Dakwah merupakan pilar penting dalam tersebarnya cahaya Islam. Namun, dakwah bukan sekadar aktivitas berbicara di depan umum; ia memiliki panduan, arah, dan tujuan yang sangat spesifik yang tidak boleh dilanggar.
1. Hukum Berdakwah Kepada Allah
Secara hukum, mengajak manusia kembali kepada jalan Allah adalah Wajib bagi setiap Muslim. Kewajiban ini bersifat proporsional, artinya disesuaikan dengan kapasitas ilmu, profesi, dan kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing individu.
2. Ghayatud Da’wah: Tujuan Utama
HANYA KEPADA ALLAH
Esensi dari dakwah yang selamat adalah memalingkan hati manusia dari makhluk menuju Sang Khalik. Mengajak umat untuk bertauhid dan menjadikan ketaatan murni hanya milik Allah semata.
3. Waspadai 3 Penyimpangan Dakwah
Seringkali, karena tipu daya setan dan penyakit hati, tujuan dakwah bergeser. Berikut adalah arah penyimpangan yang harus diwaspadai oleh setiap pendakwah:
Penyimpangan I: Kepada Diri Sendiri (إِلَيَّ)
Berupa dakwah yang ditujukan demi eksistensi dan kepentingan pribadi. Penyakit ini memunculkan dua bahaya besar:
- Asy-Syuhrah (Ketenaran): Hanya mengejar popularitas, followers, dan pujian.
- Taqdisul Asykhas (Pengkultusan Tokoh): Membuat jamaah menjadi fanatik buta kepada sosok pendakwah, seolah ia terbebas dari kesalahan.
Penyimpangan II: Kepada Golongan (إِلَيْنَا)
Dakwah yang bersifat Hizbiyah atau kelompok-sentris. Fokus utamanya bukan pada kebenaran Islam, melainkan:
- Al-Jama’ah, Al-Hizb, wal Mu’assasah: Mengajak orang untuk fanatik terhadap organisasi, partai, jamaah, atau sebuah yayasan, yang pada akhirnya memecah belah persaudaraan umat Islam.
Penyimpangan III: Kepada Kesesatan (إِلَيْهِمْ)
Ini adalah arah dakwah yang sangat menyesatkan, di mana seseorang justru memalingkan umat dari Allah untuk menuju kepada:
- Ath-Thaghut: Segala sesuatu yang disembah, ditaati, atau diikuti selain Allah ‘Azza wa Jalla.
Kesimpulan
Seorang Muslim yang mengambil jalan dakwah harus terus-menerus memperbarui niatnya. Pastikan setiap ilmu yang disebarkan murni bertujuan mengharap wajah Allah, bukan mencari panggung duniawi atau mengumpulkan massa untuk golongan tertentu.