Tafsir Surat Al-Fatihah
(Abu Handzhalah)
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (1) الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2) الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3) مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5) اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7) [الفاتحة : 1 – 7]
\”Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang,[1]. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam,[2].Maha Pemurah lagi Maha Penyayang,[3]. Yang menguasai hari pembalasan,[4].Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan,[5].Tunjukilah kami jalan yang lurus,[6].(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat[7].\”
A. Status Surat
Surat ini adalah surat Makkiyyah berdasarkan pendapat mayoritas ulama. Diantara dalilnya adalah firman Allah;
وَلَقَدْ آَتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآَنَ الْعَظِيمَ
Ayat ini terdapat dalam surat al Hijr yang merupakan surat Makkiyyah, dan mayoritas ulama menyatakan bahwa yang dimaksud dengan firman Allah “Sab’an min al matsaani” adalah surat al Faatihah[1]. Demikian ini pendapat dari Umar, Ali dan Ibnu Mas’ud dari kalangan sahabat Rasulullah[2].
B. Nama Surat
Surat ini memiliki beberapa nama. Diantara nama-namanya yang masyhur adalah:
– Faatihah al-Kitaab
– Ummul Kitaab
– Al-Qur`an al-\’Azhiim
– Ummul Qur`an
– As-Sab\’ul Matsaaniy
Abu Hurairah berkata, bahwasanya Rasulullah shallallahu \’alaihi wasallam bersabda;
الحمد لله رب العالمين سبع آيات بسم الله الرحمن الرحيم إحداهن ﻭﻫﻲالسبع المثاني ﻭ القرآن العظيم ﻭﻫﻲأم الكتاب وفاتحة الكتاب
“Alhamdulillah rabbil ‘aalamiin terdiri dari 7 ayat. Basmalah adalah salah satu ayat-ayatnya. Al-fatihah adalah as sab’u al matsaani (7 ayat yang selalu berulang); al-qur’an al-adzhim; ummu al-kitaab; dan faatihatu al-kitaab”. Al-imam Ibnu katsir –rahimahullah- berkata; hadits ini diriwayatkan oleh Al-hafidz Abu bakar Ahmad bin Musa bin Mardawaih di dalam tafsirnya. Kemudian beliau berkata; hadits serupa diriwayatkan pula oleh ad-Daraquthni, dari Abu hurairah secara marfu’ (bersambung jalan periwayatannya hingga kepada Rasulullah, dan beliau (al-imam Ad-daaraquthni) berkata; sanad (jalan periwayatan ) hadits ini terdiri dari orang-orang terpercaya (tsiqaat)[3].
C. Jumlah Ayat
Para ulama sepakat menyatakan bahwa surat al Faatihah terdiri dari tujuh ayat[4]. Dalil kesepakatan ini adalah al Quran pada surah al Hijr yang telah disebutkan, dan hadits Abu Hurairah yang telah lalu.
D. Apakah Basmalah Merupakan Satu Diantara Ayat al Faatihah ?
Masalah ini adalah masalah khilafiyyah dikalangan para ulama;
a. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa “basmalah” adalah merupakan ayat tersendiri yang terpisah dari Al-fatihah. Beberapa alasan mereka adalah;[5]
1. Hadits Abu hurairah, bahwasanya nabi shallallaahu \’alaihi wasallam bersabda;
قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ { الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ }, قَالَ اللَّهُ تَعَالَى حَمِدَنِي عَبْدِي… الحديث
“ Allah ta\’ala berfirman; Saya membagi shalat itu (surat Al-fatihah) menjadi dua bagian; apabila ia berkata Alhamdulillahi rabbil ‘alaamiin, maka Allah ta\’ala akan berkata; sungguh hamba-Ku telah memujiku …”[6]. Pengambilan dalih dari hadits ini adalah bahwasanya dalam hadits ini tidak disebutkan basmalah, yang mana hal ini menunjukkan bahwasanya basmalah bukanlah bahagian dari al-fatihah.
2. Dari segi makna, kita akan mendapati para ulama telah sepakat bahwa surat Al-fatihah itu terdiri dari 7 ayat. Lantas jika kita cermati pembagian ayat-ayat dalam surat ini menurut maknanya akan kita dapati bahwa ayat pertengahan dari suarat ini adalah firman Allah ta’ala ;
ﺇياك ﻧﻌﺒﺪ وإياك نستعين
“ Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan”. Kesimpulan demikian ditarik mengingat bahwa 3 ayat pertama menerangkan tentang hak Allah ta\’ala, sedangkan ayat ini memuat akan hak Allah dan hak seorang hamba, adapun 3 ayat terakhir seluruhnya berisi hak seorang hamba. Ke-3 ayat terakhir itu adalah;
ﺇﻫﺪﻧﺎ الصراط المستقيم (5) صراط الذين ﺃﻧﻌﻤﺖ ﻋﻠﻴﻬﻢ (6) ﻏﻴﺮالمغضوب ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻭﻻالضالين (7)
“Tunjukilah kami kepada jalan yang lurus. Jalan orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk kepada mereka . Bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat”.
b. Adapula golongan ulama yang berpendapat bahwa basmalah itu termasuk salah satu ayat dari surat Al-fatihah. Dalil dari pendapat mereka adalah hadits Abu hurairah –yang telah lalu-, bahwasanya Rasulullah shallallahu \’alaihi wasallam bersabda;
الحمد لله رب العالمين سبع آيات بسم الله الرحمن الرحيم إحداهن ﻭﻫﻲالسبع المثاني ﻭ القرآن العظيم ﻭﻫﻲأم الكتاب وفاتحة الكتاب
“Alhamdulillah rabbil ‘aalamiin terdiri dari 7 ayat. Basmalah adalah salah satu ayat-ayatnya. Al-fatihah adalah sab’ul matsaani (7 ayat yang selalu berulang); al-qur’an al-adzhim; ummu al-kitaab; dan fatihatu al-kitaab”.
Mempelajari seluruh dalil yang telah dikemukakan oleh ke-2 golongan ulama yang berbeda pendapat tadi, nampak bahwa ke-2 nya memiliki dalih yang kuat terhadap pendapat mereka masing-masing, hanya saja –kalau sekiranya- dalil yang dikemukakan oleh kelompok ke-2 adalah benar sebagaimana yang diutarakan oleh al-imam Ibnu katsir, maka dalil tersebut tentulah lebih tepat untuk dijadikan pegangan dalam masalah ini. –wallahu a’lam-
C. Keutamaannya
Surat ini memiliki keutamaan yang agung dan telah dijelaskan mengenainya oleh banyak hadits, diantaranya adalah pernyataan Rasulullah kepada Abu Sa’id al Mu’alli –radhiyallahu ‘anhu- ; « Sungguh saya akan mengajarimu semulia-mulia surat[7] di dalam al Quran. » Maka Rasulullah –kemudian- bersabda ;
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُه
« Al Hamdulillahi Rabbil ‘Aalamiin, ia itu adalah as Sab’u al Matsaani dan ia itu adalah al Qur’an al Adzhiim yang telah diberikan kepadaku. [8]»
D. Keutamaan Ucapan \” Amiin \”
Di dalam kitab Shahiih al-Bukhaariy[9], terdapat hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah bahwasanya Nabi Shallallaahu \’alaihi Wa Sallam bersabda,
إِذَا قَالَ الْإِمَامُ [ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ ] فَقُولُوا آمِينَ فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ قَوْلُهُ قَوْلَ الْمَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Bila Imam mengucapkan \’Waladl Dlaalliin\’, maka katakanlah \’Amiin\’, sebab siapa saja yang pengaminannya bertepatan dengan pengaminan Malaikat, maka akan diampuni baginya dosa-dosa terdahulu.”
Adapun dalam Shahiih Muslim[10], disebutkan,
إِذا قَالَ [ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ ] فَقُولُوا آمِينَ يُجِبْكُمْ اللَّهُ
“Bila Imam mengucapkan \’Waladl Dlaallin\’, maka katakanlah \’Amiin\’, niscaya Allah akan menjawab (mengabulkan bagi) kamu.”
Perkataan ‘amiin’ berarti ‘Ya Allah, kabulkanlah !’. Pernyataan ini adalah doa yang dipanjatkan oleh seseorang agar Allah menerima doa yang ia panjatkan. Olehnya maka dianjurkan bagi seseorang yang telah membaca surah al Faatihah untuk membaca lafadz ini, baik ketika membacanya di dalam shalat ataupun di luar shalat. Hal ini –juga- mempertegas hadits riwayat Abu Hurairah yang telah disebutkan sebelumnya; “Bila Imam mengucapkan \’Waladl Dlaallin\’, maka katakanlah \’Amiin\’, niscaya Allah akan menjawab (mengabulkan bagi) kamu.”. Bagaimana tidak dikabulkan sementara –ketika itu- telah berkumpul tiga peng’amin’an, yaitu; ‘amin’ yang diucapkan oleh imam, ‘amin’nya makmum dan ‘amin’nya malaikat. Maka ketika ketiga amin ini bertemu dalam satu waktu, -saat itulah- Allah akan mengampuni dosa seorang yang mengucapkannya sebagaimana pekataan Rasulullah; “siapa saja yang pengaminannya bertepatan dengan pengaminan Malaikat, maka akan diampuni baginya dosa-dosanya terdahulu.[11]”
E. Membaca al Faatihah Di Dalam Shalat
Membaca al Faatihah wajib hukumnya bagi setiap Muslim pada setiap raka\’at shalat dan tidak dapat diganti dengan membaca terjemahan atau lainnya. Allah berfirman;
فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآَنِ [المزمل/20]
“Maka bacalah (ketika shalat) apa yang mudah (bagimu) dari al Qur\’an.” (al Muzzammil; 20)
وَهَذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِينٌ [النحل/103]
“Al Qur\’an adalah dalam bahasa Arab yang terang.” (an Nahl; 103)
وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (192) نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (193) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (194) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (195) [الشعراء/192-195]
“Dan sesungguhnya al Qur\’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.” (as Syu’araa; 192-195)
Membacanya adalah termasuk rukun shalat, baik yang fardlu maupun sunnah, baik shalat sendiri atau shalat berjama’ah[12]. Namun wajib bagi makmum pada shalat Jahriyyah (yang dinyaringkan bacaannya), membacanya dengan Sirr (pelan, tidak nyaring) hingga tidak mengganggu konsentrasi imam dalam membaca surah.
Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu- berkata;
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْصَرَفَ مِنْ صَلَاةٍ جَهَرَ فِيهَا بِالْقِرَاءَةِ فَقَالَ هَلْ قَرَأَ مَعِي مِنْكُمْ أَحَدٌ آنِفًا. فَقَالَ رَجُلٌ نَعَمْ أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي أَقُولُ مَا لِي أُنَازَعُ الْقُرْآنَ. فَانْتَهَى النَّاسُ عَنْ الْقِرَاءَةِ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا جَهَرَ فِيهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْقِرَاءَةِ حِينَ سَمِعُوا ذَلِكَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ\”
“Pernah Rasulullah selesai dari sebuah shalat jahar. Ketika itu beliau bertanya kepada para sahabat yang menjadi makmumnya; “Adakah seorang yang turut membaca surah dibelakangku ?”. Seorang sahabat menjawab, “Ya, saya wahai Rasulullah !”. Beliau berkata; “Mengapa engkau menandingiku (mengganggu konsentrasiku) dalam bacaan ?!”. Maka semenjak itu, para sahabat pun berhenti turut membaca di belakang Rasulullah.[13]”.
Hadits ini –secara tekstual- menunjukkan larangan mengganggu konsentrasi imam dalam membaca surah, yaitu dengan membacanya –juga- dengan suara keras atau dengan suara yang mengganggu konsentrasi imam. Adapun jika seorang membacanya secara sirr (tidak diperdengarkan), bersamaan dengan bacaan imam atau ketika imam selesai membacanya, maka yang demikian itu tidaklah terlarang. Olehnya, dalam kesempatan lain Abu Hurairah berkata, meriwayatkan hadits Rasulullah;
مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ ثَلَاثًا غَيْرُ تَمَامٍ
“Barangsiapa shalat dengan tidak membaca al-Fatihah, maka shalatnya adalah cacat, cacat dan cacat.” Mendengar hadits ini, para sahabat bertanya kepada Abu Hurairah;
إِنَّا نَكُونُ وَرَاءَ الْإِمَامِ
“Bagaimana sekiranya kami berada dibelakang imam ?.” Beliau berkata;
اقْرَأْ بِهَا فِي نَفْسِكَ\”
“Bacalah di dalam hatimu (tidak dijaharkan).”[14]
F. Penjelasan Surah
الحمد لله
(Segala puji bagi Allah)
Al-hamdulillah adalah kalimat syukur yang diucapkan seorang hamba secara tulus hanya kepada Allah dan tidak kepada yang selain-Nya. Rasa syukur ini timbul karena limpahan nikmat-Nya yang tiada terhitung; makanan, minuman, segala kenikmatan duniawi, serta petunjuk hidayah dan kemampuan untuk menempuhnya; semua itu hanyalah milik Allah ta\’ala semata. Karenanya, segala puji hanya pantas teruntuk bagi Allah ta\’ala sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya.
Al-hamdulillah, sebuah kata singkat dan mungkin di benak kita merupakan suatu hal yang sepele. Namun disisi Allah ta\’ala –sesungguhnya- kalimat ini merupakan sesuatu yang sangatlah agung bila yang mengucapkannya ikhlas dan mengharapkan pahala dari ucapannya tersebut. Al-imam Ibnu Katsir didalam tafsirnya membawakan beberapa dalil yang menunjukkan betapa besar dan agungnya kalimat ini;
a. Al-hamdulillah adalah kalimat yang dicintai dan dirdhai oleh Allah ta\’ala bagi diri-Nya. Ali –radhiyallahu ‘anhu- berkata;
الحمد لله كلمة أحبها الله لنفسه ورضيها لنفسه وأحب أن تقال
\”Al-hamdulillah adalah kalimat yang Allah ta\’ala cintai dan ridhai untuk disandarkan kepada diri-Nya, sebagaimana Ia-pun senang jika kalimat ini –senatiasa- diucapkan\”.
b. Al-hamdulillah adalah merupakan kalimat syukur. Ibnu \’Abbas –radhiyallahu ‘anhuma- berkata;
الحمد لله كلمة الشكر، فإذا قال العبد الحمد لله قال الله شكرني عبدي
\”Al-hamdulillah adalah merupakan kalimat syukur. Bilamana seorang hamba mengucapkan Al-hamdulillah, maka Allah ta\’ala akan berkata; sungguh hamba-Ku telah bersyukur kepada-Ku\”. Allah ta\’ala berfirman;
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ
\”Dan ingatlah, tatkala Tuhan-mu memaklumkan; sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambahkan nikmat kepadamu\”. (Ibrahim; 7)
c. Al-hamdulillah adalah sebaik-baik do\’a yang diucapkan oleh seorang hamba. Rasulullah shallallahu \’alaihi wasallam bersabda;
أفضل الذكر لاإله إلا الله وأفضل الدعاء الحمد لله
\”Sebaik-baik dzikir adalah laailaaha illallaah, dan sebaik-baik do\’a adalah al-hamdulillah.\” [15]
d. Al-hamdulillah lebih baik dari dunia dan seisinya. Rasulullah shallallahu \’alaihi wasallam bersabda;
لو أن الدنيا بحذافيرها في يد رجل من أمتي ثم قال الحمد لله، لكان الحمد لله أفضل من ذلك
\”Bila saja dunia beserta segala isinya berada dalam genggaman seorang hamba-Ku dan ia mengucapkan Al-hamdulillah; niscaya kalimat yang ia ucapkan itu (hamdalah) lebih baik sdari apa yang berada dalam genggamannya tersebut\”[16]. Allah ta\’ala berfirman;
المال والبنون زينة الحياة الدنيا والباقيات الصالحات خير عند ربك ثوابا وخير أملاً
\”Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya disisi Tuhan-mu serta lebih baik untuk menjadi harapan\”. (Al-kahfi; 46) [17]
Demikian besar kecintaan Allah terhadap kalimat ini, dimana bias dari kecintaan tersebut dapat disaksikan dari beberapa hal berikut;
a. Allah ta\’ala memulai kitab-Nya dengan Al-hamdulillah. Allah ta\’ala befirman;
الحمد لله رب العالمين
\”Segala puji bagi Allah ta\’ala, Tuhan semesta alam\”. (Al-fatihah; 2)
b. Allah ta\’ala memulai proses penciptaan makhluk-Nya dengan hamdalah. Allah ta\’ala berfirman;
الحمد لله الذي خلق السموات والأرض وجعل الظلمات والنور
\”Segala puji bagi Allah ta\’ala Yang telah menciptakan langit dan bumi, dan mengadakan gelap dan terang\”. (Al-an\’am; 1)
c. Allah ta\’ala mengakhiri perjalanan seluruh makhluk dengan hamdalah. Allah ta\’ala berfirman;
وترى الملائكة حافين من حول العرش يسبحون بحمد ربهم وقضي بينهم بالحق وقيل الحمد لله رب العالمين
\”Dan (pada hari kiamat) kamu (Allah ta\’ala) akan melihat malaikat-malaikat berlingkar disekeliling arsy, bertasbih sambil memuji Tuhan-Nya; dan pada hari itu diputuskanlah segala perkara hamba-hamba-Nya dengan adil dan diucapkanlah; Al-hamdulillahi Rabbi Al-\’alaamiin\”. (Az-zumar; 75)
d. Allah ta\’ala mengilhami penduduk syurga dengan kalimat ini, yang mereka ucapkan sebagai akhir dari setiap permintaan mereka. Allah ta\’ala berfirman;
إن الذين آمنوا وعملوا الصالحت يهديهم ربهم بإيمانهم، تجري من تحتهم الأنهار في جنات النعيم. دعواهم فيها سبحانك اللهم وتحيتهم فيها سلام وآخر دعواهم أن الحمد لله رب العالمين
\”Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, maka Rabb mereka akan menunjuki mereka dengan keimanan mereka. Mengalir dibawah mereka sungai-sungai dan syurga-syurga yang penuh dengan kenikmatan. Do\’a-do\’a mereka didalamnya adalah maha suci Engkau ya Allah , penghormatan mereka didalamnya adalah salam, dan akhir dari permintaan mereka adalah Al-hamdulillahi Rabbi Al-\’aalamiin\”. (Yunus; 10)
الرب
(Rabb)
Kata Ar-rabb, berarti penguasa yang memiliki kebebasan dalam bertindak. Kata ini tidak boleh digunakan oleh yang selain-Nya, kecuali dengan menggandengkan kata lain setelahnya, contohnya; rabbu al-bait (pemilik rumah).
Selain itu, kata ‘ar Rabb’ bisa bermakna sesuatu yang disembah. Seorang penyair berkata;
أ رب يبول الثعلبان برأسه لقـد ذل من بالت عليه الثعالب
Pantaskah Rabb (yang disembah), seekor serigala kencing diatas kepalanya,
Sungguh telah hina, siapa yang seekor serigala kencing diatasnya.
العالمين
(Alam)
\’Aalamiin merupakan bentuk jamak dari kata \’aalam, yang berarti segala sesuatu selain Allah ta\’ala. Allah ta\’ala berfirman;
قال فرعون وما رب العالمين، قال رب السموات والأرض وما بينها إن كنتم موقنين
\”Fir\’aun bertanya: \”Siapa Tuhan semesta alam itu?\” Musa menjawab: \”Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antara keduanya , jika kamu sekalian mempercayai-Nya\”. (As-syu\’araa\’; 23-24)
Kata ‘aalam’ merupakan pecahan dari kata ‘alamat’ yang berarti tanda. Seluruh makhluk yang ada dialam raya ini dinamakan alam, karena seluruhnya merupakan tanda akan kebesaran Allah Yang Maha Agung, sebagaimana tersebut dalam sebuah sya\’ir;
فيا عجبا كيف تعصي الإله © أم كيف يجحده الجاحد
وفي كل شيئ له آية © تدل على أنه واحد
\”Sungguh mengherankan, bagaimana engkau durhaka kepada Allah,
atau bagaimana engkau ingkar kepada-Nya;
sementara, pada tiap sesuatu ada tanda,
sebagai bukti akan ke-Esaan-Nya\”.
الرحمن الرحيم
(Zat Yang Maha Rahman lagi Maha Rahim)
Kedua kata ini adalah dua diantara nama-nama Allah. Keduanya menunjukkan bahwa Dia Ta\’ala adalah Pemilik rahmat (Maha pengasih) yang amat luas dan agung, dan Dia pula yang maha menyampaikan rahmat tersebut kepada seluruh hamba-Nya –terkhusus- bagi hamba-hamba-Nya yang beriman.
مالك يوم الدين
(Raja dan Pemilik hari pembalasan)
Ada beberapa macam qira’at dari firman Allah ini; ada yang membacanya dengan memanjangkan huruf mim-nya <مالك>, yang berarti Sang Maha Pemilik; dan adapula yang mebacanya dengan mim yang dibaca pendek <ملك>, yang berarti Sang Maha Raja. Penggabungan antara ke-2 macam qira’at ini sangatlah baik, mengingat bahwa tidak semua yang memiliki adalah raja, dan tidak semua raja adalah pemilik. Penggabungan ke-2 nya merupakan isyarat yang menunjukkan bahwa Allah adalah Zat Yang Merajai, Memiliki serta Berkuasa terhadap seluruh makhluk-Nya.
Digandengkannya kata <مالك>, dalam ayat ini -hanya dengan- hari pembalasan, bukanlah merupakan penafian (peniadaan) sifat ke-Maha Berkuasa-an Allah atas segala makhluk-Nya pada hari-hari yang lain. Namun penggadengan tersebut merupakan bentuk penegasan, bahwa pada saat itu tiada seorang-pun yang dapat mengaku-ngaku sebagai Tuhan selain Dia, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh orang-orang kafir lagi pembangkang dimuka bumi ini. Allah berfirman;
يوم يقوم الروح والملآئكة صفاً، لايتكلمون إلاّ من أذن له الرحمن وقال صواباً
“Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar”. (An-naba\’; 38)
يوم الدين
(Hari pembalasan dan hisab)
\”Ad-dien\” dalam ayat ini berarti pembalasan atau hisab. Allah berfirman;
يومئذ يوفيهم الله دينهم الحق ويعلمون أن الله هو الحق المبين
“Di hari itu, Allah akan memberi mereka ‘diin’ mereka secara benar’ (balasan yag setimpal buat mereka menurut semestinya), dan tahulah mereka bahwa Allah-lah yang Benar, lagi Yang menjelaskan”. (An-nuur; 25)
إياك نعبد وإياك نستعين
(Hanya kepada-Mu kami beribadah (menyembah) dan
hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan)
Ibadah secara istilah berarti segala macam aktifitas lahiriyah maupun bathiniyah yang disenangi dan dicintai oleh Allah. Seorang ahli ibadah dikenal dengan nama ‘aabid’, yang berarti hamba. Manusia adalah merupakan bahagian dari hamba Allah. Kedudukan manusia sebagai seorang hamba (Abdun) di sisi Allah merupakan sebuah kedudukan yang sangat mulia. Karenanya, Allah-pun menggelari Rasulullah dengan laqab (panggilan) ini pada semulia-mulianya kesempatan, diantaranya adalah;
a. Allah menggelari beliau dengan laqab ini \”Abdun\” (hamba) tatkala Ia menurunkan kitab-Nya kepada beliau. Allah berfirman;
الحمد لله الذي أنزل على عبده الكتاب
\”Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-kitab (Al-qur\’an)\”. (Al-kahfi; 1)
b. Allah menyebutkan beliau dengan gelar ini tatkala beliau sedang menjalankan peribadatannya. Allah berfirman;
وأنه لما قام عبد الله يدعوه كادوا يكونون عليه لبداً
\” Dan bahwasanya tatkala hamba Allah berdiri menyembah-Nya , hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya\”. (Al-jin; 19)
c. Allah menggelari beliau dengan panggilan ini, tatkala Ia menceritakan perjalanan beliau menuju langit ke-7, sebagaimana firman-Nya;
سبحان الذي أسرى بعبده ليلا من المسجد الحرام إلى المسجد الأقصى الذي باركنا حوله
\” Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya\” (Al-israa; 1)
Ayat ini (Al-fatihah; 5) merupakan pernyataan ketundukan seorang hamba –semata- hanya kepada Allah, sebagaimana ayat ini-pun berisi permintaan tolong yang tulus dari seorang hamba –semata- hanya kepada Allah sembahannya. Karena itulah, maka objek dari ayat tersebut didahulukan dari subjek dan predikatnya, bahkan hal demikian-pun terulang pada penggalan kalimat ke-2.
Ayat ini –juga- memberikan isyarat akan dua pilar pokok yang membangun agama ini, yaitu;
a. Berlepas diri dari syirik, yang digambarkan oleh firman Allah; \”Hanya kepada-Mu sajalah kami beribadah (menyembah)\”.
b. Pengakuan sifat lemah dan kebergantungan (tawakkal) hamba hanya kepada Allah, yang termaktub dalam firman-Nya; \”Dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan\”.
Ke-2 pilar inilah yang sebenarnya merupakan inti dari ketaatan seorang hamba kepada Allah, sebagaimana pernyataan beberapa ulama;
الفاتحة سر القرآن وسرها هذه الكلمة؛ إياك نعبد وإياك نستعين
“Al-fatihah itu merupakan inti dari Al-qur\’an, sedangkan inti dari surat ini terletak pada firman-Nya; Hanya kepada-Mu sajalah kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan”[18].
Ayat ini –juga- seakan merupakan ekspresi kedekatan seorang hamba kepada Rabb-nya; dimana hal tersebut terlihat dari pengalihan kata ganti orang ke-3, kepada ganti orang ke-2. Kejelasan hal ini adalah; tatkala seorang hamba telah memuji-muji Allah dengan berbagai macam pujian yang tertuang dalam ayat ke-2 sampai ayat ke-4 dari surat ini; seakan ayat yang tersebut –setelahnya- ingin melukiskan bahwa dengan puji-pujian tersebut, naiklah kedudukan hamba tersebut hingga ia dapat berbicara (meminta) langsung kepada Rabb-nya tanpa ada perantara antara ia dengan-Nya.
اهدنا الصراط المستقيم
(Tunjukilah (berilah hidayah) kepada kami berupa jalan yang lurus)
Hidayah terbagi atas dua macam, yaitu;
a. Hidayah taufik, yang merupakan hak mutlak Allah, sebagaimana firman-Nya;
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ [القصص/56]
\”Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya\”. (Al-qashash; 56)
b. Hidayah petunjuk berupa penjelasan, yang mana setiap manusia –juga- berpeluang untuk berandil padanya, sebagaimana firman Allah;
وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ [الشورى/52]
\”Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus\”. (Asy syuura; 52)
Rasulullah shallallahu \’alaihi wasallam bersabda ;
لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ
\”Jika saja Allah memberi hidayah kepada seseorang dengan perantaraanmu, niscaya yang demikian itu lebih baik bagimu dari seekor unta yang paling mahal\”. [19]
Ayat ini berisi perintah kepada setiap muslim agar senantiasa meminta petunjuk dan hidayah kepada Allah, dalam setiap waktu dan keadaan, hingga ajalnya tiba. Hal demikian adalah wajar, karena sesungguhnya hati manusia itu berbolak-balik; jika saja bukan karena petunjuk Allah, pastilah manusia akan terus berkubang dalam lumpur kesalahan dan dosa. Karenanya, dalam ayat lain Allah memerintahkan seorang muslim untuk berdo\’a kepada-Nya;
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ [آل عمران/8]
\”Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi \”. (Al-imraan; 8)
صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين
(Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka.
Bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan
bukan pula jalan orang-orang yang sesat)
Apakah jalan yang lurus itu?. Allah menjawab pertanyaan tersebut dengan firman-Nya;
صراط الذين أنعمت عليهم
\” Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni\’mat kepada mereka\”, disebutkan dalam ayat lain;
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا
\” Dan barangsiapa yang menta\’ati Allah dan Rasul, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni\’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin , orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya\”. (An-nisaa; 69)
Mempertegas jawaban tersebut, Allah berfirman;
غير المغضوب عليهم ولا الضالين
Bukan jalan orang-orang yang terlaknat, yaitu orang-orang yahudi; mereka tahu kebenaran namun mereka ingkar, membangkang dan menghalangi manusia untuk meraih kebenaran. Bukan-pula jalannya orang-orang sesat, yaitu orang-orang nashara; yang beramal tanpa landasan ilmu.
Karenanya, jelaslah bagi setiap muslim bahwa agama yang mulia ini tidak akan lepas dari dua perkara, yaitu; ilmu dan amal. Bila seorang berilmu tanpa dibarengi dengan amal, maka dikhawatirkan ia tergolong kedalam hamba-hamba Allah yang terlaknat. Sebaliknya, amal tanpa ilmu; tidaklah akan mengantar seseorang meraih kebenaran, malah kebenaran itu akan semakin jauh dari padanya.
G. 10 Pelajaran Dari Surah al Faatihah
1. Allah adalah Zat yang maha terpuji karena ia adalah rabb nya semesta alam, yang maha luas rahmat-Nya dan maha menyampaikan rahmat tersebut kepada seluruh hamba-Nya –khususnya bagi orang-orang yang beriman-, dan karena Ia adalah Zat yang maha merajai dan menguasai hari pembalasan.
2. Pengakuan akan keberhakan terhadap sesuatu, wajib diiringi dengan penjelasan akan keberhakan tersebut.
3. Ibadah adalah hak Allah yang tidak boleh disimpangkan selain kepada-Nya.
4. Diantara bentuk ibadah adalah doa (meminta pertolongan). Tidak boleh menyimpangkan doa selain kepada-Nya.
5. Diantara adab berdoa adalah mendahului doa dengan memanjatkan puji-pujian kepada-Nya.
6. Keutamaan yang dimiliki oleh orang-orang yang senantiasa memuji Allah, bahwa ia akan menjadi sangat dekat dengan Allah hingga seakan tiada lagi pembatas antaranya dengan Allah.
7. Seorang manusia adalah makhluk yang akan senantiasa membutuhkan hidayah dan pertolongan Allah.
8. Islam adalah agama yang dibangun di atas ilmu dan amal.
9. Ilmu tanpa amal akan membawa seseorang menjadi orang-orang terlaknat. Sebaliknya, amal tanpa landasan ilmu akan menjadikan seorang sebagai orang sesat.
10. Keberhakan Allah untuk diesakan oleh makhluk-Nya ada tiga, yaitu; keberhakan-Nya untuk diesakan dalam rububiyyah (pekerjaan dan kebijakan Allah kepada makhluk), keberhakan-Nya untuk diesakan dalam ibadah (uluhiyyah), dan keberhakan-Nya untuk diesakan dalam nama dan sifat-sifat-Nya.
[1] Lihat “Ma’aalim at Tanziil”, oleh Imam al Baghawi, (1/49), al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.09)
[2] Lihat “Fathu al Qadiir”, oleh Imam as Syaukaani, (4/193), al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.09)
[3]Lihat Tafsir ”al Qur’an al Adzhiim”, oleh Imam Ibnu katsir, (1/102-103), al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.09)
[4]Lihat Tafsir ”al Qur’an al Adzhiim”, (1/101), al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.09)
[5]Lihat Tafsir Al-qur\’an Al-\’adzhim, oleh As-syaikh Muhammad bin Sholeh Al-\’utsaimin, pada tafsir beliau terhadap surat Al-fatihah.
[6] HR. Muslim, no. 598, al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.09)
[7] Ulama berselisih pendapat tentang keberadaan surah atau ayat yang lebih mulia dari surah atau ayat yang lainnya. Sebagian ulama menafikan keberadaan surah atau ayat yang lebih mulia daripada ayat atau surah yang lain. Di antara argumen mereka adalah:
*] Seluruh ayat-ayat Al-qur\’an adalah firman Allah, tidak ada perbedaan antara satu dengan yang lainnya.
*] Pernyataan bahwa, ayat ini lebih mulia dari ayat yang lainnya; mengisyaratkan adanya klaifikasi ayat; ayat yang termulia, yang mulia, yang sedang, dan yang dibawahnya; padahal seluruhnya adalah perkataan Allah.
Pendapat lainnya menyatakan akan adanya perbandingan tersebut. Diantara dalil mereka adalah;
*] Firman Allah;
مَا نَنْسَخْ مِنْ آَيَةٍ أَوْ نُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِنْهَا أَوْ مِثْلِهَا أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ [البقرة/106]
“Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?.” (al Baqarah; 106)
*] Sabda Rasulullah kepada Abu al Mundzir bahwa ayat Kursi adalah semulia-mulia ayat dalam al Quran. (Lihat Sunan Abi Daud, no. 1248, al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.09)
Kedua dalil ini dan hadits tentang keutamaan surah al Fatihah –sebagaimana yang disebutkan pada bahasan ini- menunjukkan secara jelas akan adanya perbandingan tersebut –dan demikian itulah pendapat yang mungkin lebih tepat-. Namun –perlu diketahui- bahwa yang dimaksud dengan perbandingan adalah perbandingan dari sisi makna atau kandungan, dan bukan dari sifat ayat-ayat tersebut sebagai firman atau perkataan Allah. Sebab itulah, dikatakan bahwa surat Al-ikhlas sebanding dengan sepertiga al-Qur\’an; karena kandungan al-Qur\’an secara keseluruhan terdiri dari 3 bahagian; ibadah, aqidah dan nasehat-nasehat akhlak, sedangkan surat Al-ikhlas –seluruhnya- berisi pengajaran tentang tauhid. (Lihat tafsir “al Jaami’e Li Ahkaami al Quran”, oleh imam al Qurthubi, 1/109-111)
[8] HR. Bukhari, no. 4114, al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.09)
[9] HR. Bukhari, no. 740, al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.11)
[10] HR. Muslim, no. 612, al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.11)
[11] Lihat al Jaami’e Li Ahkaami al Quran, 1/127, al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.11)
[12] Membacanya bagi makmum pada shalat jahar adalah hal yang diperdebatkan oleh para ulama. Sebagian menyatakannya sebagai hal yang wajib dengan dalil-dalil yang disebutkan. Sebagiannya lagi menyatakan bahwa bacaan imam adalah –juga- bacaan makmum pada shalat jahriyyah. Diantara dalilnya adalah, firman Allah;
وَإِذَا قُرِىءَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُواْ لَهُ وَأَنصِتُواْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
\” Dan apabila dibacakan Al Qur\’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat\”. (Al-a\’raaf; 204). Namun istidlaal dengan ayat ini dijawab bahwa makna yang dikandung oleh ayat ini adalah umum, dan dikhususkan dengan sabda Rasulullah shallallahu \’alaihi wasallam; \”Tidak ada shalat bagi seseorang yang tidak membaca Al-fatihah\”.
Diantara dalil lain yang diperpegangi oleh golongan yang menyatakan bahwa bacaan imam adalah –juga- bacaan makmum pada shalat jahriyyah adalah hadits;
مَنْ كَانَ لَهُ إِمَامٌ فَقِرَاءَةُ الْإِمَامِ لَهُ قِرَاءَةٌ
\”Barangsiapa yang memiliki imam; maka bacaan imam –juga- merupakan bacaan baginya\”, hadits ini adalah hadits yang lemah. (Lihat at Talkhiis al Habiir fi Takhriij Ahaadiits ar Raafi’ie, 1/355, al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.11))
Mengingat dua hal yang telah dikemukakan maka pendapat yang lebih tepat –wallahu a’lam- adalah pendapat pertama yang merupakan pendapat dari jumhur ulama, sebagaimana dinyatakan oleh imam at Tirmidzi. (Sunan at Tirmidzi, 2/25, al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.11))
[13] HR. Malik, no. 179, al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.11)
[14] HR. Muslim, no. 598, al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.11)
[15] HR Tirmidzi, no. 3305, al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.11)
[16] Hadits Maudhu’ sebagaimana yang disebutkan oleh syaikh Nashiruddin al Baani –rahimahullah- di dalam “Silsilah al Ahaadiits ad Dha’ifah”, no. 875, al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.11)
[17]Lihat tafsir Ibnu Katsir, (1/129-131), al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.11)
[18] Tafsir Ibnu Katsiir, (1/134), al-Maktabah as Syaamilah, Vol. 2, (2.11)
[19] HR Bukhari, no. 2787, al-Maktabah as Syaamilah, Vol. 2, (2.11)
baik untuk tatapan