Kata al-adab merupakan mashdar (asal kata) dari aduba atau adiba yang berarti hal terpuji dari seseorang, baik dalam akhlak maupun ilmu. Ibnu Hajar berkata dalam Al-Fath:
Adab adalah kumpulan akhlak yang terpuji, yang merupakan petunjuk yang dengannya Allah menyempurnakan kenabian Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala Ia berfirman:
Demikian pula pernyataan senada yang diutarakan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
Tujuan Pendisiplinan Jiwa
Adab merupakan tujuan utama yang hendak dicapai oleh para ulama yang mendalami ilmu kejiwaan. As-Saffarini dalam penjelasannya Manzhumah Al-Adab menyebutkan:
Secara struktural, kutipan beliau ini membagi tingkatan adab menjadi dua kelompok utama:
Tingkatan Pertama (Ahli Agama secara Umum)
Berfokus pada perbaikan lahiriah dan dasar-dasar syariat:
- Riyadhatun-nafs: Melatih dan mendisiplinkan jiwa.
- Ta’dibul-jawarih: Menjaga agar anggota tubuh tidak bermaksiat.
- Tahdzibuth-thiba’: Membentuk karakter dan budi pekerti yang luhur.
- Hifzhul-hudud, Tarkush-syahawat, Tajannubus-syubuhat: Menjaga batasan halal-haram, meninggalkan hawa nafsu, dan bersikap waspada terhadap hal-hal yang tidak jelas hukumnya.
Tingkatan Kedua (Orang-Orang Pilihan)
Berfokus pada kemurnian batin tingkat tinggi:
- Hifzhul-qulub & Ri’ayatul-asrar: Menjaga kelurusan hati dari niat buruk dan memelihara rahasia spiritual antara dirinya dan Allah.
- Istiwa’us-sirri wal-‘alaniyah: Tidak ada sifat munafik; apa yang ada di dalam hati (batin) sama suci dan baiknya dengan apa yang diperlihatkan dalam amal perbuatan (zahir).
Pandangan Imam Al-Ghazali
Imam Al-Ghazali memberikan pemaparan mendalam terkait hakikat akhlak:
Pernyataan Imam Al-Ghazali ini memberikan perbandingan yang sangat kontras antara keutamaan akhlak mulia dan bahaya akhlak yang buruk:
Keagungan Akhlak Mulia
- Sifatu Sayyidil Mursalin: Akhlak mulia adalah identitas utama para Nabi dan Rasul, khususnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
- Afdhalu A’malish-Shiddiqin: Akhlak yang baik bukanlah sekadar pelengkap, melainkan puncak amal perbuatan orang-orang yang membenarkan agama dengan sepenuh hati (shiddiqin).
Dampak Merusak dari Akhlak Buruk
- As-Sumumul-Qatilah & Al-Muhlikatud-Damighah: Akhlak buruk diibaratkan seperti racun yang membunuh karakter dan spiritualitas seseorang, serta membawa kehancuran yang fatal.
- Al-Makhazil-Fadhihah & Ar-Radzailul-Wadhihah: Sifat buruk pada akhirnya akan membongkar aib pelakunya sendiri dan memperlihatkan kehinaan yang tak bisa ditutupi.
- Al-Mub’idatu ‘an Jiwari Rabbil ‘Alamin: Ini adalah dampak spiritual terberatnya—akhlak buruk menjadi hijab (penghalang) yang merenggut kedekatan seorang hamba dengan Allah.
- Al-Munkharithatu bi Shahibiha fi Silkis-Syayathin: Pada puncaknya, akhlak buruk akan mengikat dan menyeret pelakunya ke dalam kelompok atau jalan golongan setan.
Transformasi Akhlak
Namun, bagi siapa saja yang telah dikuasai oleh kemalasan, ia akan merasa berat untuk bermujahadah (bersungguh-sungguh) dalam menyucikan jiwa dan memperbaiki akhlak, sehingga ia mungkin menyangka bahwa akhlak itu tidak dapat diubah. Untuk menyanggah pernyataan tersebut, dapat dikatakan: seandainya akhlak tidak mungkin diubah, niscaya akan sia-sialah segala macam nasihat dan peringatan, serta pupuslah makna sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz bin Jabal:
Adapun obat dan penenang hati adalah ketaatan, sedangkan maksiat adalah kotoran dan penyakitnya. Akhlak yang baik diraih melalui jiwa yang sehat, sedangkan akhlak yang buruk disebabkan oleh racun dan penyakit yang menggerogotinya.