Hadits 64

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم -: إذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ

Dari Abu Sa\’ied Al Khudri, Rasulullah shallallahu \’alaihi wa sallam beliau bersabda; Apabila kalian mendengar mu\’adzzin mengumandangkan adzan maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkannya.

 


 

Pelajaran

Hadits ini menunjukkan diperintahkannya menjawab lantunan adzan yang dikumandangkan oleh muaddzin yaitu dengan mengucapkan kembali lafadz yang diucapkan oleh muaddzin tersebut, kecuali ketika muaddzin itu mengucapkan hayya \’alas shalaah-hayya \’alal falaah, maka saat itu orang yang mendengarnya mengucapkan laa hawlaa wa laa quwwata illa billaah (tidak ada upaya dan kekuatan kecuali upaya dan kekuatan Allah). Umar bin Khattahab radhiyallahu \’anhu berkata, Rasulullah shallallahu \’alaihi wa sallam bersabda;

إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، فَقَالَ أَحَدُكُمُ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ. ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ. ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ. ثُمَّ قَالَ: ‌حَيَّ ‌عَلَى ‌الصَّلَاةِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ. ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ. ثُمَّ قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ. ثُمَّ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ

Apabila muaddzin berkata Allahu Akbar Allahu Akbar, lantas salah seorang dari kalian juga berkata Allahu Akbar Allahu Akbar; kemudian sang muaddzin berkata Asyhadu an laa ilaaha illallah, dan salah seorang dari kalian berkata juga Asyhadu an laa ilaaha illallah; kemudian sang muaddzin berkata Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, dan salah seorang dari kalian berkata juga Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah; kemudian sang muaddzin berkata hayya \’alas shalaah, dan salah seorang dari kalian berkata laa hawlaa wa laa quwwata illa billaah; kemudian sang muaddzin berkata hayya \’alal falaah, dan salah seorang dari kalian berkata laa hawlaa wa laa quwwata illa billaah; kemudian sang muaddzin berkata Allahu Akbar Allahu Akbar, dan salah seorang dari kalian berkata juga Allahu Akbar Allahu Akbar; kemudian sang muaddzin berkata Laa ilaaha illallaah, dan salah seorang dari kalian berkata juga Laa ilaaha illallaah; jika ia mengucapkan kata-kata tersebut secara tulus dari hatinya, niscaya ia akan masuk surga. (HR. Muslim)

Perintah menjawab adzan ini sifatnya sunnah dan bukan wajib. Dinyatakan demikian karena adanya keterangan bahwa Rasulullah shallallahu \’alaihi wa sallam ketika mendengar muaddzin berkata, Allahu Akbar Allahu Akbar, beliau (Rasulullah) berkata, Alal fithrah (orang itu berada di atas fithrah). Ketika sang muaddzin berkata, Asyhadu an laa ilaaha illallaah, Rasulullah berkata, engkau telah keluar dari api neraka. (HR. Muslim). Hadits inilah yang menyimpangkan makna asal sebuah perintah. dari wajib ke sunnah.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top

Kegiatan Perkuliahan
3 Maret 2026

Silakan menyimak lanjutan penjelasan mengenai “Dunia Islam di Masa Keemasan” melalui tautan YouTube ini.

Setelah menyimak materi tersebut, lakukan analisis dengan menjawab pertanyaan berikut:

  1. Apa saja faktor-faktor yang menjadi penyebab kebangkitan dunia Islam pada tiga masa keemasan tersebut?
  2. Apa saja faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran dunia Islam pada masing-masing masa tersebut?

Untuk mempertajam analisis, silakan membaca kembali materi perkuliahan sebelumnya sebagai bahan pendukung.

Tuliskan hasil analisis Anda pada kolom komentar YouTube dari video yang telah disimak!
Jangan lupa mencantumkan inisial nama di bagian akhir komentar.