Setiap momentum pergantian waktu selalu membawa ruang untuk merenung. Salah satu landasan terbaik dalam merefleksikan gerak kehidupan adalah sebuah hadis monumental dari Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi tiang utama dalam setiap amal perbuatan manusia.
Banyak pelajaran berharga yang dapat kita petik dari hadis agung ini, di antaranya adalah pemaknaan mendalam mengenai hijrah.
Hijrah pada hakikatnya merupakan salah satu bentuk ibadah yang sangat tinggi kedudukannya. Barangsiapa yang melakukannya dengan landasan niat yang ikhlas semata-mata karena Allah serta demi menjalankan perintah Rasulullah, maka seluruh peluh dan usahanya akan dinilai sebagai ibadah yang berpahala besar. Namun, jika ia berhijrah hanya demi meraih kepuasan duniawi atau keuntungan material semata, ia hanya akan mendapatkan apa yang dicarinya tersebut, tanpa memperoleh nilai pahala sedikit pun di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kata “hijrah” selalu lekat dan identik dengan perubahan. Melalui sunnatullah-Nya, Allah telah mengatur bahwa kehidupan di alam semesta ini senantiasa bersifat dinamis, terus bergerak dan bertransformasi. Manusia, sebagai salah satu komponen utama di muka bumi, dituntut untuk mampu mengikuti arus dinamisasi positif tersebut. Jika manusia memilih untuk statis dan enggan melakukan perbaikan diri, niscaya ia akan menjelma menjadi entitas yang tertinggal, usang, dan perlahan hancur ditelan waktu.
Melihat realitas tersebut, hijrah bukan lagi sekadar pilihan bebas, melainkan sebuah keniscayaan hidup yang mutlak diperlukan untuk bertahan dan berkembang.
“Untuk apa kita melakukan perubahan (hijrah), dan dengan cara bagaimana hijrah tersebut harus ditempuh?”
Untuk menjawab pertanyaan filosofis sekaligus praktis ini, marilah kita tadaburi sabda Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam berikut:
Melalui hadis ini, Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan sebuah penegasan visual yang kuat. Setiap pagi, seluruh manusia bergerak melangkahkan kaki untuk menukar waktu, tenaga, dan diri mereka demi visi dan misi hidup yang mereka bawa. Di antara kerumunan manusia tersebut, ada golongan yang berhasil menyelamatkan dirinya dari murka Allah, namun ada pula sebagian lainnya yang justru menjerumuskan hidup mereka sendiri ke dalam jurang kehancuran.
Mereka yang mengisi aktivitas perubahan dan gerak harinya dengan niat ibadah serta ketaatan adalah orang-orang merdeka. Merekalah yang berhasil membebaskan diri dari kerugian dan kebinasaan abadi. Sebaliknya, bagi mereka yang beraktivitas tanpa melibatkan niat ibadah, hari demi hari yang mereka lalui hanya akan mengurangi jatah umur di dunia secara sia-sia. Nilai spiritual amalan mereka di sisi Allah adalah nihil, dan mereka inilah golongan yang merugi secara nyata.
Kerugian absolut bagi manusia yang menyia-niuakan waktu ini ditegaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an:
Orang yang melakukan hijrah disebut sebagai seorang muhajir. Muncul pertanyaan, siapakah muhajir yang sejati dalam pandangan syariat? Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa salam mendefinisikannya dengan sangat lugas:
Inilah inti dan hakikat dari makna hijrah yang sesungguhnya: sebuah komitmen penuh untuk meninggalkan segala bentuk kemaksiatan, lalu beralih dan bergerak secara konsisten menuju ketaatan.
Tujuan mutlak dari arah hijrah seorang mukmin tiada lain dan tidak bukan hanyalah ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, demi meraih keridaan-Nya semata.
Seorang mukmin wajib berhijrah dengan modal ilmu. Kita melakukan ketaatan didasari oleh landasan ilmu yang benar, dan kita meninggalkan kemaksiatan pun didasari oleh pemahaman ilmu yang sahih. Sinkronisasi antara ilmu dan amal inilah yang membentuk hakikat ketakwaan—sebaik-baik bekal bagi seorang hamba untuk menempuh perjalanan pulang menemui Sang Pencipta.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Mengenai implementasi takwa ini, seorang ulama dari generasi Tabi’in yang mulia, Thalq bin Habib Rahimahullah, memberikan untaian nasihat yang sangat indah: