Dalam ayat ke-2 hingga ke-6 Surah Al-Fatihah, Allah Ta’ala berfirman:
Karena permohonan hidayah menuju jalan yang lurus merupakan tujuan yang paling agung, sedangkan memperolehnya adalah karunia yang paling mulia, Allah Ta’ala mengajarkan kepada hamba-hamba-Nya adab yang paling sempurna dalam memintanya. Sebelum mengajukan permohonan tersebut, mereka diperintahkan untuk memulai dengan memuji dan menyanjung Allah, mengagungkan-Nya melalui penyebutan nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang sempurna, kemudian mengikrarkan ubudiyah (penghambaan) mereka kepada-Nya semata serta memohon pertolongan hanya kepada-Nya.
Susunan ini menunjukkan bahwa doa yang diawali dengan pujian kepada Allah, pengagungan terhadap nama dan sifat-sifat-Nya, serta pengakuan yang tulus akan ubudiyah dan isti’anah hanya kepada-Nya, merupakan adab doa yang paling sempurna. Dua hal tersebut termasuk bentuk tawasul yang disyariatkan, yaitu bertawasul kepada Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta dengan amal saleh berupa keimanan, ubudiyah, dan ketundukan kepada-Nya. Dengan wasilah inilah seorang hamba lebih layak memperoleh rahmat, dikabulkannya doa, dan hidayah menuju jalan yang lurus.