjuk dan hidayah kepada Allah, dalam setiap waktu dan keadaan, hingga ajalnya tiba. Hal demikian adalah wajar, karena sesungguhnya hati manusia itu berbolak-balik; jika saja bukan karena petunjuk Allah, pastilah manusia akan terus berkubang dalam lumpur kesalahan dan dosa. Karenanya, dalam ayat lain Allah memerintahkan seorang muslim untuk berdo’a kepada-Nya; “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi.” (Al-imraan; 8)

صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين (Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka…)

Apakah jalan yang lurus itu?. Allah menjawab pertanyaan tersebut dengan firman-Nya; “Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka”, disebutkan dalam ayat lain; “Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”. (An-nisaa; 69). Mempertegas jawaban tersebut, Allah berfirman; Bukan jalan orang-orang yang terlaknat, yaitu orang-orang yahudi; mereka tahu kebenaran namun mereka ingkar, membangkang dan menghalangi manusia untuk meraih kebenaran. Bukan-pula jalannya orang-orang sesat, yaitu orang-orang nashara; yang beramal tanpa landasan ilmu. Karenanya, jelaslah bagi setiap muslim bahwa agama yang mulia ini tidak akan lepas dari dua perkara, yaitu; ilmu dan amal. Bila seorang berilmu tanpa dibarengi dengan amal, maka dikhawatirkan ia tergolong ke dalam hamba-hamba Allah yang terlaknat. Sebaliknya, amal tanpa ilmu; tidaklah akan mengantar seseorang meraih kebenaran, malah kebenaran itu akan semakin jauh dari padanya.

I. 10 Pelajaran Dari Surah al Faatihah

  1. Allah adalah Zat yang Maha terpuji karena Ia adalah Rabb nya semesta alam, yang Maha luas rahmat-Nya dan Maha menyampaikan rahmat tersebut kepada seluruh hamba-Nya –khususnya bagi orang-orang yang beriman-, dan karena Ia adalah Zat yang Maha merajai dan menguasai hari pembalasan.
  2. Pengakuan terhadap keberhakan terhadap sesuatu, wajib diiringi dengan penjelasan akan keberhakan tersebut.
  3. Ibadah adalah hak Allah yang tidak boleh disimpangkan selain kepada-Nya.
  4. Diantara bentuk ibadah adalah doa (meminta pertolongan). Tidak boleh menyimpangkan doa selain kepada-Nya.
  5. Diantara adab berdoa adalah mendahului doa dengan memanjatkan puji-pujian kepada-Nya.
  6. Keutamaan yang dimiliki oleh orang-orang yang senantiasa memuji Allah, bahwa ia akan menjadi sangat dekat dengan Allah hingga seakan tiada lagi pembatas antaranya dengan Allah.
  7. Seorang manusia adalah makhluk yang akan senantiasa membutuhkan hidayah dan pertolongan Allah.
  8. Islam adalah agama yang dibangun di atas ilmu dan amal.
  9. Ilmu tanpa amal akan membawa seseorang menjadi orang-orang terlaknat. Sebaliknya, amal tanpa landasan ilmu akan menjadikan seorang sebagai orang sesat.
  10. Keberhakan Allah untuk diesakan oleh makhluk-Nya ada tiga, yaitu; keberhakan-Nya untuk diesakan dalam rububiyyah (pekerjaan dan kebijakan Allah kepada makhluk), keberhakan-Nya untuk diesakan dalam ibadah (uluhiyyah), dan keberhakan-Nya untuk diesakan dalam nama dan sifat-sifat-Nya.
Download / Print File Pdf
Lihat “Ma’aalim at Tanziil”, oleh Imam al Baghawi, (1/49), al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.09)
Lihat “Fathu al Qadiir”, oleh Imam as Syaukaani, (4/193), al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.09)
Lihat Tafsir “al Qur’an al Adzhiim”, oleh Imam Ibnu katsir, (1/102-103), al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.09)
Lihat Tafsir “al Qur’an al Adzhiim”, (1/101), al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.09)
Lihat Tafsir Al-Qur’an al-Adzhim, oleh As-syaikh Muhammad bin Sholeh Al-\’utsaimin, pada tafsir beliau terhadap surat Al-fatihah.
HR. Muslim, no. 598, al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.09)
Ulama berselisih pendapat tentang keberadaan surah atau ayat yang lebih mulia dari surah atau ayat yang lainnya. Sebagian ulama menafikan keberadaan surah atau ayat yang lebih mulia daripada ayat atau surah yang lain. Diantara argumen mereka adalah:
*] Seluruh ayat Al-qur’an adalah firman Allah, tidak ada perbedaan antara satu dengan yang lainnya.
*] Pernyataan bahwa ayat ini lebih mulia dari ayat yang lainnya; mengisyaratkan adanya klaifikasi ayat, yaitu ayat yang termulia, yang mulia, yang sedang, dan yang dibawahnya; padahal seluruhnya adalah perkataan Allah.
Pendapat lainnya menyatakan adanya perbandingan tersebut. Diantara dalil mereka adalah;
*] Firman Allah;

مَا نَنْسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِنْهَا أَوْ مِثْلِهَا أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ [البقرة/106]
“Ayat mana saja yang Kami nasakh atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?” (al Baqarah; 106)

*] Sabda Rasulullah kepada Abu al Mundzir bahwa ayat Kursi adalah semulia-mulia ayat dalam al Quran. (Lihat Sunan Abi Daud, no. 1248, al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.09)
Kedua dalil ini dan hadits tentang keutamaan surah al Fatihah –sebagaimana yang disebutkan pada bahasan ini- menunjukkan secara jelas akan adanya perbandingan tersebut –dan demikian itulah pendapat yang lebih tepat-. Namun –perlu diketahui- bahwa yang dimaksud dengan perbandingan adalah perbandingan dari sisi makna atau kandungan, dan bukan dari sifat ayat-ayat tersebut sebagai firman atau perkataan Allah. Sebab itulah, dikatakan bahwa surat Al-ikhlas sebanding dengan sepertiga al-Qur’an; karena kandungan al-Qur’an secara keseluruhan terdiri dari 3 bagian; ibadah, aqidah dan nasehat-nasehat akhlak, sedangkan surat Al-ikhlas –seluruhnya- berisi pengajaran tentang tauhid. (Lihat tafsir “al Jaami’e Li Ahkaami al Quran”, oleh imam al Qurthubi, 1/109-111)
HR. Bukhari, no. 4114, al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.09)
HR. Bukhari, no. 740, al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.11)
HR. Muslim, no. 612, al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.11)
Lihat al Jaami’e Li Ahkaami al Quran, 1/127, al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.11)
Membacanya bagi makmum pada shalat jahar adalah hal yang diperdebatkan oleh para ulama. Sebagian menyatakannya sebagai hal yang wajib dengan dalil-dalil yang disebutkan. Sebagiannya lagi menyatakan bahwa bacaan imam adalah –juga- bacaan makmum pada shalat jahriyyah. Diantara dalilnya adalah, firman Allah;

وَإِذَا قُرِىءَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُواْ لَهُ وَأَنصِتُواْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Dan apabila dibacakan Al Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat”. (Al-a’raaf; 204). Namun istidlaal dengan ayat ini dijawab bahwa makna yang dikandung oleh ayat ini adalah umum, dan dikhususkan dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; “Tidak ada shalat bagi seseorang yang tidak membaca Al-fatihah.”

Diantara dalil lain yang diangkat oleh golongan yang menyatakan bahwa bacaan imam adalah –juga- bacaan makmum pada shalat jahriyyah adalah hadits;

مَنْ كَانَ لَهُ إِمَامٌ فَقِرَاءَةُ الْإِمَامِ لَهُ قِرَاءَةٌ
“Barangsiapa yang memiliki imam, maka bacaan imam –juga- merupakan bacaan baginya.” Namun hadits ini adalah hadits yang lemah. (Lihat at Talkhiis al Habiir fi Takhriij Ahaadiits ar Raafi’ie, 1/355, al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.11))

Mengingat dua hal yang telah dikemukakan maka pendapat yang lebih tepat –wallahu a’lam- adalah pendapat pertama yang merupakan pendapat dari jumhur ulama, sebagaimana dinyatakan oleh imam at Tirmidzi. (Sunan at Tirmidzi, 2/25, al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.11))
HR. Malik, no. 179, al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.11)
HR. Muslim, no. 598, al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.11)
HR Tirmidzi, no. 3305, al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.11)
Lihat tafsir Ibnu Katsir, (1/129-131), al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.11)
Hadits Maudhu’ sebagaimana yang disebutkan oleh syaikh Nashiruddin al Baani –rahimahullah- di dalam “Silsilah al Ahaadiits ad Dha’ifah”, no. 875, al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.11)
Tafsir Ibnu Katsiir, (1/134), al-Maktabah as Syaamilah, Vol. 2, (2.11)
HR Bukhari, no. 2787, al-Maktabah as Syaamilah, Vol. 2, (2.11)
Scroll to Top

Kegiatan Perkuliahan
3 Maret 2026

Silakan menyimak lanjutan penjelasan mengenai “Dunia Islam di Masa Keemasan” melalui tautan YouTube ini.

Setelah menyimak materi tersebut, lakukan analisis dengan menjawab pertanyaan berikut:

  1. Apa saja faktor-faktor yang menjadi penyebab kebangkitan dunia Islam pada tiga masa keemasan tersebut?
  2. Apa saja faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran dunia Islam pada masing-masing masa tersebut?

Untuk mempertajam analisis, silakan membaca kembali materi perkuliahan sebelumnya sebagai bahan pendukung.

Tuliskan hasil analisis Anda pada kolom komentar YouTube dari video yang telah disimak!
Jangan lupa mencantumkan inisial nama di bagian akhir komentar.