Hadits 80_Bab Shifatu Shalaatin Nabi (2)

عَنْ عَائِشَةَ رَضيَ الله عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم يسْتَفْتِحُ الصلاةَ بِالتَّكْبِيرِ، وَالْقِرَاءة بـ \”الْحمْدُ لله رَب الْعَالَمِينَ \”. وَكَانَ إذا رَكَعَ لَمْ يُشْخِصْ رأسه وَلَمْ يُصَوِّبْهُ وَلكِنْ بَيْنَ ذَلكَ. وَكَانَ إِذَا رَفَعَ رأسه مِنَ الركوعِ لَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَسْتَوي قَائِماً. وَكَانَ إذَا رَفع رَأسَهُ مِنَ السًجْدَةِ لَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَستَوِيَ قاعدا، وكانَ يقولُ في كُلّ ركْعَتَيْن التّحيّةَ. وَكَانَ يَفْرش رجلَهُ اليُسْرَى وَيَنْصِب رجله الْيُمْنىَ. وكان ينهى عَنْ عُقبَة الَشَّيْطَان ويَنْهَى أنْ يَفتَرِش الرجُلُ ذِراعَيْهِ افتراش السبعِ، وَكان يَخْتِمُ الصّلاةَ بالتّسْلِيم

Aisyah radhiyallahu \’anha berkata; \”Rasulullah senantiasa membuka shalatnya dengan takbiratul ihram, dan memulai bacaannya dalam shalat dengan membaca \”alhamdulillahi rabbil \’aalamiin\”. Ketika ruku\’, Beliau tidak terlalu menengadahkan kepala dan tidak juga terlalu menundukkannya; namun antara keduanya. Ketika Beliau mengangkat kepalanya dari ruku, tidaklah Beliau turun untuk sujud melainkan ketika Beliau telah sempurna berdiri I\’tidal. Ketika mengangkat kepala setelah ruku, tidaklah kembali Beliau sujud melainkan ketika Beliau telah duduk dengan sempurna (duduk antara dua sujud). Pada setiap dua rakaat, Beliau bertahiyat. Pada setiap dua rakaat, Beliau duduk iftirasy. Beliau melarang seorang duduk ketika shalat dengan cara yang menyerupai duduknya syaithan. Beliau juga melarang seorang membentangkan lengannya ketika sujud sama dengan hewan buas. Dan Beliau menutup shalat dengan salam.\”.


Beberapa pelajaran dari hadits

  1. Hadits ini kembali menegaskan kewajiban melakukan takbiratul ihram, dan bahwasanya pekerjaan itu adalah satu diantara rukun shalat, tidak sah shalat seorang kecuali dengan mengerjakannya.
  2. Dengan melakukan takbiratul ihram, maka segala perkataan atau perbuatan selain perkataan atau perbuatan shalat tidak lagi boleh dilakukan.
  3. Termasuk yang tidak boleh dilakukan ketika shalat adalah membaca al Quran ketika sujud, kecuali jika yang dibacanya itu adalah ayat yang berisi doa dan diniatkan untuk berdoa (bukan untuk membaca al Quran)
  4. Hadits ini adalah diantara dalil kelompok ulama yang berpendapat bahwa basmalah bukan merupakan satu diantara ayat-ayat surah al Faatihah. Sebagaimana hadits ini juga adalah satu diantara dalil kelompok yang menyatakan bahwa tidak dianjurkan membaca basmalah dengan suara keras ketika membaca al Faatihah pada shalat-shalat jahriyyah. Namun masalah ini masuk dalam ranah khilafiyyah, in sya Allah akan dibahas secara tersendiri setelah uraian point-point pelajaran hadits ini.
  5. Hadits ini juga menunjukkan bahwa ruku adalah satu diantara kewajiban –bahkan rukun- shalat.
  6. Ketika ruku dianjurkan untuk tidak terlalu menengadahkan kepala dan tidak juga terlalu menundukkannya. Namun hendaknya sejajar, melihat tempat sujudnya.
  7. Kewajiban dan rukun lain dalam shalat adalah bangkit dari ruku, I\’tidal, sujud, duduk diantara dua sujud, tasyahhud, dan salam, serta tumakninah (tenang dan tidak terburu-buru) dalam setiap gerakan shalat.
  8. Dilarang duduk menyerupai duduknya syaithan, yang diistilahkan dengan sebutan \”الإقعاء\” (al iq\’a\’). Jenis duduk yang dilarang itu yaitu dengan membentangkan kedua telapak kaki dan duduk diatasnya; atau dengan mengangkat kedua telapak kaki (hingga bagian telapak kaki tersebut terlihat dari belakang) dan duduk diantara keduanya.
  9. Dilarang membentangkan lengan dengan menempelkannya ke lantai disaat sujud. Hal itu adalah satu diantara indikasi kemalasan.

Beberapa masalah kontroversi

  1. Apakah basmalah termasuk satu dari ayat-ayat dalam surah al Faatihah ?
  2. Apakah imam membaca basmalah dengan suara keras pada shalat-shalat jahriyyah ?
  3. Apakah disyari\’atkan bersedekap ketika bangkit dari ruku ?
  4. Bagaimanakah jenis duduk yang disyari\’atkan ketika tasyahhud ?
  5. Apakah yang seharusnya diletakkan terlebih dahulu ketika turun untuk sujud; lutut atau tangan ?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top

Kegiatan Perkuliahan
3 Maret 2026

Silakan menyimak lanjutan penjelasan mengenai “Dunia Islam di Masa Keemasan” melalui tautan YouTube ini.

Setelah menyimak materi tersebut, lakukan analisis dengan menjawab pertanyaan berikut:

  1. Apa saja faktor-faktor yang menjadi penyebab kebangkitan dunia Islam pada tiga masa keemasan tersebut?
  2. Apa saja faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran dunia Islam pada masing-masing masa tersebut?

Untuk mempertajam analisis, silakan membaca kembali materi perkuliahan sebelumnya sebagai bahan pendukung.

Tuliskan hasil analisis Anda pada kolom komentar YouTube dari video yang telah disimak!
Jangan lupa mencantumkan inisial nama di bagian akhir komentar.