“”” Meluruskan Makna “At-Tawwab”

Meluruskan Makna “At-Tawwab”

Antara Panggilan Rahmat dan Tanggung Jawab Hamba

Menjelaskan makna At-Tawwab dengan membatasinya pada konsep bahwa “taubat hamba terjadi karena Allah memberikan taubat terlebih dahulu”—tanpa penjabaran yang komprehensif—berisiko tinggi menimbulkan ambiguitas, terutama di kalangan masyarakat awam.

Narasi semacam ini dapat membangun asumsi keliru yang bersifat fatalistik; seolah-olah seorang hamba tidak memiliki daya untuk bertaubat kecuali jika ia dipilih dan “diberi” taubat, yang pada akhirnya memunculkan kesan bahwa Allah membatasi pintu ampunan hanya untuk kalangan tertentu.

Padahal, jika kita merujuk pada hadits yang sering disitir, narasi “membentangkan tangan” di siang dan malam hari justru merupakan deskripsi yang paling presisi untuk mendefinisikan makna hakiki dari At-Tawwab.

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ، حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا
“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla membentangkan tangan-Nya di malam hari agar orang yang berbuat dosa di siang hari bertaubat, dan membentangkan tangan-Nya di siang hari agar orang yang berbuat dosa di malam hari bertaubat, hingga matahari terbit dari barat.”
(HR. Muslim no. 2759)

Hadits tersebut menegaskan bahwa Allah bukan sekadar Zat Yang Maha Menerima Taubat, melainkan Zat yang secara aktif terus memanggil, mengundang, membuka peluang seluas-luasnya, serta menunjuki jalan kembali bagi siapa pun hamba-Nya, tanpa terikat ruang dan waktu.

Prinsip ini sangat selaras dengan firman Allah dalam Al-Qur’an:

ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوٓا۟ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ
“Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya (kembali bertaubat). Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”
(QS. At-Taubah: 118)

Pemaknaan yang lebih relevan dan jernih dari kalimat “Tsumma taaba ‘alaihim liyatuubuu” adalah: Allah senantiasa menyeru dan menyediakan momentum bagi setiap hamba untuk bertaubat agar mereka kembali, dan ketika hamba tersebut melangkah, Allah akan dengan penuh rahmat menerima pertaubatannya.

Dengan demikian, tidak ada satu pun entitas yang membatasi atau menghalangi seorang manusia untuk bertaubat, kecuali keengganan dari dalam diri manusia itu sendiri.

Kesimpulan Teologis yang Seimbang

Oleh karena itu, dapat ditarik sebuah kesimpulan teologis yang lebih seimbang:

Narasi yang menyeimbangkan antara luasnya rahmat Ilahi dan mutlaknya tanggung jawab personal (ikhtiar) ini jauh lebih jernih, memberdayakan, serta meminimalisasi peluang miskonsepsi dalam memahami literatur-literatur syariat.

Scroll to Top

Kegiatan Perkuliahan
3 Maret 2026

Silakan menyimak lanjutan penjelasan mengenai “Dunia Islam di Masa Keemasan” melalui tautan YouTube ini.

Setelah menyimak materi tersebut, lakukan analisis dengan menjawab pertanyaan berikut:

  1. Apa saja faktor-faktor yang menjadi penyebab kebangkitan dunia Islam pada tiga masa keemasan tersebut?
  2. Apa saja faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran dunia Islam pada masing-masing masa tersebut?

Untuk mempertajam analisis, silakan membaca kembali materi perkuliahan sebelumnya sebagai bahan pendukung.

Tuliskan hasil analisis Anda pada kolom komentar YouTube dari video yang telah disimak!
Jangan lupa mencantumkan inisial nama di bagian akhir komentar.