Petikan Hikmah dibalik Kemenangan Bangsa Romawi

الم (١) غُلِبَتِ الرُّومُ (٢) فِي أَدْنَى الْأَرْضِ وَهُم مِّن بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ (٣) فِي بِضْعِ سِنِينَ ۗ لِلَّهِ الْأَمْرُ مِن قَبْلُ وَمِن بَعْدُ ۚ وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ (٤) بِنَصْرِ اللَّهِ ۚ يَنصُرُ مَن يَشَاءُ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (٥)

 

Alif Lām Mīm. Bangsa Romawi telah dikalahkan (maksudnya adalah bangsa Romawi Timur yang berpusat di Konstantinopel). Di negeri yang terdekat (Yakni dekat dari negeri Arab, yaitu Suriah dan Palestina) dan mereka setelah kekalahannya itu akan menang. Dalam beberapa tahun (lagi, antara tiga sampai sembila). Milik Allahlah urusan sebelum dan setelah (mereka menang). Pada hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang mukmin. Karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.

 

Konteks Geopolitik dan Keberpihakan di Masa Nabi

Pada masa diturunkannya ayat ini, dunia dikuasai oleh dua kekuatan adidaya yang memiliki kekuatan seimbang, yaitu Kekaisaran Persia dan Romawi. Keduanya kerap terlibat dalam berbagai peperangan besar. Secara ideologis, bangsa Persia adalah kaum musyrik yang menyembah api, sehingga kaum musyrikin Makkah merasa memiliki kedekatan dengan mereka. Di sisi lain, bangsa Romawi adalah Ahli Kitab yang berpegang pada ajaran Taurat dan Injil. Kedekatan teologis ini membuat kaum Muslimin lebih condong dan berharap agar Romawi yang memenangkan peperangan.

 

Kekalahan Romawi dan Janji Kemenangan dari Allah

Ketika pada akhirnya Persia berhasil mengalahkan Romawi dan merebut wilayah terdekat mereka, terjadilah gejolak emosi di Makkah. Kaum musyrikin bersuka cita atas kemenangan Persia, sementara kaum Muslimin diliputi kesedihan. Di tengah suasana inilah Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan wahyu-Nya untuk menghibur sekaligus memberikan kabar gembira yang luar biasa kepada kaum Muslimin. Allah berjanji bahwa kekalahan Romawi itu tidaklah permanen.

Dalam rentang waktu beberapa tahun saja—yang dalam istilah Al-Qur’an disebut bid’i sinin (merujuk pada angka antara tiga hingga sembilan tahun)—kondisi akan berbalik dan Romawi akan menaklukkan Persia.

Waktu antara kekalahan bangsa Romawi (tahun 614‒615) dan kemenangannya (tahun 622 M) adalah sekitar tujuh tahun.

 

Ketetapan Mutlak dan Kebahagiaan Kaum Mukminin

Dalam ayat ini ada penjelasan secara mendalam bahwa perputaran nasib kedua bangsa besar ini bukanlah semata-mata karena hukum sebab-akibat atau kekuatan militer belaka. Segala urusan, baik sebelum kekalahan maupun sesudah kemenangan, mutlak berada di bawah kehendak dan kekuasaan Allah. Kemenangan tidak akan terwujud tanpa iringan qadha dan qadar dari-Nya.

Kelak, ketika janji Allah itu terbukti dan Romawi berhasil menaklukkan Persia, kaum Muslimin akan bersuka cita. Kebahagiaan mereka ini lahir dari pertolongan Allah, di mana Dia memenangkan pihak yang keburukannya lebih ringan (Ahli Kitab) dibandingkan pihak musyrik tulen. Pada hari itu pula, kaum musyrikin Makkah akan berbalik menanggung duka dan kekecewaan.

 

Sifat Al-Aziz dan Ar-Rahim dalam Sebuah Kemenangan

Peristiwa bersejarah ini pada akhirnya menjadi bukti nyata atas dua sifat mulia Allah. Pertama, Dia adalah Al-Aziz (Yang Maha Perkasa), yang menundukkan seluruh makhluk-Nya, memberikan kekuasaan kepada siapa yang Dia kehendaki, mencabutnya dari siapa yang Dia kehendaki, serta memuliakan dan menghinakan siapa saja sesuai kehendak dan keMahabijaksanaan-Nya. Kedua, Dia adalah Ar-Rahim (Yang Maha Penyayang) kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Kasih sayang ini ditunjukkan dengan cara Allah mengatur berbagai sebab dan jalan di luar perhitungan manusia, demi mendatangkan kebahagiaan dan pertolongan bagi kaum Muslimin.

 

Pelajaran Penting: Kebahagiaan Bukan Berarti Loyalitas (Al-Wala’)

Satu hal yang sangat penting untuk digarisbawahi dari peristiwa ini adalah: kegembiraan kaum Muslimin atas kemenangan bangsa Romawi sama sekali tidak menunjukkan rasa cinta yang bersifat ideologis, bentuk loyalitas, apalagi pertanda bahwa mereka termasuk dalam golongan Romawi. Kebahagiaan tersebut murni bersifat situasional karena dua alasan utama: terbuktinya kebenaran janji Al-Qur’an yang membungkam kesombongan musyrikin Makkah, serta kenyataan bahwa pihak Ahli Kitab memiliki nilai keburukan dan penyimpangan yang lebih ringan jika dibandingkan dengan kesyirikan kaum penyembah api. Hal ini memberikan kita pelajaran berharga tentang bagaimana membedakan antara bersimpati pada kondisi konstelasi politik tertentu demi kemaslahatan Islam, tanpa harus menggadaikan akidah dan kesetiaan mutlak yang hanya berhak ditujukan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Scroll to Top

Kegiatan Perkuliahan
3 Maret 2026

Silakan menyimak lanjutan penjelasan mengenai “Dunia Islam di Masa Keemasan” melalui tautan YouTube ini.

Setelah menyimak materi tersebut, lakukan analisis dengan menjawab pertanyaan berikut:

  1. Apa saja faktor-faktor yang menjadi penyebab kebangkitan dunia Islam pada tiga masa keemasan tersebut?
  2. Apa saja faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran dunia Islam pada masing-masing masa tersebut?

Untuk mempertajam analisis, silakan membaca kembali materi perkuliahan sebelumnya sebagai bahan pendukung.

Tuliskan hasil analisis Anda pada kolom komentar YouTube dari video yang telah disimak!
Jangan lupa mencantumkan inisial nama di bagian akhir komentar.