Hadits 79_Bab Shifatu Shalaatin Nabi (1)

عَنْ أبي هريرة رضيَ الله عَنْهُ قال: كَانَ رسول الله صلى الله عليه وسلم إِذَا كَبَّرَ في الصَّلاةِ سَكَتَ هُنَيْهَةً قَبْل أن يَقْرَأ، فَقُلْتُ: يا رَسُولَ الله بأبي أنْتَ وأمي، أرَأيتُ سُكُوتَكَ بين التَكْبِيرِ وَالقِراءةِ، ما تَقُولُ؟. قَالَ: \”أقَول: اللهم بَاعِدْ بيني وَبَيْنَ خَطايَايَ كَمَا بَاعدْتَ بَيْنَ المَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، الّلهُمَّ نَقني من خَطايَايَ كَمَا يُنَقى الثًوْبُ اَلأبيض من الدنس، اللهمَّ اغْسِلني مِنْ خَطَايايَ بِالْماء والثلج والبرد\”. (البخاري ومسلم)


Beberapa Pelajaran

  1. Kewajiban melaksanakan takbiratul ihram mengawali shalat, dan bahwasanya takbiratul ihram itu adalah satu diantara rukun shalat; yang mana shalat tidak akan dinyatakan sah kecuali dengan melakukannya. Rasulullah bersabda;

مفتاح الصلاة الطهور ، وتحريمها التكبير

\”Kunci shalat itu adalah bersuci dan pengharamannya dimulai ketika takbiratul ihram). (HR, Abu Daud)

  1. Lafadz takbiratul ihram itu adalah \”Allahu akbar\”. Tidak boleh diganti dengan selainnya, meskipun memiliki terjemahan yang sama.
  2. Membaca doa iftitah adalah sunnah.
  3. Membaca doa iftitah dengan suara pelan (sir) adalah sunnah, meski shalat yang dilaksanakan adalah shalat jahriyyah (dengan suara keras).
  4. Doa iftitah itu dibaca setelah takbir dan sebelum membaca surah al Faatihah.
  5. Kesungguhan para sahabat dalam usaha mereka mengetahui sedetail dan sekecil apapun sunnah Rasulullah dalam segala hal, terlebih dalam masalah shalat. Tidak satupun keadaan Rasulullah melainkan mereka ingin mengetahui tuntunan Beliau dalam keadaan itu. Hingga diamnya Rasulullah pun tidak luput dari perhatian mereka, hingga pada akhirnya mereka pun menanyakannya –sebagaimana tersebut dalam hadits Abu Hurairah ini-.
  6. Satu diantara adab dalam berdoa adalah mengulang-ulang doa dengan lafadz berbeda, meski memiliki makna yang serupa.
  7. Diantara lafadz doa yang dianjurkan adalah yang disebutkan dalam hadits ini. Namun ada beberapa lafadz lain yang juga dicontohkan oleh Rasulullah untuk dibaca pada saat itu. Kesemua lafadz yang dicontohkan itu boleh digunakan secara bergantian ketika shalat, dengan memperhatikan beberapa hal, diantaranya adalah;
    • Menggabungkan seluruh doa iftitah yang diajarkan dalam satu kali shalat bukanlah hal yang dicontohkan.
    • Dianjurkan meghafalkan seluruh lafadz dari doa iftitah yang diajarkan oleh Rasulullah, agar seluruh lafadz itu dapat diamalkan secara bergantian. Dengan mengamalkannya secara bergantian dan tidak monoton berarti seorang telah mengamalkan seluruh sunnah Rasulullah terkait dengan doa iftitah ini. Dan diharapkan dengan mengamalkannya secara bergantian tersebut, seorang akan lebih mampu shalat dengan khusyu; mengaitkan pekerjaannya tersebut dengan sunnah Rasulullah.
    • Dianjurkan membaca lafadz doa yang panjang pada saat shalat sendiri, dan memilih lafadz yang pendek ketika shalat berjama\’ah.
    • Imam Ahmad memilih lafadz yang lebih pendek dari lafadz yang disebutkan dalam hadits ini. Diantara alasannya bahwa lafadz tersebut adalah pilihan dari Umar bin Khatthab, dan kemudian Beliau baca dengan suara yang dikeraskan untuk mengajarkan dan menginformasikannya kepada orang-orang yang hadir di tempat itu akan pilihan doanya tersebut. Andai saja tidak karena keutamaan lafadz doa tersebut, niscaya Umar tidak akan membesarkan suaranya ketika itu, karena yang dianjurkan ketika membaca doa iftitah adalah membacanya secara pelan. Lafadz doa yang dimaksud adalah;

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، وَتَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ

“Maha suci Engkau, ya Allah. Ku sucikan nama-Mu dengan memuji-Mu. Nama-Mu penuh berkah. Maha tinggi Engkau. Tidak ilah yang berhak disembah selain Engkau”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top

Kegiatan Perkuliahan
3 Maret 2026

Silakan menyimak lanjutan penjelasan mengenai “Dunia Islam di Masa Keemasan” melalui tautan YouTube ini.

Setelah menyimak materi tersebut, lakukan analisis dengan menjawab pertanyaan berikut:

  1. Apa saja faktor-faktor yang menjadi penyebab kebangkitan dunia Islam pada tiga masa keemasan tersebut?
  2. Apa saja faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran dunia Islam pada masing-masing masa tersebut?

Untuk mempertajam analisis, silakan membaca kembali materi perkuliahan sebelumnya sebagai bahan pendukung.

Tuliskan hasil analisis Anda pada kolom komentar YouTube dari video yang telah disimak!
Jangan lupa mencantumkan inisial nama di bagian akhir komentar.