Mari Perbaiki Ibadah Kita di Bulan Penuh Berkah
Ramadan adalah bulan penuh keutamaan dan kesempatan emas untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Namun, sangat disayangkan jika kesempatan ini terbuang sia-sia karena kekeliruan yang seharusnya bisa dihindari.
"Berapa banyak orang yang berpuasa (tapi) tak memperoleh apa-apa dari puasanya selain rasa lapar dan berapa banyak orang yang berdiri melaksanakan shalat di malam hari (tapi) tak memperoleh apa-apa melainkan (kantuk dan lelah) akibat begadang."
โ HR. Ahmad
Tindakan yang mengganggu ketertiban dan kenyamanan umum, terutama saat waktu istirahat dan pelaksanaan ibadah yang membutuhkan keheningan.
Anggapan bahwa puasa menurunkan produktivitas adalah keliru. Puasa justru melatih ketangguhan dan meningkatkan integritas karena kesadaran akan pengawasan Allah.
Berpuasa sebelum penetapan resmi sebagai "jaga-jaga" tidak dibenarkan. Puasa Ramadan harus dilandasi niat yang tegas dan yakin, bukan keraguan.
Kekeliruan fatal! Salat dan puasa adalah satu kesatuan rukun Islam. Melalaikan salat dapat menggugurkan status keimanan seseorang.
Menjadikan berbuka sebagai ajang "balas dendam" setelah lapar seharian bertentangan dengan esensi puasa sebagai latihan pengendalian diri.
Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan pandangan, lisan, dan perbuatan dari segala dosa dan kemaksiatan.
Terlalu sibuk makan sahur hingga melalaikan Subuh, salah kaprah tentang imsak, sahur terlalu awal, dan mengisi waktu sahur dengan hiburan tidak bermanfaat.
Ramadan seharusnya momentum reformasi diri. Sangat disayangkan jika penutupan aurat hanya dilakukan sementara selama Ramadan lalu dilepas setelah Lebaran.
Tidur sepanjang hari dari pagi hingga sore tidak proporsional dan bertentangan dengan semangat produktivitas dalam Islam.
Naif jika tarawih dijadikan ajang pamer, nongkrong tidak bermanfaat, atau mencari pasangan. Wanita juga tidak boleh ke masjid dengan wewangian menyengat.
Masjid penuh sesak di awal Ramadan, namun menyusut drastis di 10 hari terakhir. Banyak yang "hijrah" ke pusat perbelanjaan menjelang akhir Ramadan.
Pada 10 hari terakhir yang seharusnya untuk memburu Lailatul Qadar, banyak yang sibuk belanja baju baru dan membuat kue untuk hari raya.
Semoga pemaparan tentang kekeliruan-kekeliruan ini dapat menjadikan kita lebih mawas diri dan mampu memanfaatkan setiap detik di bulan mulia ini dengan sebaik-baiknya.
Jangan sampai Ramadan berlalu seperti fatamorgana; tampak menggiurkan dan penuh harapan, namun berakhir hampa tanpa bekas perbaikan diri.
Wallahul musta'an wahuwa waliyyu at taufiq
Setiap kali Ramadan tiba, sejuta harapan tentu terbesit dalam benak seorang mukmin. Salah satu harapan utama adalah keinginan menjadi pribadi yang lebih baik dibandingkan Ramadan sebelumnya, mengingat bulan ini memang menawarkan berbagai keutamaan.
Oleh karena itu, sungguh sangat disayangkan jika seseorang membuang kesempatan emas ini, menyia-nyiakannya, atau melakukan amalan yang justru mengurangi, bahkan menghapus pahala yang seharusnya ia raih.
Rasulullah shallallahu โalaihi wa sallam bersabda:
ููู ู ู ููู ุตูุงุฆูู ู ููููุณู ูููู ู ููู ุตูููุงู ููู ุฅููููุง ุงููุฌููุนู ููููู ู ู ููู ููุงุฆูู ู ููููุณู ูููู ู ููู ููููุงู ููู ุฅููููุง ุงูุณููููุฑู
โBerapa banyak orang yang berpuasa (tapi) tak memperoleh apa-apa dari puasanya selain rasa lapar dan berapa banyak orang yang berdiri melaksanakan shalat di malam hari (tapi) tak memperoleh apa-apa melainkan (kantuk dan lelah) akibat begadang.โย (HR. Ahmad, 15/428)
Kesia-siaan ini terjadi akibat perbuatan mereka sendiri yang menodai Ramadan dengan hal-hal yang tidak bermanfaat atau bahkan diharamkan, ibarat peribahasa “karena nila setitik, rusak susu sebelanga”.
Berikut adalah beberapa kesalahan umum yang sering dilakukan oleh sebagian kaum musliminโkhususnya di Indonesiaโpada bulan Ramadan:
Tindakan ini sering kali mengganggu ketertiban dan kenyamanan umum. Hal ini menjadi sangat tidak etis jika petasan diledakkan pada waktu istirahat atau saat pelaksanaan ibadah, di mana umat Islam membutuhkan keheningan untuk khusyuk dalam salat malam atau membaca Al-Qur’an.
Sering kali muncul perasaan malas atau tidak bergairah dalam menyambut bulan suci karena enggan menahan rasa lapar dan dahaga. Sebagian orang berasumsi bahwa puasa identik dengan waktu istirahat total dan penurunan produktivitas kerja.
Asumsi ini keliru. Puasa justru mendidik kita untuk lebih tangguh (survive), memiliki daya tahan kuat, serta meningkatkan integritas karena merasa diawasi oleh Allah (muraqabatullah) dalam setiap tindakan. Sejarah mencatat bahwa kemenangan-kemenangan besar (futuhaat) yang dilakukan Rasulullah dan para sahabat justru tercapai di tengah bulan Ramadan.
Sebagai contoh kecil, saat berwudhu, peluang untuk meminum air sangat terbuka dan mungkin tidak diketahui orang lain, namun hal itu tidak dilakukan karena adanya kesadaran akan pengawasan Allah. Tertanamnya rasa diawasi inilah yang merupakan salah satu kemenangan besar seorang muslim.
Berpuasa sebelum waktu yang ditetapkan pemerintah sebagai langkah “jaga-jaga” adalah tindakan yang tidak dibenarkan. Puasa Ramadan harus dilandasi niat yang tegas dan yakin, bukan keraguan.
Rasulullah shallallahu โalaihi wa sallam bersabda:
ููุง ููุชูููุฏููู ูููู ุฃูุญูุฏูููู ู ุฑูู ูุถูุงูู ุจูุตูููู ู ููููู ู ุฃููู ููููู ููููู ุฅููููุง ุฃููู ููููููู ุฑูุฌููู ููุงูู ููุตููู ู ุตูููู ููู ููููููุตูู ู ุฐููููู ุงููููููู ู
โJanganlah sekalipun seorang dari kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya, kecuali jika hari itu bertepatan dengan puasa sunnah yang telah dijalankannya secara rutin, maka tidak mengapa ia berpuasa ketika itu.โ (HR. Bukhari, 4/595)
Ini adalah kekeliruan fatal yang menjangkiti sebagian umat Islam. Mereka beranggapan Ramadan cukup dijalani dengan puasa saja tanpa mendirikan salat lima waktu. Padahal, salat dan puasa adalah satu kesatuan rukun Islam. Melalaikan salat dapat menggugurkan status keimanan seseorang.ย Rasulullah shallallahu โalaihi wa sallam menegaskan:
ุงููุนูููุฏู ุงูููุฐูู ุจูููููููุง ููุจูููููููู ู ุงูุตููููุงุฉู ููู ููู ุชูุฑูููููุง ููููุฏู ููููุฑ
โIkatan yang membedakan kami (kaum muslimin) dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Maka barangsiapa meninggalkannya, sungguh ia telah kafir.โ (HR. Ahmad, 38/20)
Kebiasaan ini mencerminkan sikap yang kurang dewasa dalam memaknai puasa. Sebagian orang menjadikan waktu berbuka sebagai ajang “balas dendam” setelah menahan lapar selama seharian. Perilaku ini bertentangan dengan esensi puasa sebagai latihan pengendalian diri. Jika berbuka puasa justru menjadi ajang pelampiasan nafsu makan, maka tujuan pengendalian diri tersebut gagal tercapai.
Puasa adalah latihan menahan diri, tidak hanya dari hal yang membatalkan puasa (makan, minum, hubungan suami istri) yang notabene halal di luar Ramadan, tetapi terlebih lagi dari hal-hal yang haram . Tujuan puasa adalah mencetak pribadi yang mampu menahan pandangan, lisan, dan perbuatan dari dosa.
Rasulullah shallallahu โalaihi wa sallam mengingatkan:
ู ููู ููู ู ููุฏูุนู ูููููู ุงูุฒูููุฑู ููุงููุนูู ููู ุจููู ููููููุณู ููููููู ุญูุงุฌูุฉู ุฃููู ููุฏูุนู ุทูุนูุงู ููู ููุดูุฑูุงุจูู
โBarang siapa yang belum mampu meninggalkan perkataan dosa (dusta, ghibah, namimah, dll.) dan perbuatan dosa, maka Allah tak membutuhkan puasanya (pahala puasanya tertolak).โย (HR. Abu Daud, 2/279)
Sering terjadi seseorang terlalu sibuk makan sahur hingga melalaikan salat Subuh, atau terlalu sibuk berbuka hingga melupakan salat Magrib.
Pola Makan Salah: Pola pikir “makan banyak agar kuat” sering membuat seseorang makan berlebihan hingga mengantuk dan malas beribadah.
Waktu Sahur: Banyak yang bersahur terlalu awal, sehingga rentang waktu menunggu Subuh menjadi lama dan digunakan untuk tidur kembali, yang akhirnya menyebabkan terlewatnya salat Subuh. Padahal, waktu terbaik sahur adalah di akhir waktu (menjelang fajar), sebagaimana dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
Cara Membangunkan Sahur: Tradisi membangunkan sahur dengan suara bising atau pengeras suara masjid yang berlebihan sering kali mengganggu ketenangan, terutama bagi orang sakit, bayi, atau mereka yang sedang khusyuk beribadah malam . Islam mengajarkan untuk tidak mengganggu kepentingan umum, dan Ramadan tidak seharusnya dijadikan alasan untuk membenarkan gangguan tersebut.
Hiburan TV: Sangat disayangkan bahwa waktu sahur yang mulia kini sering diisi dengan menonton tayangan hiburan yang kurang bermanfaat (lawak, gosip), padahal generasi terdahulu memanfaatkannya untuk membaca Al-Qur’an.
Salah Kaprah Imsak: Masih banyak yang menganggap waktu “imsak” sebagai batas akhir makan. Padahal, batas sesungguhnya adalah terbitnya fajar (waktu Subuh). Allah berfirman:
ูููููููุง ููุงุดูุฑูุจููุง ุญูุชููู ููุชูุจูููููู ููููู ู ุงููุฎูููุทู ุงููุฃูุจูููุถู ู ููู ุงููุฎูููุทู ุงููุฃูุณูููุฏู ู ููู ุงููููุฌูุฑ
โDan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.โ (QS. Al-Baqarah: 187).
Ramadan seharusnya menjadi momentum reformasi diri untuk menanggalkan kesombongan dan menerima syariat, termasuk kewajiban menutup aurat. Sangat disayangkan jika penutupan aurat hanya dilakukan sementara selama Ramadan, lalu dilepas kembali setelah Lebaran. Ini menunjukkan pemahaman agama yang parsial (setengah-setengah).
Fenomena ini sering didasari oleh hadis lemah (daif) yang berbunyi “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah”. Hadis ini tertolak baik dari sisi periwayatan maupun makna. Meskipun tidur bisa bernilai ibadah jika diniatkan untuk memulihkan tenaga demi ketaatan, namun tidur sepanjang hari dari pagi hingga sore tentu tidak proporsional dan bertentangan dengan semangat produktivitas dalam Islam .
Salat Tarawih adalah syiar Ramadan yang mulia, namun naif jika momen ini dimanfaatkan untuk tujuan yang salah, seperti ajang pamer, berkumpul-kumpul yang tidak bermanfaat (nongkrong), atau mencari pasangan .
Khusus bagi wanita, meskipun diperbolehkan ke masjid, rumah adalah tempat yang lebih utama . Izin ke masjid berlaku jika aman dari fitnah. Namun, jika tujuannya untuk memamerkan perhiasan, pakaian mewah, dan wewangian yang menyengat, maka hal tersebut dilarang keras. Rasulullah bahkan melarang wanita yang memakai parfum menyengat untuk ikut berjamaah.
Fenomena masjid yang penuh sesak hanya terjadi di awal Ramadan dan menyusut drastis pada 10 hari terakhir adalah hal yang memprihatinkan . Banyak jamaah beralih “hijrah” ke pusat perbelanjaan menjelang akhir Ramadan. Ini membuktikan bahwa pemahaman agama sebagian umat masih belum utuh (kaffah) .
Pada 10 hari terakhir Ramadan, yang seharusnya dimanfaatkan untuk memaksimalkan ibadah dan memburu Lailatul Qadar, banyak orang justru menyibukkan diri dengan belanja baju baru dan membuat kue untuk hari raya.
Semoga pemaparan mengenai kekeliruan-kekeliruan ini dapat menjadikan kita lebih mawas diri dan mampu memanfaatkan setiap detik di bulan mulia ini dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai Ramadan berlalu seperti fatamorgana; tampak menggiurkan dan penuh harapan, namun berakhir hampa tanpa bekas perbaikan diri.
Wallahul mustaโan wahuwa waliyyu at taufiq.
Silakan menyimak lanjutan penjelasan mengenai โDunia Islam di Masa Keemasanโ melalui tautanย YouTube ini.
Setelah menyimak materi tersebut, lakukan analisis dengan menjawab pertanyaan berikut:
Untuk mempertajam analisis, silakan membaca kembaliย materi perkuliahanย sebelumnyaย sebagai bahan pendukung.
Tuliskan hasil analisis Anda pada kolom komentar YouTube dari video yang telah disimak!
Jangan lupa mencantumkanย inisial namaย di bagian akhir komentar.