Keutamaan & Tingkatan Puasa Asyura

✨ Panduan Puasa Asyura ✨

Menghapus Dosa Setahun yang Lalu

Jenis ibadah yang sangat ditekankan dalam bulan Muharram adalah puasa Asyuura. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

وصوم يوم عاشوراء إني أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله

"Puasa pada hari Asyuraa akan menghapus dosa setahun yang lalu." (HR. Abu Daud)

Tahukah Anda bahwa puasa Asyuura memiliki empat tingkatan? Silakan klik tombol di bawah ini untuk mempelajari setiap tingkatannya!

🥇 Berpuasa Tiga Hari Berturut-turut (Tanggal 9, 10, dan 11 Muharram)

Berpuasa tiga hari berturut-turut yaitu pada hari ke-9, 10 dan ke 11 dari bulan Muharram. Demikian ini tingkatan terbaik dari puasa Asyuura, berdasarkan beberapa alasan:

1. Anjuran Puasa 3 Hari Setiap Bulan
Keumuman keterangan yang memerintahkan berpuasa sebanyak tiga hari dalam setiap bulan. Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu- berkata:

أَوْصَانِي خَلِيلِي بِثَلَاثٍ لَا أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَصَلَاةِ الضُّحَى وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ

“Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- telah berwasiat dengan tiga wasiat yang tidak akan pernah saya tinggalkan hingga wafatku, yaitu; berpuasa tiga hari dalam setiap bulan, shalat dhuha dan shalat witir sebelum tidur.” [HR. Bukhari].

2. Menyelisihi Orang Yahudi
Keumuman keterangan yang memerintahkan kaum muslimin untuk melakukan puasa yang berbeda dengan puasanya orang Yahudi di bulan Muharram, yang hanya berpuasa pada hari ke-10 saja. Abdullah bin Abbas –radhiyallahu ‘anhuma- menceritakan riwayatnya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ ».

قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-

“Wahai Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-, sesungguhnya hari itu adalah hari besarnya orang-orang Yahudi dan Nashrani. Maka Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda; kalau demikian, tahun depan saya akan –juga- melaksanakan puasa pada hari ke-9. Namun ternyata Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- telah wafat belum sempat mendapati tahun itu.” [HR. Abu Daud].

Ditambah juga dengan alasan keumuman bahwa semulia-mulia puasa setelah Ramadhan adalah di bulan Allah, yaitu Muharram.

🥈 Berpuasa pada Hari ke-9 dan 10 Muharram

Tingkatan kedua adalah berpuasa pada hari ke-9 dan 10 dari bulan Muharram.

Hal ini berdasarkan keterangan-keterangan yang shahih berisi keinginan dan perintah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- untuk mengiringi puasa pada hari ke-10 di bulan Muharram dengan puasa pada hari sebelumnya. Tujuannya adalah untuk menyelisihi kebiasaan orang-orang Yahudi yang hanya berpuasa pada hari ke-10 saja.

🥉 Berpuasa pada Hari ke-10 dan ke-11 Muharram

Tingkatan selanjutnya adalah berpuasa pada hari ke-10 dan ke-11. Tujuannya tetap sama, yaitu berdasarkan keterangan-keterangan umum yang berisi perintah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- untuk menyelisihi kebiasaan orang-orang Yahudi yang hanya berpuasa pada hari ke-10 saja.

Catatan Kritis Seputar Hadits Tingkat 3:
Hanya saja, tidak ada keterangan shahih yang berisi perintah untuk melakukan puasa pada ke-2 hari tersebut. Terdapat riwayat Ibnu Abbas –radhiyallahu ‘anhuma- meriwayatkan hadits marfu’:

صوموا يوم عاشوراء و خالفوا اليهود صوموا قبله يوما أو بعده يوما

“Berpuasalah pada hari Asyura dan selisihilah Yahudi; berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.”

Hadits ini diriwayatkan diantaranya oleh imam Ibnu Khuzaimah dan imam Ahmad, namun didhaifkan oleh syaikh nashiruddin al Baani dan syaikh Syuaib al Arnauuth. Redaksi lain yang berbunyi "...Berpuasalah sehari sebelum dan sesudahnya." (صوموا قبله يوما و بعده يوما) pun adalah riwayat yang lemah disandarkan kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-, karena diantara perawinya terdapat perawi lemah bernama Muhammad bin Abdul Rahman ibnu Abi Laila dan Daud bin Ali. Hanya saja hadits ini dinyatakan shahih secara mauquuf dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.

⚠️ Berpuasa Hanya pada Hari ke-10 Muharram

Tingkatan terakhir adalah berpuasa hanya pada hari ke-10.

Sebagian ulama menyatakan bahwa hukum berpuasa pada hari tersebut adalah makruh karena adanya persamaan antaranya dengan puasa orang-orang Yahudi. Namun demikian, yang lebih tepat adalah pendapat yang menyatakan bahwa hukum melaksanaannya adalah makruh bagi orang-orang yang sanggup mengiringinya dengan puasa sehari sebelum atau sehari setelahnya, tetapi mereka sengaja meninggalkannya.

Scroll to Top

Kegiatan Perkuliahan
3 Maret 2026

Silakan menyimak lanjutan penjelasan mengenai “Dunia Islam di Masa Keemasan” melalui tautan YouTube ini.

Setelah menyimak materi tersebut, lakukan analisis dengan menjawab pertanyaan berikut:

  1. Apa saja faktor-faktor yang menjadi penyebab kebangkitan dunia Islam pada tiga masa keemasan tersebut?
  2. Apa saja faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran dunia Islam pada masing-masing masa tersebut?

Untuk mempertajam analisis, silakan membaca kembali materi perkuliahan sebelumnya sebagai bahan pendukung.

Tuliskan hasil analisis Anda pada kolom komentar YouTube dari video yang telah disimak!
Jangan lupa mencantumkan inisial nama di bagian akhir komentar.