Sebuah Premis yang Blunder

Sebuah Premis yang Blunder

Dikisahkan, seorang ulama Hambali berdialog dengan seorang tokoh Mu’tazilah dalam sebuah majelis. Sang Hambali meyakini bahwa Allah memiliki sifat kalam dan berbicara sesuai dengan kemahabesaran serta kemahaagungan-Nya. Adapun sang Mu’tazilah mengingkari bahwa kalam merupakan sifat yang melekat pada Allah.

Tokoh Mu’tazilah

“Wahai Hambali, benarkah engkau meyakini bahwa Allah berbicara?”

Ulama Hambali

“Benar. Allah berbicara sesuai dengan kemahabesaran dan kemahaagungan-Nya.”

Tokoh Mu’tazilah

“Seandainya pada hari kiamat Allah berkata kepadamu, ‘Apa yang membuatmu berani menetapkan bahwa Aku memiliki sifat berbicara?’, apa yang akan engkau jawab?”

Ulama Hambali

“Aku akan berkata, ‘Wahai Rabbku, pertanyaan-Mu kepadaku hari ini merupakan bukti bahwa Engkau benar-benar berbicara.'”

Sang Mu’tazilah pun terdiam. Ia menyadari bahwa pertanyaan yang diajukannya telah menggunakan premis yang bertentangan dengan posisi yang sedang ia bangun. Jika ia menjadikan ‘Allah berkata’ sebagai asumsi dalam argumennya, maka asumsi itu justru menguatkan apa yang sedang ia bantah.

Tonton Referensi Lengkapnya
Scroll to Top

Kegiatan Perkuliahan
3 Maret 2026

Silakan menyimak lanjutan penjelasan mengenai “Dunia Islam di Masa Keemasan” melalui tautan YouTube ini.

Setelah menyimak materi tersebut, lakukan analisis dengan menjawab pertanyaan berikut:

  1. Apa saja faktor-faktor yang menjadi penyebab kebangkitan dunia Islam pada tiga masa keemasan tersebut?
  2. Apa saja faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran dunia Islam pada masing-masing masa tersebut?

Untuk mempertajam analisis, silakan membaca kembali materi perkuliahan sebelumnya sebagai bahan pendukung.

Tuliskan hasil analisis Anda pada kolom komentar YouTube dari video yang telah disimak!
Jangan lupa mencantumkan inisial nama di bagian akhir komentar.