Akhlak dalam Islam adalah hal yang sangat urgen, bahkan merupakan inti dalam syariat yang mulia ini. Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
Membuktikan bahwa akhlak adalah asas dalam syariat ini dapat dilihat dari kelima rukun yang membangunnya. Muara akhir dari kelima rukun tersebut adalah membentuk generasi yang berakhlak mulia:
Rukun Islam ke-1: Syahadat
Tujuan pokok dari rukun ini adalah membentuk generasi yang berakhlak kepada Rabb-nya dan kepada Rasul-Nya, di mana akhlak kepada keduanya merupakan hal pokok dan syarat pertama diterimanya seluruh amal ibadah seorang hamba. Akhlak kepada Allah diwujudkan dengan tidak menyembah melainkan hanya kepada-Nya saja. Akhlak kepada Rasulullah diwujudkan dengan meneladani beliau dalam segenap aspek kehidupan.
Rukun Islam ke-2: Mendirikan Shalat
Tujuan dari syariat ini tertuang dalam firman Allah:
Rukun Islam ke-3: Mengeluarkan Zakat
Tujuan dari syariat ini adalah:
Rukun Islam ke-4: Berpuasa di Bulan Ramadhan
Tujuan utamanya adalah agar hamba meraih ketakwaan:
Rasulullah bersabda:
Rukun Islam ke-5: Berhaji ke Baitullah
Syariat ini juga melatih akhlak:
Kedudukan Akhlak dan Ilmu
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembinaan akhlak dalam Islam adalah prioritas utama. Akhlak yang mulia mencakup hubungan vertikal kepada Allah maupun horizontal kepada sesama makhluk. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam:
Allah Azza wa Jalla juga menjadikan Rasul-Nya berhias dengan akhlak yang sangat agung:
Ketika Aisyah Radhiyallahu ‘Anha ditanya tentang akhlak beliau, ia menjawab:
Resep utama agar akhlak menjadi baik adalah ilmu dan pemahaman terhadap syariat agama. Rasulullah bersabda:
Ilmu dan akhlak akan senantiasa berjalan beriringan; semakin mulia akhlak seseorang, maka semakin baik pula pemahamannya. Abdullah bin Mubarak rahimahullah berkata:
Adab Menuntut Ilmu
Untuk mendapatkan ilmu yang berkah, seorang penuntut ilmu wajib memperhatikan dan menjalankan beberapa adab berikut:
-
Memperbaiki Niat
Setiap amalan bergantung pada niatnya:
إِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى“Setiap orang itu akan mendapat ganjaran sesuai dengan niatnya.”(Hadis Riwayat Bukhari, 1/1)Menuntut ilmu harus diniatkan untuk mengangkat kebodohan dari diri sendiri dan orang lain. Dilarang mencari ilmu untuk membodohi orang lain, menyombongkan diri, atau sekadar mencari pujian manusia:
من طلب العلم ليماري به السفهاء أو ليباهي به العلماء أو ليصرف وجوه الناس إليه فهو في النار“Siapa yang mencari ilmu agama untuk membodohi orang-orang yang tidak berilmu, atau untuk mengangkat dirinya dihadapan para ulama, atau agar orang-orang berpaling dan memujinya; maka orang itu akan masuk ke dalam neraka.”(Hadis Riwayat Ibnu Majah, 1/93) -
Sabar dan Tidak Tergesa-gesa
Ilmu tidak didapatkan secara instan, melainkan melalui proses. Imam Az-Zuhri berkata:
من رام العلم جملة ذهب عنه جملة، ولكن الشيء بعد الشيء مع الأيام والليال“Barangsiapa yang berupaya memperoleh ilmu dalam kadar yang banyak dalam satu waktu, maka dalam sekejap akan lenyap pula darinya sejumlah ilmu yang telah didapatnya itu dalam waktu yang instan tersebut. Ilmu itu tidaklah didapatkan melainkan setelah melalui proses yang berjalan seiring pergantian siang dan malam.” -
Selektif dalam Mencari Teman
Teman sangat memengaruhi kehidupan seseorang. Rasulullah bersabda bahwa seseorang dinilai dari agama teman dekatnya, maka harus selektif memilih teman:
الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ“Seorang itu dapat dinilai dengan melihat temannya. Olehnya berlaku selektiflah dalam memilih teman.”(Hadis Riwayat Abu Daud, 4/407) -
Tidak Menunda-nunda Waktu
Waktu adalah nikmat berharga yang wajib disyukuri. Manfaatkanlah lima hal sebelum datangnya lima hal:
اغتنم خمسا قبل خمس شبابك قبل هرمك وصحتك قبل سقمك وغناك قبل فقرك وفراغك قبل شغلك وحياتك قبل موتك“Manfaatkanlah lima hal sebelum datangnya lima hal; masa muda sebelum datangnya masa tua, masa sehat sebelum sakit, masa kaya sebelum miskin, masa luang sebelum masa sibuk, dan masa hidup sebelum tiba kematian.”(Hadis Riwayat dalam Shahih At-Targhib) -
Menulis Ilmu yang Didapatkan
Menulis adalah tradisi yang telah terbangun dalam Islam. Ibnu Juraij menegaskan bahwa tiada yang mengikat ilmu itu sebaik tulisan:
أكتب فما قيد العلم بشيء مثل الكتاب“Tulislah, tiada yang mengikat ilmu itu sebaik tulisan.” -
Membaca dan Mengulang-ulang Bacaan
Perintah pertama yang turun kepada Rasulullah adalah “Iqra'” (bacalah):
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan… Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”(Al-Qur’an Surah Al-‘Alaq: 1-5)Kecakapan dan wawasan baru didapatkan dengan mengulang-ulang bacaan.
-
Bertakwa dan Mengamalkan Ilmu
Para ulama menyatakan:
مَنْ عَمِلَ بما عَلِم أورَثَه الله عِلْمَ ما لَمْ يَعْلَم“Barangsiapa mengamalkan ilmu yang diketahuinya, niscaya Allah akan mengajarinya ilmu yang belum diketahuinya.” -
Menjauhi Sikap Sombong dan Malu yang Negatif
Imam Mujahid berkata bahwa ilmu tidak akan didapatkan oleh orang yang pemalu (dalam kebenaran) maupun orang yang sombong:
لا يطلب العلم مستح ولا مستكبر“Ilmu tidak akan didapatkan oleh orang yang pemalu maupun orang yang sombong.” -
Menghormati Guru dan Memperhatikan Penjelasannya
Sebagaimana adab Malaikat Jibril ketika datang bertanya kepada Rasulullah dengan duduk sopan dan menempelkan lututnya:
فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْه“Maka ia menyandarkan kedua lututnya pada kedua lutut Rasulullah dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua pahanya.”(Hadis Riwayat Muslim) -
Tidak Menjadikan Buku Sebagai Satu-satunya Sandaran
Belajar agama secara autodidak tanpa bimbingan ulama sangat berpotensi jatuh pada penyimpangan. Imam Syafi’i memperingatkan bahwa siapa yang menuntut ilmu semata dari buku, ia akan melalaikan banyak hukum:
من تفقَّه من بطون الكتب ضيَّع الأحكام“Barangsiapa yang menuntut ilmu semata dari membaca buku, niscaya dia akan melalaikan banyak hukum.”