Seputar Masalah Zakat Fithri

Hari Id adalah hari gembira dan hari kesenangan. Kegembiraan dan kesenangan yang dirasakan seorang mukmin di dunia dan di akhirat -semata- merupakan berkah dari Allah. Allah berfirman;

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

“Katakanlah: ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan’.” (Yunus: 58).

Hari Id merupakan salah satu syiar terbesar dalam agama ini. Hal demikian akan nampak secara jelas dari nilai-nilai kemanusiaan yang berpaut dengan pelaksanaan ibadah pada hari mulia itu … puasa, zakat fitri dan haji serta kurban yang serangkai dengan hari mulia tersebut merupakan bukti bahwa hari itu merupakan salah satu syiar terbesar dalam agama yang mulia ini. Pada hari itu, seluruh kaum muslimin bersatu dalam kegembiraan, saling mengunjungi, mengirimkan hadiah, mengucapkan doa serta menebar senyum dan kebahagiaan. Demikianlah hari Id, hari yang senantiasa dirayakan secara berulang setiap tahun.

 

Makna Id

Secara bahasa Id (عـيـد) berasal dari kata ‘Aada – Ya’uudu (عـاد – يـعـود) yang berarti kembali. Hari ini dinamakan Id, karena hari itu akan kembali dirayakan secara berulang setiap tahun, dirayakan dengan kegembiraan, keceriaan dan pada hari itu orang-orang bisa kembali melakukan aktivitas pemenuhan hajatnya seperti hari-hari selain Ramadan (makan, minum dan berhubungan dengan pasangannya). Selanjutnya, kata Id menjadi sebuah istilah baku yang berarti hari raya.

 

Id Tahunan Kaum Muslimin

Anas radhiyallahu ‘anhu berkata; ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah, orang-orang di kota itu memiliki dua buah hari raya yang mereka rayakan pada masa jahiliah. Mendapati hal itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ يَوْمَيْنِ خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْر

“Saya tiba di kota ini -untuk pertama kali- sedangkan kalian memiliki dua buah hari yang kalian jadikan sebagai hari raya (di masa jahiliah). Sesungguhnya Allah telah mengganti keduanya dengan dua buah hari yang lebih baik bagi kalian, yaitu; hari Idulfitri dan hari Iduladha (kurban).” [1].

Dari keterangan ini diketahui bahwa hari raya tahunan kaum muslimin hanyalah dua yang telah disebutkan. Adapun hari-hari lain yang dijadikan sebagai hari raya (hari besar), maka hari-hari itu bukanlah hari rayanya kaum muslimin. Olehnya tidak sepantasnya seorang mukmin merayakan hari-hari itu, sementara Allah telah memilihkan dua hari yang lebih mulia bagi mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa menyerupai sebuah kaum, maka mereka itu termasuk dalam golongan mereka.” [2].

Hari raya tahunan kaum muslimin ini adalah dua buah hari yang memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh hari-hari raya lain buatan manusia. Menghidupkan dua buah hari raya tersebut dan membesarkannya adalah merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah, serta merupakan upaya seorang hamba untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Dua buah hari itu merupakan hari mulia yang dirangkaikan dengan berbagai ritual keberagamaan yang dicintai Allah;

  • Pada hari itu, lafaz-lafaz takbir, tahmid dan tasbih bergema di seluruh penjuru dunia,
  • Pada hari itu, seluruh kaum muslimin keluar melaksanakan shalat,
  • Pada hari Idulfitri, disyariatkan zakat fitri,
  • Pada hari Iduladha, disyariatkan ibadah kurban, sebuah ibadah mulia yang tidak tertandingi oleh amalan apapun yang dilakukan oleh seorang hamba kecuali oleh seorang yang berjihad kemudian ia meninggal dalam keadaan syahid di medan jihad tersebut.
  • Idulfitri dirayakan mengiringi salah satu rangkaian ibadah yang sangat mulia di sisi Allah, yaitu ibadah puasa Ramadan,
  • Iduladha dirayakan -juga- mengiringi salah satu ibadah yang sangat mulia di sisi Allah, yaitu ibadah haji yang dilakukan pada semulia-mulia hari di sisi Allah, hari ke-10 di bulan Zulhijah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

أَفْضَلُ الأَيَّامِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمُ النَّحْر

“Semulia-mulia hari di sisi Allah adalah hari kurban.” [3].

Demikianlah kemuliaan dua buah hari pilihan Allah itu, dan kemuliaan itu tidaklah terdapat pada hari-hari raya lain yang merupakan buatan manusia. Karenanya, pantaskah bagi seorang mukmin mempunyai pilihan lain setelah pilihan Allah ini?

 

Hukum Melaksanakan Shalat Id

Shalat Id adalah satu diantara syariat yang sangat ditegaskan dalam agama. Saking tegasnya syariat ini, sebagian ulama -sampai- memandang bahwa hukum shalat Id adalah wajib. Diantara yang memandang wajibnya hal ini adalah Imam Syaukani [4], Ibnu Taimiyyah [5], dll. Dan demikian inilah kiranya pendapat yang lebih tepat karena beberapa hal;

  • Adanya perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan asal perintah adalah wajib.
  • Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah sekalipun meninggalkannya.
  • Adanya penegasan dari perintah tersebut, diantaranya adalah perintah bagi wanita-wanita haid untuk turut pula keluar dari rumah-rumah mereka, yang asalnya adalah merupakan sebaik-baik tempat bagi mereka.
  • Penegasan perintah tersebut ditambah lagi dengan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk meminjamkan jilbab kepada wanita-wanita yang tidak memiliki jilbab agar mereka dapat turut keluar ke lapangan shalat Id.
  • Gugurnya kewajiban melaksanakan shalat Jumat ketika bertepatan dengan hari Id, dan tidaklah shalat Jumat yang wajib hukumnya itu akan gugur melainkan dengan sesuatu yang juga wajib hukumnya.

 

Beberapa Sunah Pada Hari Raya

1. Memakai pakaian yang terbaik

Disunnahkan pada hari itu bagi kaum muslimin untuk memakai pakaiannya yang terbaik, sebagaimana yang dicontohkan oleh Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma. Ibnu Hajar rahimahullah berkata;

رَوَى اِبْن أَبِي اَلدُّنْيَا وَالْبَيْهَقِيُّ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ إِلَى اِبْن عُمَر أَنَّهُ كَانَ يَلْبَسُ أَحْسَنَ ثِيَابِهِ فِي اَلْعِيدَيْنِ

“Ibnu Abi ad-Dunya dan Imam Baihaqi rahimahumallah telah meriwayatkan dengan sanad yang sahih bahwa Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma senantiasa memakai pakaiannya yang terbaik pada dua hari raya (al-Idain).” [6].

2. Mandi sebelum keluar melaksanakan shalat Id

Nafi’ rahimahullah berkata;

أَنَّهُ كَانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ قَبْلَ أَنْ يَغْدُوَ

“(Salah satu kebiasaan) Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma sebelum keluar menuju lapangan tempat pelaksanaan shalat Idulfitri adalah mandi.” [7].

3. Melaksanakan shalat di lapangan

Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu berkata;

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى فَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلَاة

“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (senantiasa) keluar melaksanakan shalat Idulfitri dan Iduladha di lapangan. Pekerjaan pertama yang beliau lakukan ketika tiba di lapangan adalah shalat (Id).” [8].

Demikianlah pendapat mayoritas ulama bahwa merupakan hal yang disunnahkan pada hari Id adalah melaksanaan shalat Id di tanah lapang, dan bukan di masjid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakannya di lapangan sedangkan beliau telah bersabda;

صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ

“Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) ini pahalanya adalah lebih utama dari seribu kali shalat yang dilakukan pada masjid yang selainnya, kecuali pahala shalat di Masjidilharam.” [9], maka seandainya shalat di masjid adalah sesuatu yang lebih utama, niscaya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak akan beralih dalam pelaksanaan shalat dari masjid beliau ke tanah lapang.

Menghidupkan sunah pelaksanaan shalat Id di lapangan secara bersama-sama dalam sebuah komunitas besar, dan tidak melaksanakannya secara terpisah-pisah di masing-masing masjid atau di lapangan pada lingkungan kecil masing-masing adalah hal yang sangat dianjurkan dan memiliki beberapa faedah, diantaranya adalah;

  • Menumbuhkan rasa persatuan dan persaudaraan dikalangan kaum muslimin, di mana ketika itu seluruh kaum muslimin berkumpul pada sebuah tanah lapang yang luas, melaksanakan shalat dengan imam yang satu, duduk bersama mendengarkan khutbah dan saling bersalaman serta saling mendoakan.
  • Momen tahunan seperti ini, sungguh sangat tepat digunakan untuk kembali memperbaharui semangat ukhuwah yang mungkin agak terkikis seiring dengan berlalunya hari yang panjang dengan berbagai kesibukan dan tanpa kebersamaan.
  • Di samping faedah yang telah disebutkan, berkumpulnya kaum muslimin dalam jumlah yang banyak tentu merupakan galeri besar-besaran akan kekuatan kaum muslimin. Diharapkan dari galeri besar-besaran itu, akan menimbulkan rasa gentar dalam hati musuh-musuh Allah.

Pada hari Id seluruh kaum muslimin disyariatkan untuk keluar menuju lapangan, hingga para wanita haid pun diperintahkan untuk turut menyaksikan kebaikan pada hari itu, meski mereka tidak berada di lapangan tempat shalat. Ummu ‘Athiyyah radhiyallahu ‘anha berkata;

أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِى الْفِطْرِ وَالأَضْحَى الْعَوَاتِقَ وَالْحُيَّضَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلاَةَ وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ. قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِحْدَانَا لاَ يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ قَالَ : لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memerintahkan kami untuk mengeluarkan seluruh wanita menuju tanah lapang pada hari Idulfitri dan Iduladha, baik para gadis maupun wanita-wanita yang tengah haid. Hanya saja bagi wanita-wanita haid, maka hendaklah mereka menjauh dari tempat shalat, dan tetaplah mereka keluar menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum muslimin. Saya (Ummu ‘Athiyyah) berkata; bagaimana dengan salah seorang dari kami yang tidak memiliki jilbab? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; hendaklah saudarinya meminjamkan jilbab kepadanya.” [10].

4. Takbir pada hari Id

Takbir pada hari Idulfitri dimulai semenjak terlihatnya hilal Syawal. Diantara keterangan dalam masalah ini adalah; Riwayat Ibnu ’Abbas radhiyallahu ’anhuma;

حق على المسلمين إذا رأوا هلال شوال أن يكبروا

“Sungguh sudah sepantasnya bagi seorang muslim untuk bertakbir ketika melihat hilal Syawal.” [11]

Dalam riwayat lain dari beliau disebutkan;

يكبر المرء من رؤية الهلال إلى انقضاء الخطبة، ويمسك وقت خروج الإمام ويكبر بتكبيره

“Seorang mulai bertakbir ketika hilal telah terlihat sampai selesainya khutbah. Ketika imam telah keluar untuk memimpin shalat, seorang tidak bertakbir, dan ia bertakbir bersama dengan takbirnya imam.” [12]

Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma;

أن رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم كان يكبر يوم الفطر من حين يخرج من بيته حتى يأتي المصلى

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mulai bertakbir pada hari Idulfitri ketika keluar rumah hingga sampai ke lapangan tempat melaksanakan shalat [13]”.

Imam az-Zuhri rahimahullah berkata;

فإذا قضى الصلاة قطع التكبير

“Maka ketika shalat telah berakhir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun tidak lagi bertakbir.” [14].

Dari keterangan-keterangan ini –wallahu a’lam- diketahui bahwa syariat untuk bertakbir di hari Idulfitri dimulai sejak dilihatnya hilal dan berakhir ketika khutbah Idulfitri telah usai. Allah berfirman;

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (al-Baqarah: 185)

Maksudnya –wallahu a’lam-; demikianlah Allah telah mensyariatkan puasa bagi orang-orang mukim dan memberikan keringanan bagi orang-orang musafir untuk dapat mengqadanya di hari-hari lain agar mereka semua dapat menyempurnakan bilangan hari-hari puasanya, lantas setelah Ramadan (ketika hilal Syawal telah terlihat) mereka bertakbir memuji dan membesarkan Allah atas petunjuk-Nya.

Adapun takbir di hari Iduladha, maka dimulai semenjak hari pertama di bulan Zulhijah. Ketika itu disyariatkan memperbanyak takbir dan tahlil dalam setiap keadaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنْ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ

“Tidak ada hari-hari yang di dalamnya terdapat amalan yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu wa ta’ala kecuali hari-hari ini, yaitu 10 hari pertama dari bulan Zulhijah. Olehnya maka perbanyaklah tahlil, takbir dan tahmid pada hari-hari itu.” [15].

Imam Bukhari membawakan riwayat dari Abu Hurairah dan Ibnu Umar, beliau radhiyallahu ‘anhuma berkata;

كَانَ ابْنُ عُمَرَ وَأَبُو هُرَيْرَةَ يَخْرُجَانِ إِلَى السُّوقِ فِي أَيَّامِ الْعَشْرِ يُكَبِّرَانِ وَيُكَبِّرُ النَّاسُ بِتَكْبِيرِهِمَا

“Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma keluar menuju pasar pada sepuluh hari awal di bulan Zulhijah dengan bertakbir. Dan orang-orang pun turut bertakbir dengan takbir keduanya.” [16]

Dari kedua keterangan ini diketahui bahwa memperbanyak takbir di sepuluh hari awal di bulan Zulhijah adalah hal yang dianjurkan; kapan dan di mana saja. Takbir demikian ini dinamakan takbir mutlak. Dan anjuran untuk melaksanakan syariat ini akan lebih tegas pada hari Arafah (sembilan Zulhijah) hingga akhir hari tasyrik (hari ke-13 di bulan Zulhijah). Ketika itu dianjurkan untuk bertakbir setiap usai dari shalat-shalat lima waktu. Pernah Imam Ahmad rahimahullah ditanya;

بأي حديث تذهب إلى التكبير من صلاة الفجر يوم عرفة إلى آخر أيام التشريق؟. قال لاجماع عمر وعلي وابن عباس

“Dasar apa yang engkau jadikan sandaran terhadap pandanganmu bahwa syariat takbir (muqayyad) dimulai usai shalat subuh pada hari Arafah hingga akhir hari-hari tasyrik? Beliau berkata; Saya berpandangan demikian karena ijmak (adanya kesepakatan) dari Umar, Ali dan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhum dalam masalah itu.” [17].

Adapun lafaz takbir [18], Imam Malik rahimahullah berkata bahwa lafaz takbir adalah Allahu Akbar sebanyak 3 kali. Demikianlah riwayat dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu. Diantara ulama ada juga yang bertakbir dengan mengucapkan;

اللّه أكبر كبيرا، والحمد لله كثيرا، وسبحان اللّه بكرة وأصيلا

Lafaz dari Ibnu al-Mubarak adalah;

اللّه أكبر اللّه أكبر، لا إله إلا اللّه، واللّه أكبر ولله الحمد، اللّه أكبر على ما هدانا

Imam Ahmad rahimahullah berkata;

هو واسع

“Perkara ini adalah fleksibel.”

5. Disunnahkan makan sebelum pergi melaksanakan shalat Idulfitri, dan disunnahkan berpuasa sebelum pergi melaksanakan shalat Iduladha.

Buraidah radhiyallahu ‘anhu berkata;

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَطْعَمَ وَلاَ يَأْكُلُ يَوْمَ النَّحْرِ حَتَّى يَذْبَحَ

“Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar melaksanakan shalat Idulfitri melainkan terlebih dahulu beliau makan. Adapun pada Iduladha, tidaklah beliau makan hingga beliau menyembelih hewan kurbannya.” [19].

6. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak melaksanakan shalat apapun ketika tiba di lapangan melainkan shalat Id.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata;

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى يَوْمَ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلَا بَعْدَهَا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat Idulfitri sebanyak dua rakaat. Beliau tidak melaksanakan shalat apapun (di lapangan) sebelum dan tidak pula setelahnya.” [20]

Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu berkata;

كان رسول الله صلى الله عليه و سلم لا يصلي قبل العيد شيئا . فإذا رجع إلى منزله صلى ركعتين

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah melaksanakan satupun shalat sebelum melaksanakan shalat Id. Dan ketika beliau kembali ke rumahnya, maka beliau shalat dua rakaat.” [21]

7. Waktu pelaksanaan shalat Id.

Shiddiq Hasan Khan rahimahullah berkata;

وقتهما بعد ارتفاع الشمس قيد رمح إلي الزوال

“Waktu pelaksanaan shalat dua hari raya (dimulai) setelah naiknya matahari setinggi satu tombak, (dan masih terus dapat dilaksanakan) hingga matahari tergelincir (ke arah tempat terbenamnya).” [22].

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata;

وَكَانَ يُؤَخّرُ صَلَاةَ عِيدِ الْفِطْرِ وَيُعَجّلُ الْأَضْحَى وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ مَعَ شِدّةِ اتّبَاعِهِ لِلسّنّةِ لَا يَخْرُجُ حَتّى تَطْلُعَ الشّمْسُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melambatkan pelaksanaan shalat Idulfitri dan mempercepat pelaksanaan shalat Iduladha. Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma yang merupakan sosok yang sangat kuat dan bersegera dalam mencontoh seluruh perilaku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah keluar ke lapangan tempat pelaksanaan shalat Id (Idulfitri) hingga matahari terbit.” [23].

Bila munculnya hilal baru diketahui keesokan harinya, setelah lewat waktu pelaksanaan shalat Id, maka disyariatkan berbuka puasa pada waktu sampainya kabar tersebut dan menunda pelaksanaan shalat Id hingga pagi hari, keesokan harinya. Diriwayatkan dari seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau radhiyallahu ‘anhu berkata;

اخْتَلَفَ النَّاسُ فِى آخِرِ يَوْمٍ مِنْ رَمَضَانَ فَقَدِمَ أَعْرَابِيَّانِ فَشَهِدَا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِاللَّهِ لأَهَلاَّ الْهِلاَلَ أَمْسِ عَشِيَّةً فَأَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- النَّاسَ أَنْ يُفْطِرُوا … وَأَنْ يَغْدُوا إِلَى مُصَلاَّهُمْ

“Orang-orang berbeda pendapat dalam penentuan akhir bulan Ramadan (sementara waktu shalat Id telah berlalu). -Ketika itu- datanglah dua orang (muslim) Arab badui. Keduanya bersaksi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa mereka telah menyaksikan hilal kemarin pada waktu senja. Mendengar persaksian keduanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan orang-orang untuk berbuka puasa … dan (pergi) melaksanakan shalat Id pada pagi hari, keesokan harinya.” [24]

8. Shalat Id tidak didahului oleh azan maupun ikamat.

Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu berkata;

صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْعِيدَيْنِ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلاَ مَرَّتَيْنِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلاَ إِقَامَة

“Tidak sekali atau dua kali saya pernah melaksanakan shalat dua hari raya bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau melaksanakannya tanpa didahului oleh azan dan ikamat.” [25]

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata;

لَمْ يَكُنْ يُؤَذَّنُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَلَا يَوْمَ الْأَضْحَى

“Tidak ada azan pada saat pelaksanaan shalat Idulfitri dan Iduladha.” [26]

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata;

وَكَانَ صَلّى اللّه عَلَيْهِ وَسَلّمَ إذَا انْتَهَى إلَى الْمُصَلّى أَخَذَ فِي الصّلَاةِ مِنْ غَيْرِ أَذَانٍ وَلَا إقَامَةٍ وَلَا قَوْلٍ الصّلَاةُ جَامِعَةٌ وَالسّنّةُ أَنّهُ لَا يُفْعَلُ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ . وَلَمْ يَكُنْ هُوَ وَلَا أَصْحَابُهُ يُصَلّونَ إذَا انْتَهَوْا إلَى الْمُصَلّى شَيْئًا قَبْلَ الصّلَاةِ وَلَا بَعْدَهَا

“Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di lapangan, beliau langsung melaksanakan shalat tanpa azan dan tanpa ikamat, serta tidak pula dengan mengatakan; “as-shalaatu jaami’ah” (mari shalat berjemaah). Tetapi hal yang disunnahkan adalah tidak mendahului pelaksanaan shalat Id dengan satupun seruan yang telah disebutkan. Demikian juga, ketika tiba di lapangan tempat pelaksanaan shalat Id, beliau dan para sahabat tidak melakukan shalat sunah sebelum dan setelah pelaksanaan shalat Id.” [27]

Imam Shan’ani rahimahullah berkata dalam komentarnya terhadap hadis Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang telah disebutkan;

وَهُوَ دَلِيلٌ عَلَى عَدَمِ شَرْعِيَّتِهِمَا فِي صَلَاةِ الْعِيدِ فَإِنَّهُمَا بِدْعَة

“Keterangan tersebut menunjukkan bahwa mendahului pelaksanaan shalat Id dengan azan, ikamat dan shalat sunah tersebut bukanlah merupakan hal yang disyariatkan. Sesungguhnya hal itu adalah bidah.” [28].

9. Menggunakan jalan yang berbeda ketika datang dan ketika pulang dari shalat Id.

Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu berkata;

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيق

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menempuh jalan yang berbeda ketika datang dan ketika pulang dari shalat Id.” [29].

Ali radhiyallahu ‘anhu berkata;

مِنْ السُّنَّةِ أَنْ تَخْرُجَ إِلَى الْعِيدِ مَاشِيًا

“Berjalan kaki ke lapangan tempat shalat Id adalah merupakan sunah (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam).” [30]

Tata cara shalat Id

  • Bertakbir sebanyak tujuh kali di rakaat pertama selain takbiratulihram dan lima kali di rakaat kedua selain takbir peralihan (takbir intiqaal). Takbir-takbir tersebut diistilahkan dengan sebutan takbiiraat az-zawaaid (takbir-takbir tambahan). Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata;

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يُكَبِّرُ فِى الْفِطْرِ وَالأَضْحَى فِى الأُولَى سَبْعَ تَكْبِيرَاتٍ وَفِى الثَّانِيَةِ خَمْسًا

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertakbir pada rakaat pertama dari shalat Idulfitri dan Iduladha sebanyak tujuh kali, dan pada rakaat kedua sebanyak lima kali (yaitu sebelum membaca surah).” [31]

Hukum takbir tersebut adalah sunah. Barangsiapa meninggalkannya –baik sengaja atau tidak- maka tidak batal shalatnya.

  • Mengangkat tangan setiap kali takbir. Disebutkan dalam sebuah keterangan umum tentang shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat tangannya pada setiap kali takbir sebelum ruku, sebagaimana riwayat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma.

وَيَرْفَعُهُمَا فِى كُلِّ تَكْبِيرَةٍ يُكَبِّرُهَا قَبْلَ الرُّكُوعِ حَتَّى تَنْقَضِىَ صَلاَتُهُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya pada setiap kali takbir sebelum ruku hingga usai shalatnya.” [32]

Adapun keterangan khusus dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyebutkan adanya syariat mengangkat tangan pada takbir-takbir zawaaid atau tambahan tersebut (takbir tujuh kali dan lima kali), maka tidaklah ada. Namun demikian, Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma senantiasa melakukannya. Ibnu Qayyim rahimahullah berkata;

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ مَعَ تَحَرّيهِ لِلِاتّبَاعِ يَرْفَعُ يَدَيْهِ مَعَ كُلّ تَكْبِيرَة

“Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma adalah seorang yang terkenal sangat fokus untuk mengikuti segala perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan beliau senantiasa mengangkat kedua tangannya pada setiap kali takbir (pada saat shalat Id).” [33].

Malik bin Anas radhiyallahu ‘anhu berkata ketika ditanya, apakah seorang mengangkat tangan pada takbir-takbir zawaaid tersebut? Beliau berkata;

نعم ارفع يديك مع كل تكبيرة ولم أسمع فيه شيئا

“Ya, angkatlah kedua tanganmu pada setiap kali takbir itu, meski saya tidak mendengar satupun keterangan (khusus) tentang itu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”[34].

  • Mengucapkan takbir dan tahmid di sela-sela takbir Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata;

بين كل تكبيرتين حمدٌ لله عز وجل، وثناء على الله

“Hendaknya seorang membaca pujian dan sanjungan kepada Allah pada setiap interval dua takbir.” [35].

Dalam riwayat lain ada tambahan;

ويصلي على النبي صلى الله عليه وسلم

“Dan hendaklah pula ia berselawat atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” [36].

Barangsiapa tidak sempat melaksanakan shalat Id secara berjemaah, apakah ia mengqadanya atau tidak?[37].

Masalah ini diperselisihkan oleh para ulama, namun yang pasti bahwa tidak ada keterangan jelas dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkenaan dengan hal tersebut. Olehnya itu maka pendapat yang –kiranya- lebih tepat –wallahu a’lam- adalah pendapat yang menyatakan bahwa tidak ada qada bagi seorang yang tidak mendapati shalat Id. Beberapa alasannya adalah;

  • Karena tidak adanya dalil tegas dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyatakan kewajiban qada.
  • Karena ibadah shalat Id adalah ibadah yang disyariatkan dilakukan secara berjemaah. Olehnya, barangsiapa yang tidak lagi mendapati jemaah, maka gugurlah kewajibannya dan tidak wajib baginya mengqada.
  • Keadaan ini sama dengan seorang yang tidak mendapati shalat Jumat. Gugurlah kewajiban itu atasnya dan tidak ada kewajiban mengqadanya. Hanya saja ia tetap berkewajiban melaksanakan shalat Zuhur karena shalat itu adalah kewajiban bagi orang yang tidak melaksanakan shalat Jumat pada waktu itu. Adapun orang yang luput melaksanakan shalat Id, maka tidak ada kewajiban shalat atasnya karena pada waktu itu tidak ada jenis shalat yang wajib ia kerjakan melainkan shalat Id itu sendiri.

Selain pendapat ini, ada juga pendapat lainnya, diantaranya pendapat dari ‘Atha dan pandangan dari mazhab Syafi’i yang menyatakan bahwa disyariatkan baginya untuk mengqada shalat Id yang luput itu dengan melaksanakan shalat dua rakaat. Imam Bukhari rahimahullah mengangkat judul bab dalam sahihnya;

باب إذا فاته العيد يصلي ركعتين

“Bab, jika seorang tidak sempat shalat Id, maka hendaknya ia melaksanakan shalat sebanyak dua rakaat.”

Adapun bagi mereka yang ketinggalan serakaat dari pelaksanaan shalat Id, maka hendaklah ia menyempurnakan serakaat lagi sebagaimana shalatnya imam.

Khutbah shalat Id

Khutbah shalat Id dilaksanakan setelah shalat berdasarkan hadis Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma;

شَهِدْتُ الْعِيدَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ فَكُلُّهُمْ كَانُوا يُصَلُّونَ قَبْلَ الْخُطْبَةِ

“Saya telah menyaksikan Id bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar dan Utsman radhiyallahu ‘anhum; mereka semua melaksanakan shalat Id sebelum khutbah.” [38].

Khutbah dimulai dengan hamdalah sebagaimana sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ibnu Qayyim rahimahullah berkata;

وَكَانَ يَفْتَتِحُ خُطَبَهُ كُلّهَا بِالْحَمْدِ لِلّهِ وَلَمْ يُحْفَظْ عَنْهُ فِي حَدِيثٍ وَاحِدٍ أَنّهُ كَانَ يَفْتَتِحُ خُطْبَتَيْ الْعِيدَيْنِ بِالتّكْبِيرِ وَإِنّمَا رَوَى ابْنُ مَاجَهْ فِي ” سُنَنِهِ ” عَنْ سَعْدٍ الْقَرَظِ مُؤَذّنِ النّبِيّ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ أَنّهُ كَانَ يُكْثِرُ التّكْبِيرَ بَيْنَ أَضْعَافِ الْخُطْبَةِ وَيُكْثِرُ التّكْبِيرَ فِي خُطْبَتَيْ الْعِيدَيْنِ . وَهَذَا لَا يَدُلّ عَلَى أَنّهُ كَانَ يَفْتَتِحُهَا بِهِ . وَقَدْ اخْتَلَفَ النّاسُ فِي افْتِتَاحِ خُطْبَةِ الْعِيدَيْنِ وَالِاسْتِسْقَاءِ فَقِيلَ يُفْتَتَحَانِ بِالتّكْبِيرِ وَقِيلَ تُفْتَتَحُ خُطْبَةُ الِاسْتِسْقَاءِ بِالِاسْتِغْفَارِ وَقِيلَ يُفْتَتَحَانِ بِالْحَمْدِ . قَالَ الشَيْخُ [ ص 432 ] ابْنُ تَيْمِيّةَ : وَهُوَ الصّوَابُ لِأَنّ النّبِيّ صَلّى اللّه عَلَيْهِ وَسَلّمَ قَالَ كَلّ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لَا يُبْدَأُ فِيهِ بِحَمْدِ اللّهِ فَهُوَ أَجْذَمُ وَكَانَ يَفْتَتِحُ خُطَبَهُ كُلّهَا بِالْحَمْدِ لِلّهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa memulai setiap khutbahnya dengan mengucapkan alhamdulillah. Tidak satupun keterangan yang menyebutkan bahwa beliau memulai khutbah dua hari rayanya dengan mengucapkan takbir. Riwayat yang ada dari Ibnu Majah, dari Sa’ad al-Qarazh, salah seorang muazin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, hanyalah menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperbanyak takbir pada sela-sela khutbahnya pada dua hari raya. Dan riwayat ini –tentu- tidaklah menunjukkan bahwa beliau memulai khutbahnya tersebut dengan takbir. Secara umum, ada perbedaan pandang dikalangan ulama tentang lafaz pembuka khutbah dua hari raya dan shalat istiska (meminta hujan). Diantara mereka ada yang mengatakan bahwa khutbah shalat dua hari raya dan khutbah shalat istiska dibuka dengan lafaz takbir. Diantara mereka ada yang mengatakan bahwa khutbah shalat istiska dibuka dengan istigfar. Diantara mereka ada yang mengatakan bahwa khutbah kedua shalat tersebut dibuka dengan lafaz hamdalah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata; pedapat ketiga itulah yang benar karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan bahwa setiap persoalan penting yang tidak dimulai dengan hamdalah akanlah terputus berkahnya [39]. Olehnya beliau senantiasa memulai seluruh khutbahnya dengan mengucapkan lafaz hamdalah.” [40].

Khutbah shalat Id hanya terdiri dari satu khutbah saja dan bukan dua khutbah sebagaimana khutbah Jumat. Adapun riwayat dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan dua kali khutbah yang dipisah dengan duduk sesaat ketika usai shalat Id, maka riwayat itu adalah riwayat yang lemah karena di dalam sanadnya terdapat seorang rawi bernama Abdullah bin Syabib, yang merupakan perawi yang waahin (lemah) [41].

Ketika khutbah berlangsung, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberi keringanan, boleh tidak mengikutinya [42].

Memberi ucapan selamat pada hari Id

Jubair bin Nufail berkata;

كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اِلْتَقَوْا يَوْمَ الْعِيدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك

“Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika bertemu di hari Id biasanya saling mendoakan dengan mengucapkan “taqabbalallahu minna wa minka” (semoga Allah menerima segala amalan kami dan engkau di bulan Ramadan).” [43].

Waktu Id bertepatan dengan hari Jumat

Bila waktu Id bertepatan dengan hari Jumat, maka diberi keringanan bagi orang-orang yang telah menghadiri Id untuk tidak melaksanakan shalat Jumat, tetapi wajib bagi mereka yang tidak menghadirinya untuk melaksanakan shalat Zuhur. Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu pernah ditanya oleh Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu tentang perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika hari Id jatuh pada hari Jumat. Beliau berkata;

صَلَّى الْعِيدَ ثُمَّ رَخَّصَ فِى الْجُمُعَةِ فَقَالَ ؛ مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّىَ فَلْيُصَلِّ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat Id. Setelahnya beliau memberi keringanan bagi mereka berkenaan dengan shalat Jumat. Beliau berkata; siapa yang ingin melaksanakan shalat Jumat, maka silakan; (dan barangsiapa yang tidak ingin melaksanakannya, maka tidak mengapa).” [44].

Dalam riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

قَدِ اجْتَمَعَ فِى يَوْمِكُمْ هَذَا عِيدَانِ فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ

“Pada hari ini telah berkumpul bagi kalian dua buah hari raya. Maka barangsiapa ingin meninggalkan shalat Jumat, maka shalat Id telah mencukupinya. Namun sesungguhnya kami tetap melaksanakannya (shalat Jumat).” [45]

Atha’ bin Abi Rabah rahimahullah berkata;

صَلَّى بِنَا ابْنُ الزُّبَيْرِ فِى يَوْمِ عِيدٍ فِى يَوْمِ جُمُعَةٍ أَوَّلَ النَّهَارِ ثُمَّ رُحْنَا إِلَى الْجُمُعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْنَا فَصَلَّيْنَا وُحْدَانًا وَكَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ بِالطَّائِفِ فَلَمَّا قَدِمَ ذَكَرْنَا ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ أَصَابَ السُّنَّةَ

“Ibnu Zubair radhiyallahu ‘anhu pernah mengimami kami pada shalat Id di hari Jumat. Ketika tiba waktu Jumat, kami pun pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat Jumat, tetapi Ibnu Zubair tidak keluar mengimami kami. Karena itu kami pun melaksanakan shalat sendiri-sendiri. Saat itu, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma tengah berada di Tha’if. Maka ketika beliau tiba, kami pun mengadukan hal itu kepada beliau. Kemudian beliau berkata bahwa perbuatan Ibnu Zubair itu telah sesuai dengan sunah.” [46].

Keterangan ini sekaligus mengisyaratkan bahwa kewajiban melaksanakan shalat Zuhur ketika itu tidaklah gugur dengan gugurnya kewajiban melaksanakan shalat Jumat. Wallahu a’lam bi as-shawaab.

Dengan ini berakhirlah revisi dari risalah ini di hari-hari akhir Ramadan 1447 H, maka doa dan harapan kami kepada Rabb kami yang Maha Rahman dan Rahim …

أن يتقبل مني ومنكم صالح الأعمال و يجعلنا في زمرة من انسلخ منه رمضان وقد غفر له خطاياه إنه لعباده غفور رحيم حيي كريم . يستحي من عبده أن يرفع إليه يديه فيردهما صفرا وصلى الله على محمد وعلى آله بإحسان. والحمد لله رب العالمين

Scroll to Top

Kegiatan Perkuliahan
3 Maret 2026

Silakan menyimak lanjutan penjelasan mengenai “Dunia Islam di Masa Keemasan” melalui tautan YouTube ini.

Setelah menyimak materi tersebut, lakukan analisis dengan menjawab pertanyaan berikut:

  1. Apa saja faktor-faktor yang menjadi penyebab kebangkitan dunia Islam pada tiga masa keemasan tersebut?
  2. Apa saja faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran dunia Islam pada masing-masing masa tersebut?

Untuk mempertajam analisis, silakan membaca kembali materi perkuliahan sebelumnya sebagai bahan pendukung.

Tuliskan hasil analisis Anda pada kolom komentar YouTube dari video yang telah disimak!
Jangan lupa mencantumkan inisial nama di bagian akhir komentar.