Sebuah Panduan Lengkap Menyelami Makna Kalamullah
Al Quran adalah kalamullah, yang Ia turunkan kepada Rasulullah -shallallahu álaihi wa sallam- melalui perantara Jibril –álaihissaläm- dalam bahasa Arab, di mulai dari surah al Fätihah dan di akhiri dengan surah an Näs.
Dengan meyakini bahwa al Quran adalah kalämullah diharapkan hal tersebut dapat menanamkan sikap taádzhim, penghargaan dan penghormatan kepadanya, sebagai firman Allah. Dan tiada yang mengingkari keberadaan al Quran sebagai kalaamullah melainkan orang terkena syubhat atau orang yang dinyatakan Allah sebagai penghuni neraka saqar.
Allah berfirman;
Al Quran adalah kitab petunjuk, tentunya jika dipelajari. Untuk itu, Allah memerintahkan setiap muslim, tidak sekedar membaca al Quran, tetapi yang lebih penting dari hal itu adalah mentadabburinya. Allah berfirman;
Dan yang dimaksud dengan mentadabburinya adalah mempelajarinya agar paham terhadap makna, kandungan hukum dan hikmah-hikmahya. Dan oleh sebab itu juga –wallahu álam- maka Allah menurunkan ayat pertama berupa perintah untuk membaca.
Allah turunkan perintah tersebut kepada Rasulullah -shallallahu álaihi wa sallam-, sosok yang tidak membaca dan menulis. Diantara hikmahnya –wallahu álam- bahwa objek yg dibaca –sesungguhnya- tidaklah merupakan akhir dari segalanya. Tetapi objek yang dibaca –baik berupa lembaran tertulis atau hamparan ayat kauniyyah- wajib menjadi lembaran awal perjalanan bathin seseorang yang pada akhirnya dapat memberikan sumbangan dan pengaruh positif bagi perkembangan kualitas diri orang yang membacanya tersebut.
Ada beberapa tanda yang mungkin dijadikan tolak ukur dzhahir untuk mengetahui apakah seorang telah masuk dalam kategori membaca al Quran dengan tadabbur atau ia termasuk ke dalam kelompok yang lalai ketika membaca al Quran. Beberapa indikasi itu diketahui dari ayat-ayat yang disampaikan Allah lewat firman-Nya;
Dari ayat ini diketahui bahwa diantara indikasi itu adalah menangis ketika membacanya; tangisan yang timbul karena pemahaman terhadap kebenaran kandungan dan hikmah ayat tersebut.
Dari ayat ini diketahui bahwa diantara indikasi itu adalah bergetarnya hati dan bertambahnya keimanan ketika membaca atau mendengarnya.
Diantara indikasi orang yang membaca al Quran dengan tadabbur adalah timbulnya perasaan senang dan gembira ketika kembali dapat membaca ayat-ayat Allah.
Diantara indikasi orang yang membaca al Quran dengan tadabbur adalah adanya penghayatan mendalam terhadap ayat yang tengah dibaca, yang selanjutnya diwujudkan dengan sujud terhadap ayat-ayat yang oleh Rasulullah -shallallahu álaihi wa sallam- dinyatakan sebagai ayat-ayat sajdah, atau diam lantas berdoa memohon rahmat jika melalui ayat-ayat yang berbicara tentang rahmat Allah, atau berdoa memohon perlindungan dari siksa dan azab ketika membaca ayat-ayat yang berisi ancaman Allah.
“Mundur sebelum mencoba”, kata inilah yang mungkin tepat dinyatakan kepada seorang yang telah terdogma oleh sebuah paradigma bahwa memahami al Quran adalah hal yang sungguh sangat dan teramat sulit. Memahaminya hanyalah merupakan domain para ulama saja.
Imam as Syäthibi rahimahullah berkata;
“Meski al Quran adalah mukjizat, yang tidak akan ada seorangpun dapat membuat kitab sepertinya; namun tidaklah hal itu berarti bahwa kitab yang mulia ini mengandung ungkapan-ungkapan yang tidak sejalan dengan ungkapan-ungkapan lazim dalam bahasa Arab; sebagaimana hal ini pun tidaklah melunturkan sifat asalnya, yaitu mudah dipahami, (baik perintah Allah yang termaktub di dalamnya, ataupun larangan-Nya).”
Inti dari pernyataan Beliau bahwa al Quran itu adalah kitab yang mudah dipahami, bahkan meski ia sebagai mukjizat, dimana tidak akan ada seorang pun yang dapat membuat kitab tandingannya. Allah berfirman dalam surah al Qamar, dan mengulangnya sebanyak 4 kali;
Ibnu Ábbas radhiyallahu ánhuma berkata;
Ingat bahwa menanamkan sikap pesimis untuk memahami tafsir al Quran dengan dalih bahwa hal itu hanyalah domain ulama, lantas merasa cukup –hanya- dengan membaca huruf-hurufnya saja tanpa ada upaya untuk mempelajari makna dan kandungannya; hal tersebut adalah satu diantara tipu daya syaithan (talbiis al iblis) untuk menjauhkan manusia dari kitabullah.
Maka menjadi kewajiban bagi setiap muslim adalah membaca al Quran dan mempelajarinya sesuai dengan metode pembelajaran yang benar, yaitu dengan merujuk kepada penjelasan para ulama berkenaan dengan tafsir ayat-ayat al Quran, dan bertanya kepada mereka jika mendapati ayat-ayat yang sekiranya belum dipahami secara baik maknanya.
Jika seorang menyenangi sesuatu, niscaya ia akan berusaha mendapatkan informasi sedetail mungkin tentang hal yang dicintainya itu. Demikianlah seorang yang cinta kepada al Quran, niscaya ia akan bersungguh-sungguh berusaha mengetahui arti, maksud dan kandungan dari setiap ayat yang ada padanya.
Cinta, kata ini mungkin akan sangat mudah diucapkan oleh siapa saja. Tetapi yang menjadi inti masalah adalah “benarkah pengakuan itu?”, sebagaimana pernyataan seorang penyair;
Olehnya, ada beberapa indikator yang mungkin dijadikan alat ukur benar tidaknya pengakuan orang tersebut. Diantara indikator itu adalah;
Setelah mengetahui indikator-indikator yang telah disebutkan, lantas pertanyaan selanjutnya yang seharusnya kita tujukan pada diri kita masing-masing adalah “Sudah betulkah saya cinta kepada al Quran ?”. Kebanyakan kaum muslimin ketika ditanya dengan pertanyaan tersebut, mereka jawab dengan jawaban global, “Ya saya cinta”.
Demikian pernyataan lisan mereka, tetapi ketika diminta untuk duduk membaca dan atau mendengarkan al Quran antara maghrib dan isya, sungguh hal tersebut akan terasa sangat berat bagi mereka. Jika demikian, bagaimana menumbuhkan perasaan cinta hakiki dengan indikasi-indikasi yang telah disebutkan ?
Diketahui bahwa hati adalah sebuah anggota tubuh yang Allah ciptakan untuk memikirkan dan memahami sesuatu. Allah berfirman;
“Maka tidak pernahkah mereka berjalan di muka bumi, sehingga hati mereka dapat memahami dan telinga mereka dapat mendengar?. Sebenarnya bukanlah mata yang buta, tetapi yang buta itu adalah hati yang berada di dalam dada.”
Bila demikian, dan dengan mengetahui bahwa hati itu berada di dalam genggaman Allah; maka tiada cara yang paling efektif untuk menumbuhkan kecintaan kepada al Quran secara khusus dan menumbuhkan keimanan secara umum melainkan dengan menengadahkan tangan, meminta kepada Allah agar diberi kemudahan dalam memahami al Quran. Allah berfirman;
“Dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al Qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.”
Olehnya maka cara dan metode apapun yang digunakan bukanlah merupakan faktor penentu utama dan pertama, namun faktor penentu utama dan pertama adalah kelapangan hati dan keluasan jiwa yang Allah karuniakan kepada seseorang untuk dapat mencintai al Quran.
Tidak tertanamnya rasa cinta terhadap al Quran penyebab utamanya adalah ketidaktahuan seorang akan arti penting dan nilai al Quran. Seperti seorang anak kecil yang belum mengetahui nilai mata uang; ia mungkin lebih memilih uang koin senilai 1000 rupiah daripada uang kertas senilai 100.000 rupiah. Olehnya disebutkan dalam sebuah pepatah; “tidak kenal maka tidak sayang”.
Dan salah satu cara belajar yang paling efektif adalah dengan membaca. Membaca tentang keagungan al Quran, membaca tentang hal-hal menakjubkan yang disebutkan oleh al Quran, membaca kisah para ulama dalam perjalanan hidup mereka mempelajari al Quran, membaca kisah bagaimana para ulama menghormati dan mengagungkan al Quran, dan yang semisal dengan itu.
Mengapa saya membaca al Quran? Pertanyaan ini adalah hal penting yang seharusnya senantiasa diletakkan oleh seorang dihadapannya agar ia lebih termotivasi untuk membacanya dan meraih tujuan yang hendak dicapainya itu dari membaca al Quran. Dan semakin banyak tujuan positif yang diletakkan seseorang dihadapannya, maka sejauh itulah motivasinya akan terpacu untuk membaca al Quran.
Tentu akan sangat berbeda antara seorang yang melakukan sebuah aktifitas sekedar untuk iseng dan rehat, dan antara orang yang melakukannya dengan tujuan tertentu yang hendak dicapainya. Dan seorang yang pergi ke kantor sekedar untuk menjalankan rutinitasnya, tentu akan berbeda dengan seorang yang melakukan aktifitas sama selain karena tujuan rutinitas, juga karena ia ingin berjumpa dengan kliennya, setelah itu ia ingin mengajukan permohonan kepada atasan, setelahnya ia akan memberikan persentase hasil kunjungan kerjanya, dan seterusnya. Tentu motivasi yang dimiliki oleh keduanya akan berbeda.
Olehnya kita menyatakan bahwa seorang yang tahu tujuan dari kegiatannya membaca al Quran akanlah lebih termotivasi untuk melakukan aktivitasnya itu dari sekedar orang yang melakukannya untuk mengisi waktu senggang. Dan seorang yang memiliki lebih dari satu tujuan positif dari membaca al Quran akanlah lebih termotivasi melakukan aktivitasnya itu dari pada seorang yang semata melakukannya karena satu tujuan.
Banyak dalam keterangan agama disebutkan pujian terhadap orang-orang yang belajar al Quran dan mengajarkannya. Diantaranya adalah sabda Rasulullah -shallallahu álaihi wa sallam-, yang disampaikan dari Beliau oleh Utsman radhiyallahu ánhu ;
Hadits ini tentu sedikit tidaknya memberi gambaran global kepada setiap muslim akan tujuan yang seharusnya dicanangkan olehnya ketika membaca al Quran. Allah berfirman;
“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka mempelajari ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran senantiasa ingat, mengambil pelajaran dan mengamalkan petunjuk dari ayat-ayat tersebut.”
Ibnu Masúd radhiyallahu ánhu berkata;
Abdullah bin Ámr radhiyallahu ánhu berkata;
Dan bila kita kembali kepada pemaparan sebelumnya tentang tujuan menuntut ilmu agama, hal itu akan mengingatkan kita kembali dengan pernyataan imam Ahmad rahimahullah;
Imam Ibnu al Qayyim rahimahullah dalam qasidah nüniyyah nya berkata;
Dalam qasidah tersebut Beliau memaparkan bahwa ilmu yang tercakup dalam al Quran dan sunnah secara umum ada tiga, yaitu;
Maka dari penjelasan tersebut disimpulkan bahwa ilmu yang hendaknya dicari oleh seorang dengan mempelajari al Quran adalah ilmu yang dapat menambah ketakwaannya kepada Allah, dan bukan sekedar ilmu untuk menambah wawasan. Disebutkan dalam sebuah syaír;
Olehnya itu pula, di dalam al Quran, sebelum firman-Nya;
Ia berfirman;
seakan dengan ayat ini –wallahu a’lam- Ia mengisyaratkan bahwa ulul albäb itu adalah orang-orang yang membuktikan keilmuwannya dengan amal, berupa melaksanakan qiyaamullail.
Dengan ini diketahui bahwa tingkat keberhasilan seorang dalam menuntut ilmu agama, ilmu al Quran tidaklah dilihat dari gelar akademis yang berhasil mereka raih. Tetapi yang menjadi dasar patokan adalah sejauh mana ilmu tersebut dapat menambah keimanannya kepada Allah. Dan sebaliknya, jika gelar kesarjanaan yang diraih oleh seorang justru semakin membuatnya sombong dan jauh dari batasan-batasan agama; maka orang tersebut sungguh telah tertipu. Ibnu Masúd radhiyallahu ánhu berkata;
“Cukuplah dengan takwa seorang itu dinilai berilmu, dan cukuplah dengan sombong dan bangga diri seorang itu itu dinilai bodoh.” Allah berfirman;
Lantas bagaimana upaya kita untuk melekatkan realita yang tengah kita hadapi dengan al Quran yang kita baca ? Tentu tiada jawaban yang lebih tepat kecuali dengan senantiasa membacanya secara berulang-ulang dan mempelajarinya secara seksama, seperti seorang yang belajar untuk menghadapi ujian. Demikianlah pengamalan para ulama kita terhadap al Quran. Al Hasan bin Ali radhiyallahu ánhuma berkata;
“Mereka membaca, mempelajari dan mencari hikmah-hikmah dari setiap ayat al Quran di malam hari. Dan di siang hari, mereka berusaha mengamalkan ayat-ayat yang telah mereka pelajari itu.”
Di malam hari mereka belajar dengan sungguh-sungguh untuk menghadapi ujian di esok harinya, berupa aktifitas yang mereka lakukan di hari itu. Demikianlah para salaf dengan al Quran. Dan hal ini sekaligus mengingatkan kita akan tanda kecintaan seorang terhadap al Quran, yaitu ketika ia senantiasa kembali kepada penjelasan al Quran dalam menyikapi segala masalah yang dialaminya ;
Dan demikianlah seorang mukmin dalam membaca al Quran hendaknya ia menetapkan tujuannya, yaitu mendapatkan ilmu dan merealisasikannya dalam kesehariannya.
Diantara tujuan yang hendaknya dicanangkan oleh seorang muslim dalam hatinya ketika membaca al Quran adalah bermunajat (berdialog) dengan Allah. Berdialog lewat ayat-ayat yang dibacanya. Lagi-lagi hal ini –tentu- tidak akan dicapai secara sempurna melainkan oleh orang-orang yang memahami ayat yang dibacanya itu.
Olehnya, seorang yang memiliki semangat serta cita-cita kuat dan tulus untuk dapat mengambil manfaat yang besar dari al Quran ini, pastilah akan berupaya sekuat mungkin agar dapat memahami ayat-ayat yang dibaca dan dihafalnya. Sehingga dengan itu, al Quran yang dibacanya akan lebih bermakna, dan tidak sekedar rangkaian huruf yang keluar dari mulut tanpa ada kandungan makna yang dapat dipahaminya. Abdullah bin al Mubaarak rahimahullah berkata;
Olehnya, Rasulullah -shallallahu álaihi wa sallam- memberi kabar akan pahala yang akan didapat oleh seorang dengan membaca al Quran. Abdullah bin Masúd radhiyallahu ánhu berkata, Rasulullah -shallallahu álaihi wa sallam- bersabda;
Tentang keutamaan ahlu al Quran, Jabir bin Ábdillah radhiyallahu ánhu berkata;
Al Quran diturunkan oleh Allah sebagai rahmat. Maka diantara rahmat yang terkandung dalam al Quran adalah fungsi al Quran sebagai obat. Tidak saja obat bagi penyakit-penyakit hati, namun pun bisa berfungsi sebagai obat bagi penyakit-penyakit medis. Allah berfirman;
Aisyah radhiyallahu ánha berkata;
Dan kesembuhan yang akan diperoleh dari al Quran, mungkin tercapai dengan dua hal, yaitu;
Hal ini juga sangat efektif untuk menumbuhkan kecintaan seseorang kepada al Quran. Karena al Quran sendirinya adalah sesuatu yang akan mampu memberikan pengaruh positif bagi orang-orang yang membaca dan mempelajarinya. Maka semakin banyak ayat-ayat tersebut diulang, maka semakin besar dan kuat pula pengaruh positif yang akan diberikannya.
Terlebih lagi, jika ayat-ayat tersebut dibaca pada saat-saat yang utama, saat-saat dimana pengaruh (signal) al Quran akan lebih cepat dan baik tertangkap oleh hati kita, yaitu ketika shalat di malam hari. Karena itu, Allah menegaskan urgensi shalat malam ini pada beberapa ayat, yaitu;
Rasulullah -shallallahu álaihi wa sallam- bersabda;
Ulama berkata bahwa dalam hadits ini, seakan hendak dipersamakan antara seorang yang memiliki harta namun tidak mengifakkannya, dengan seorang yang memiliki al Quran namun tidak dibacanya ketika siang dan malam hari.
Pada akhirnya, tadabbur Al-Qur’an bukan sekadar aktivitas membaca, tetapi perjalanan hati menuju Allah. Semakin dalam seseorang memahami ayat-ayat-Nya, semakin ia mengenal Rabb-nya, memperbaiki amalnya, dan menata hidupnya dengan cahaya wahyu.
Maka jangan jadikan Al-Qur’an hanya sebagai bacaan lisan, tetapi jadikan ia sahabat perjalanan, penuntun kehidupan, dan penawar bagi hati.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk ahlul Qur’an; mereka yang membaca, memahami, mengamalkan, dan hidup bersama Al-Qur’an hingga akhir hayat.