Bab Adab – Kajian Akhlak dan Ilmu

Bab Adab

Memahami Esensi Akhlak dan Ilmu dalam Ajaran Islam

Kata al-adab merupakan mashdar (asal kata) dari aduba atau adiba yang berarti hal terpuji dari seseorang, baik dalam akhlak maupun ilmu. Ibnu Hajar berkata dalam Al-Fath:

اسْتِعْمَالُ مَا يُحْمَدُ قَوْلًا وَفِعْلًا
“Al-adab yaitu mengaplikasikan segala sesuatu yang terpuji; baik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan.”
«فتح الباري» لابن حجر (10/ 400 ط السلفية)

Adab adalah kumpulan akhlak yang terpuji, yang merupakan petunjuk yang dengannya Allah menyempurnakan kenabian Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala Ia berfirman:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) benar-benar berada di atas akhlak yang mulia.”
(Al-Qur’an Surah Al-Qalam [68]: 4)

Demikian pula pernyataan senada yang diutarakan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

كان خلقه القرآن
“Akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan cerminan dari Al-Qur’an.”
[رواه مسلم (746)]

Tujuan Pendisiplinan Jiwa

Adab merupakan tujuan utama yang hendak dicapai oleh para ulama yang mendalami ilmu kejiwaan. As-Saffarini dalam penjelasannya Manzhumah Al-Adab menyebutkan:

وَأَدَبُ أَهْلِ الدِّينِ مَعَ الْعِلْمِ رِيَاضَةُ النَّفْسِ، وَتَأْدِيبُ الْجَوَارِحِ، وَتَهْذِيبُ الطِّبَاعِ، وَحِفْظُ الْحُدُودِ، وَتَرْكُ الشَّهَوَاتِ، وَتَجَنُّبُ الشُّبُهَاتِ. وَأَدَبُ أَهْلِ الْخُصُوصِ حِفْظُ الْقُلُوبِ وَرِعَايَةُ الْأَسْرَارِ، وَاسْتِوَاءُ السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ
“Adab para ahli agama terhadap ilmu adalah dengan melatih pendisiplinan jiwa, mendidik anggota badan (untuk taat), memperhalus tabiat, menjaga batas-batas syariat, menundukkan hawa nafsu, serta menjauhi segala hal yang syubhat (meragukan). Sedangkan adab orang-orang pilihan adalah dengan menjaga kesucian hati, memelihara rahasia batin, serta menyelaraskan keluhuran diri antara apa yang tersembunyi dengan apa yang tampak di hadapan manusia.”
«غذاء الألباب في شرح منظومة الآداب» (1/ 35)

Secara struktural, kutipan beliau ini membagi tingkatan adab menjadi dua kelompok utama:

Tingkatan Pertama (Ahli Agama secara Umum)

Berfokus pada perbaikan lahiriah dan dasar-dasar syariat:

Tingkatan Kedua (Orang-Orang Pilihan)

Berfokus pada kemurnian batin tingkat tinggi:

Pandangan Imam Al-Ghazali

Imam Al-Ghazali memberikan pemaparan mendalam terkait hakikat akhlak:

فَالْخُلُقُ الْحَسَنُ صِفَةُ سَيِّدِ الْمُرْسَلِينَ وَأَفْضَلُ أَعْمَالِ الصِّدِّيقِينَ … وَالْأَخْلَاقُ السيئة هي السموم القاتلة والمهلكات الدامغة وَالْمَخَازِي الْفَاضِحَةُ وَالرَّذَائِلُ الْوَاضِحَةُ وَالْخَبَائِثُ الْمُبْعِدَةُ عَنْ جِوَارِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الْمُنْخَرِطَةُ بِصَاحِبِهَا فِي سِلْكِ الشَّيَاطِينِ
“Maka, akhlak yang mulia adalah keluhuran sifat sang Penghulu para Rasul (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam), sekaligus amalan paling agung dari orang-orang yang tulus (ash-shiddiqin) … Sebaliknya, akhlak yang buruk tak ubahnya racun yang mematikan, petaka yang meluluhlantakkan, dan aib yang menelanjangi diri. Ia adalah kehinaan yang nyata dan keburukan yang menjauhkan pelakunya dari naungan rahmat Tuhan Semesta Alam, serta menyeretnya masuk ke dalam barisan setan.”
«إحياء علوم الدين» (3/ 49)

Pernyataan Imam Al-Ghazali ini memberikan perbandingan yang sangat kontras antara keutamaan akhlak mulia dan bahaya akhlak yang buruk:

Keagungan Akhlak Mulia

Dampak Merusak dari Akhlak Buruk

Transformasi Akhlak

Namun, bagi siapa saja yang telah dikuasai oleh kemalasan, ia akan merasa berat untuk bermujahadah (bersungguh-sungguh) dalam menyucikan jiwa dan memperbaiki akhlak, sehingga ia mungkin menyangka bahwa akhlak itu tidak dapat diubah. Untuk menyanggah pernyataan tersebut, dapat dikatakan: seandainya akhlak tidak mungkin diubah, niscaya akan sia-sialah segala macam nasihat dan peringatan, serta pupuslah makna sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz bin Jabal:

يا معاذ، حَسِّنْ خلقك
“Wahai Mu’adz, perbaikilah akhlakmu.”

Adapun obat dan penenang hati adalah ketaatan, sedangkan maksiat adalah kotoran dan penyakitnya. Akhlak yang baik diraih melalui jiwa yang sehat, sedangkan akhlak yang buruk disebabkan oleh racun dan penyakit yang menggerogotinya.

Scroll to Top

Kegiatan Perkuliahan
3 Maret 2026

Silakan menyimak lanjutan penjelasan mengenai “Dunia Islam di Masa Keemasan” melalui tautan YouTube ini.

Setelah menyimak materi tersebut, lakukan analisis dengan menjawab pertanyaan berikut:

  1. Apa saja faktor-faktor yang menjadi penyebab kebangkitan dunia Islam pada tiga masa keemasan tersebut?
  2. Apa saja faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran dunia Islam pada masing-masing masa tersebut?

Untuk mempertajam analisis, silakan membaca kembali materi perkuliahan sebelumnya sebagai bahan pendukung.

Tuliskan hasil analisis Anda pada kolom komentar YouTube dari video yang telah disimak!
Jangan lupa mencantumkan inisial nama di bagian akhir komentar.