Menelisik sisi terdalam hadis Nu’man bin Basyir yang sering kali terabaikan: pujian bagi akal yang berilmu dan panggilan untuk meninggalkan keawaman.
Hadis tentang perkara Syubhat (samar) selama ini sering kali dipahami hanya sebagai rambu-rambu etika untuk berhati-hati. Namun, jika kita menyelami lebih dalam, terdapat sebuah “pesan rahasia” atau isyarat agung yang diletakkan Rasulullah ﷺ di jantung hadis tersebut: sebuah pujian tinggi bagi ilmu pengetahuan dan panggilan bagi setiap muslim untuk terus belajar.
Dalam kaidah logika dan ushul fiqih, pernyataan bahwa sesuatu “tidak diketahui oleh kebanyakan manusia” secara otomatis mengisyaratkan adanya segelintir manusia yang mengetahuinya. Mereka adalah para ulama, orang-orang yang mendalam ilmunya (ar-rasikhuna fil ‘ilm).
Hadis ini secara halus memberikan pengakuan bahwa ulama memiliki peran yang tidak tergantikan. Di saat mayoritas orang terjebak dalam kebingungan di area “abu-abu”, para ulama adalah mereka yang diberikan anugerah berupa perangkat ilmu untuk membedah kerumitan tersebut hingga menemukan status aslinya. Ulama adalah mercusuar di tengah kabut yang memastikan bahtera umat tidak menabrak karang keharaman.
Kita perlu menyadari satu hakikat penting: sebuah perkara sering kali berstatus “syubhat” bukan karena hukum Allah itu menggantung, melainkan karena keterbatasan kapasitas intelektual kita. Syubhat adalah alarm yang mengingatkan kita bahwa literasi agama kita masih perlu ditingkatkan.
Meskipun Rasulullah ﷺ menganjurkan orang awam untuk menempuh jalan kehati-hatian (wara’), hadis ini bukanlah perintah agar seseorang selamanya menetap dalam ketidaktahuan. Islam memberikan dua pilihan dalam menghadapi kesamaran:
Hadis ini mendorong kita untuk tidak puas hanya menjadi “kebanyakan manusia”. Ada undangan tersirat bagi kita untuk naik kelas, dari sekadar orang yang menghindari masalah karena takut, menjadi orang yang mampu membedah masalah karena berilmu.