Antara Ambisi Global dan Esensi Pendidikan Sejati
Visi “Indonesia Emas 2045” bukanlah sekadar slogan politik, melainkan sebuah proyek sejarah yang memerlukan napas panjang[cite: 5]. Mencetak pemimpin bangsa adalah sebuah ikhtiar transformatif yang membutuhkan waktu setidaknya dua dekade[cite: 6].
Lulusan Sekolah Garuda ditargetkan menembus universitas elite dunia seperti Harvard dan MIT [cite: 15], dengan kurikulum yang ditekankan pada penguasaan STEM[cite: 16]. Namun, mengirimkan otak-otak terbaik ke institusi Barat tanpa fondasi adab berisiko menjadi “ekspor intelegensia” yang dikolonialisasi oleh paradigma asing[cite: 18].
Sistem pendidikan modern saat ini terjebak dalam arus neoliberalisme yang mereduksi esensi kemanusiaan[cite: 21]. Pendidikan sebagai penyedia buruh industri membuat universitas hanya melahirkan “sekrup-sekrup” kapitalisme yang kaku[cite: 24].
Kebijakan penutupan prodi yang dianggap tidak produktif, seperti keguruan, berdampak pada devaluasi peran guru, sehingga pendidikan kehilangan ruh karena hanya mengejar industri[cite: 23, 24]. Selain itu, indikator keberhasilan yang hanya diukur dari PDB dan pasar melahirkan pengangguran terdidik dan manusia yang kehilangan orientasi ketuhanan[cite: 24].
Tujuan pendidikan seharusnya melahirkan “Manusia yang Baik” (Good Man), sebagaimana digagas oleh Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas[cite: 30]. Kriteria ini terbagi menjadi 5 pilar adab:
Dalam pedagogi modern, Taksonomi Bloom menempatkan “Mencipta” (Create) sebagai puncak tertinggi[cite: 53]. Namun, bagi seorang Muslim, kemampuan mencipta tanpa nilai manfaat adalah kesia-siaan[cite: 54].
Puncak tertinggi pendidikan bukanlah Create, melainkan Contribute (Kontribusi)[cite: 56]. Prinsip utamanya adalah sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain[cite: 57]. Oleh karena itu, kita butuh pemimpin yang beradab, yang cintanya kepada rakyat melampaui cintanya kepada jabatan[cite: 68].
